Halo Indonesia! Perkenalkan saya Raidatul Fannyda, Guru SM-3T yang bertugas di Kabupaten Belu (NTT). Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya selama mengajar di SMAN 2 Atambua tempat saya mengabdi. Saat saya menginjakkan kaki pertama kali di sekolah ini, semua mata tertuju kepada saya, mulai dari siswa, guru-guru, serta staf sekolah. Mereka menanti-nantikan pidato singkat saya, bertanya-tanya bagaimana kesan pertama saya datang ke sekolah ini. Saya tersenyum dan mereka pun menyambut senyuman saya. Ohhhhh bahagianya…….
Saya berkesempatan mengajar Biologi di kelas X. Meskipun ini bukanlah bidang keahlian saya, tetapi saya mencoba untuk mengemban amanah ini. Kebetulan ketika itu Guru Biologi mereka sedang cuti melahirkan dan tidak ada guru pengganti yang bisa mengajarkan Biologi. Akhirnya Bapak Kepala Sekolah mempercayakan amanah ini kepada saya. Saya senang bisa mengajar Biologi, apalagi mengajar siswa-siswa kelas X. Berkat mengajar Biologi, saya sudah menghafal 100 nama dan karakter siswa kelas X dalam waktu dua bulan. Alhamdulillah………..
Kesan saya selama mengajar siswa kelas X di antaranya, mereka sangat bersemangat belajar, mereka suka membalas senyuman saya (hhhmmmmmhh), mereka mudah dinasihati dan masih punya rasa untuk memperbaiki kesalahan yang mereka perbuat. Pernyataan dan pertanyaan yang sama selalu mereka sampaikan kepada saya,
“Ibu, terus sa mengajar kami di sini, sampai kami tamat”, kata mereka sambil sedikit berteriak
“Ibu, lagi berapa lama mengajar di sini? Ibu tidak usah pulang e……”, tanya mereka sambil merengek
“Ibu, nanti kalau su pulang ke Riau, jangan lupakan beta”, kata seorang anak sambil menghadang jalan saya untuk keluar dari ruang kelas.
“Aduh anak sayangeeeee……….. Ibu Guru masih lama tinggal di sini”, jawabku sambil tersenyum.
Setelah satu bulan mengajar, Aku baru tahu bahwa sekolah ini memiliki satu infokus yang tersimpan rapi di ruang Kepala Sekolah. Guru-guru di sekolah tidak pernah menggunakan infokus tersebut sebagai alat penunjang mengajar di kelas, hal itu masih tabu di kalangan mereka. Jangankan menggunakan infokus, menggunakan komputer atau laptop saja Guru-guru ini masih mengalami kesulitan. Hanya beberapa guru yang sudah mulai melek dengan teknologi. Aku beranikan diri meminta izin dengan Kepala Sekolah untuk meminjam infokus selama aku mengajar di sini. Alhamdulillah Aku mendapatkan respons yang baik dari Kepala Sekolah, beliau mengatakan bahwa Aku boleh menggunakan infokus kapan pun Aku mau demi lancarnya proses mengajar di kelas. Efek positifnya, guru-guru yang lain pun mulai tertarik untuk mengajar menggunakan infokus juga. Sejak saat itu, aku juga dikenal sebagai operator infokus sekolah. Hehehheh……..
Selain mengajar Biologi, saya juga mengajar Kimia di kelas XI IPA. Karakter siswa-siswa di kelas XI sedikit lebih parah daripada siswa kelas X, di antaranya motivasi belajar naik turun, paling anti diberi tugas atau pekerjaan rumah (tidak akan dikerjakan), bertingkah seenaknya, selalu menggoda guru, membuat keributan untuk mencari perhatian guru, dan sudah kebal dengan hukuman. Dari keadaan itu saya sudah bisa membaca tantangan yang akan saya hadapi. Saya putuskan untuk menggunakan metode yang bervariasi dan perlakuan lebih tegas untuk menghadapi mereka.
Saya harus menguras tenaga lebih jika berhadapan dengan siswa-siswa kelas XI. Harus lebih sabar, tidak mudah bosan, tidak mudah marah (saya selalu menghindari hal yang satu ini), dan berkeyakinan bahwa mereka bisa berubah menjadi lebih baik lagi suatu hari nanti. Aminnnnn! Saya juga tidak lupa meminta nasihat dari guru-guru senior yang terlebih dahulu mengajar di kelas XI.
Cara mengajar saya di kelas XI lebih seperti membimbing praktikan di laboratorium. Saya memanfaatkan pengalaman saya sebagai asisten dosen (ketika kuliah dulu) untuk mengajar siswa-siswa ini. Setiap pertemuan saya berlakukan pre dan post test untuk melihat pemahaman siswa baik sebelum dan sesudah belajar. Di setiap pertemuan mereka selalu protes dengan kedua tes ini. Protes pertama, mereka mengatakan bahwa mereka belum sempat belajar dan menyimak semua materi yang telah diajarkan. Solusi pertama saya, saya hanya mengadakan post test saja, tentunya dengan jumlah soal yang kurang atau sama dengan lima dan benar-benar sesuai dengan materi yang telah dipelajari pada hari itu juga. Protes kedua, mereka tidak mau merobek kertas terus-terusan yang akan mengakibatkan buku mereka menjadi tipis. Oke, protes yang ini saya terima dan solusinya saya memberikan mereka selembar kertas secara cuma-cuma setiap mereka post test maupun ulangan. Masalah selesai. Ternyata masih ada protes ketiga (ini siswa benar-benar tidak ada niat untuk sekolah), ‘tidak ada pena, Bu!’. Lagi-lagi saya harus berkorban, saya pinjamkan semua alat tulis yang saya punya, dengan begitu mereka bisa menulis.
Masalah, protes, dan penolakan belajar selalu mereka sampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung. ‘Anak-anak yang baik’ always make me think hard. Saya tetap bertahan dengan melakukan evaluasi di setiap pertemuan. Saya tebarkan senyum terindah ketika seharusnya saya marah kepada mereka, saya pompa terus motivasi mereka, dan yang akhir-akhir ini sering saya gunakan adalah memberikan mereka video-video motivasi sebelum atau di tengah (jika mereka mulai jenuh) atau di akhir pelajaran (hadiah setelah post test).
Waktu terus berlalu dan semester baru pun menghampiri kami segenap warga sekolah. Saat liburan tiba, waktu dua minggu itu sudah terlalu lama rasanya bagi saya tidak menginjakkan kaki di sekolah dan bertemu kembali dengan siswa-siswa Saya. Ketika masuk sekolah kembali, Saya temukan wajah-wajah cerah mereka, dengan suasana tahun dan penampilan baru. Senyuman merekalah yang paling Saya rindukan di antara semuanya. Tahukah kau apa yang paling mereka ingat?
“Ibu tidak berubah, selalu siap dengan berlembar-lembar kertas dan soal-soal test, haaaaaaaa!!!!!”, teriak mereka.
Sekarang mereka sudah terbiasa dengan cara mengajar saya. Mereka tidak berani lagi membuang-buang waktu mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak penting selain memperhatikan materi yang saya ajarkan. Mereka sudah tahu banyaknya soal yang dites, waktu yang diperlukan untuk menyerap, menghafal, dan menjawab soal, serta tidak lupa meminta imbalan sedikit istirahat atau waktu untuk belajar sebelum atau setelah tes dimulai.
Saya tahu perubahan tidak akan datang seketika, siswa-siswa itu akan berubah secara bertahap. Lambat laun mereka menerima dan sudah membiasakan diri dengan cara saya. Saya sampaikan kepada mereka bahwa, belajar dengan Ibu harus sering-sering olahraga otak dan tangan, di sini tidak perlu banyak mulut (buat keributan), cukup hatimu yang tahu semua perubahan dan pembiasaan yang terjadi, sehingga tidak perlu ditegur pun kau akan sadar diri







