Saya ingin sedikit share tentang pengalaman menarik saya di daerah pengabdian. Saya ditugaskan di SMPN 2 Mook Manaar Bulatn, Kampung Gunung Rampah, kec.Mook Manaar Bulatn, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur. Selama kurang lebih 3 bulan saya di sini banyak sekali pengalaman baru yang saya dapat. Salah satunya, saya mempunyai seorang murid bernama Erdin Suprianto. Ia duduk dikelas 7A, kebetulan ia tinggal kelas. Bukan karena ia bodoh, tetapi menurut saya ia adalah siswa yang beruntung dapat menuntut ilmu lebih dalam, teman-temannya hanya dapat kesempatan duduk di kelas 7 selama satu tahun, ia bisa mendalami ilmunya dikelas yang sama selama 2 tahun. Umurnya 17 tahun, terdengar tua memang untuk jenjang SMP. Tetapi sekolah tempat saya ditugaskan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap anak-anak disini yang mau sekolah, tidak memandang umur. Saya tidak mengajar di kelas 7, tetapi saya sangat dekat dengan anak ini. Bahkan sudah saya anggap seperti anak sendiri. Tingkah polahnya di kelas memang saya tidak melihat secara langsung. Saya bisa dekat karena ia dititipkan oleh orang tuanya tinggal di mess bersama salah satu guru di sini, dengan maksud agar belajarnya lebih intens. Jadi saya hampir setiap hari berinteraksi dan sesekali bermain dan bercanda dengan dia. Karena saya juga tinggal di lingkup mess guru juga. Kenapa dengan dia? Awalnya saya tidak tahu apa-apa, tetapi guru-guru memang sering membicarakan anak ini. Sampai saya penasaran “yang mana sih yang namanya Erdin?” Dan setelah saya kenali dia, hmm.. dia anak pintar dan unik. Sering sekali saya membantu dia belajar. Dia sangat lugu, tidak banyak bicara dan pemalu. Yang membuat saya terkesan adalah, saya tidak mengajarinya matematika, IPA atau IPS. Melainkan mengajari MEMBACA. Mengenalkan dia huruf A sampai Z, kemudian mengejanya. Bukan berarti ia belum kenal huruf-huruf sebelumnya, karena saat ia duduk dibangku SD tentu sudah dibekali oleh guru-gurunya.
Tetapi memang harus diulang-ulang agar dia mengerti. Dia memang kurang dalam membaca, tetapi disisi lain ia sangat pandai matematika. Dia bisa secepat kilat saat dites lisan menghitung, mungkin kalkulator pun kalah. Hehe. Saya pikir anak ini spesial sekali, dan saya adalah orang pertama yang paling tidak terima kalau ada yang menganggapnya bodoh. Karena ia hanya kesulitan dalam membaca. Hobinya bermain ketapel, memancing dan memanjat pohon. Dia anak yang tangguh, ulet dan mandiri. Selama saya di sini saya bertekad untuk membantu menggali potensinya, tentu juga dibantu teman-teman guru yang tinggal di mess maupun guru-guru disekolah. Subhanallah, selama 3 bulan saya di sini saya melihat kemajuan yang begitu drastis. Sekarang dia sudah lumayan dalam membaca, walaupun belum begitu lancar. Dan dalam bersosialisasi, pertama kali saya lihat dia adalah sosok yang pendiam, terlihat minder dan tidak banyak teman. Tetapi sekarang dia sangat pemberani, percaya diri dan banyak sekali teman yang mengajaknya bermain. Sesekali saya bertanya tentang cita-citanya kelak, ia menjawab dengan polosnya “ingin membahagiakan orang tuanya”. Dalam hati saya amin kan, dan jutaan doa tercurah untuknya. Semoga ilmu yang saya amalkan senantiasa bermanfaat bagi anak-anak disini, sesuai simbol dijaket saya “maju bersama mencerdaskan Indonesia”. Bekerja dengan hati, mengabdi untuk negeri. (Eni Setiyaningsih S.Pd, Pend.Bahasa Inggris (Alumni IKIP PGRI Semarang) SM3T Unnes angkatan IV-penempatan Kutai Barat-Kaltim).







