Mereka bilang SM-3T hanya ingin dapat biaya hidup.
Mereka bilang SM-3T hanya ingin jalan-jalan.
Mereka bilang SM-3T hanya ingin beasiswa PPG.
Mereka bilang SM-3T hanya ingin naik pesawat gratis.
Gadis mungil itu menjawab semua memang benar. Iming-iming itulah yang memacu semangatnya bergabung bersama keluarga besar SM-3T. Namun, tak dinyana, dia mendapat bonus bertuah.
Sekolah dengan bangunan darurat terbuat dari susunan bambu yang dijangkaunya dengan berjalan kaki selama dua jam setiap ke sekolah. Tajam kerikil mencetak tanda di kaki kecil tanpa alas anak didiknya. Orang-orang kebanyakan di sudut-sudut negeri yang tidak 3T hanya bisa menyaksikan lewat channel di TV berwarnanya. Tapi kini, Norma Pujiastuti berkesempatan melihat dan merasakan langsung keadaan di luar kebiasaan yang kita biasakan.
Sekolah Dasar Inpres Aekora di Desa Maurole Selatan Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende merupakan tempat bertugas yang dibonuskan padanya. Sekolah yang berada di perbukitan seakan membuat tangan mudah menggenggam awan.
Sekolah dasar yang berdiri sejak 1984 memiliki bangunan yang sudah tidak layak untuk disebut sekolah. Tembok lusuh , daun pintu tak utuh, dan lantai dari tanah menjadi tempat anak-anak mengambil langkah awal menuju impian masa depan setiap hari. Ruangan kelas bersekat bambu untuk menampung empat kelas. Kelas dari bambu beratap jerami dibangun secara darurat untuk melengkapi kekurangan dua kelas lainnya.
Gadis berkerudung ini ditugaskan menjadi wali kelas untuk mendampingi dua orang siswa di kelas VI. Dua anak laki-laki yang setiap hari diajarnya dengan buku seadanya. Pembelajaran yang selalu diselingi tawa riang membuatnya betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama siswa-siswanya.
Norma Pujiastuti, Peserta SM-3T SD I Aekora, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, NTT







