“Untuk sampai ke lokasi penugasan membutuhkan waktu yang cukup lama, lebih dari 9 jam dengan menggunakan oto kayu (Truck). Kalau musim hujan oto tidak dapat memasuki desa saya, jadi saya harus langgar (menyeberang) kali agar tiba di temat penugasan saya. Masyarakat sangat gembira dengan kehadiran saya di sini. Karena sekolah saya terbilang baru jadi masih sangat kekurangan guru untuk membimbing siswa. Antusias siswa untuk bersekolah sangat besar sekali, terlihat dari jarak yang begitu jauh, belum lagi ada yang harus melewati sungai untuk samapai di sekolah. Mereka sangat semangat mengikuti proses belajar terlebih ketika saya mengajar dengan sesuatu yang baru mereka dapatkan. Untuk sosial kemasyarakatan, kami berpartisipasi dengan masyarakat membantu mencari sumber air bersih. Selain itu, mengikuti berbagai acara atau kegiatan adat di desa saya…
Cludia Paramita Chindy (Bertugas di di SDI Praipajurung):
“Di sini semuanya pertama bagi saya, pertama angkat air, pertama tidak mandi selama seminggu karena di tempat saya kekurangan air. Di sini saya belajar banyak sekali, saya harus mandiri dan belajar untuk bersyukur dengan apa yang bisa saya nikmati dan miliki sekarang. Kemudian saya banyak belajar bahasa Sumba sedikit demi sedikit, karena penggunaan bahasa sumba di sini sangat kental sekali. Untuk kegiatan di sekolah, masih banyak siswa saya yang belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Jadi saya memberikan les sore dan bimbingan khusus bagi siswa yang masih bermasalah.”







