Kuliah kehidupan di negeri perbatasan Indonesia
24 sks setiap hari
Anak – anak menjadi dosen pembimbingnya
Mengerjakan skripsi yang berjudul “investasi bagi anak negeri”
Untuk mengejar sebuah gelar pengajar tanpa tanda jasa
Ini kuliah saya yang sebenarnya.
Selembar ijazah cumlaude dan lulusan terbaik beberapa bulan yang lalu sudah menjadi sebuah tumpukan kertas di bawah meja kerja.
Tapi, jauh di ujung perbatasan negri saya belajar dari sekomunitas anak – anak.
1×24 jam, 7×1 minggu, selama satu tahun ke depan saya menjadi mahasiswa sebuah universitas pendidikan yang utuh dan tidak bercacat.
Dengan jajaran rektor dan dosen yang jujur dan tanpa kepentingan.
Saya, Nilam Pamularsih, seorang peserta SM-3T, dengan penempatan Sempayang, Malinau Barat, Kalimantan Utara.
Saya tinggal di sebuah rumah panggung kecil milik pemerintah desa, ditemani beberapa anak yang menjadi rektor dan dosen baru untuk kuliah kehidupan saya selama satu tahun ke depan.
Orang – orang dewasa di kampung ini sering menyebut mereka ini “anak nakal”. Tapi senakal itukah mereka ketika mereka senang berlari dan berteriak di dalam rumah ? ketika mereka belum bisa merapikan tempat tidur mereka saat bangun tidur ? saat mereka tidak bisa mencuci gelas dan piring mereka sampai bersih ? ketika mereka tidak bisa tidak meninggalkan noda di baju saat bermain di lapangan ? ketika dosen saymereka lebih senang menghabiskan sebagian besar waktu mereka belajar dengan lumpur dan debu daripada dengan buku – buku putih yang bersih ? ketika mereka selalu meninggalkan mainan berantakan di rumah dinas saya ? ketika mereka senang mengacak meja kerja saya ? ketika mereka saling menendang dan menjambak saat bertengkar dengan sesama temannya ? ketika mereka mengumpulkan rokok – rokok bekas dan menghisapnya diam – diam saat tidak ada orang dewasa di sekitarnya ? sejujurnya, dapatkah mereka itu disebut “anak nakal” sama seperti yang mereka orang dewasa itu sebut ?
Sudah lupakah orang – orang dewasa dengan masa kecil mereka ?
Malam pertama saya di desa ini, mereka, dosen – dosen baru saya ini membawa saya ke dalam sebuah mata kuliah “realitas” yang membawa nurani saya untuk berpikir keras menyelesaikan tugas yang tersisa. Anak pertama menceritakan pengalaman mereka saat mengintip sang ibunda tidur di kamar yang gelap dan bercanda dengan seorang laki-laki yang jelas bukan bapak mereka. Anak kedua menceritakan betapa binggungnya menemukan sebuah jawaban ketika ditanya keberadaan sang ibunda yang sejak lahir belum pernah ditemuinya. Anak ketiga menceritakan hari – hari mereka saat berhadapan dengan ciu dan rokok di rumahnya. Anak keempat menceritakan tentang pengalaman “jambak rambut” yang yang dilakukan oleh bapak kandungnya sampai menyisakan sebuah gumpalan rambut rontok dan isak tangis sepanjang malam. Anak kelima menceritakan tentang tendangan dan rotan yang diterima di tubuh mereka saat orang tua mereka kalah judi.
Tonjokan .. Tempeleng .. Rotan .. Tamparan .. Tendangan .. Jeweran .. dan Cubitan sudah menjadi bumbu penyedap cerita masa kecil anak – anak ini.
Nakalkah mereka ?
Nurani saya berkata tidak .. mereka tidak nakal .. sungguh .. mereka bukan nakal .. mereka sedang belajar mengartikan kehidupan di hadapan mereka ..
Saya berusaha menghabiskan 24 sks setiap hari untuk benar – benar bisa fokus kuliah dan mengerjakan tugas di tempat ini. Bagaimana saya bukan hanya jadi utusan pemerintah untuk mengajar di dalam kelas kayu 7 x 7 meter tapi menjadi obat bagi kekecewaan yang berujung dendam, dendam yang berujung kepahitan, kepahitan yang berujung sebutan “anak – anak nakal”.
Anak – anak nakal ini punya mimpi ..
Anak – anak nakal ini generasi negeri ..
Anak – anak nakal ini pewaris bumi pertiwi ..
Nilam Pamularsih
Penugasan Malinau Barat
LPTK Universitas Negeri Yokyakarta







