Sebagai peserta SM-3T, kami peserta dan saya khususnya, tidak hanya berusaha bagaimana bisa melaksanakan tugas dan memberikan perubahan yang lebih baik di daerah sasaran, tetapi juga bagaimana saya bisa menikmati kehidupan saya satu tahun ke depan dengan perasaan nyaman, tenang, dan senang. karena suasana hati akan mempengaruhi apa yang kita kerjakan. Di Kampung Laingpatehi, Pulau Ruang, Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, selama kurang lebih dua
belas bulan saya akan menjadi bagian dari warga masyarakat di sini. Tidak akan mudah memang menjadi pendatang di tempat yang kondisinya disebut 3T, apalagi saya sebagai muslim yang notabene selain anak SM-3T tidak ada lagi umat muslim di kampung ini.
Waktu berjalan cepat dan tidak akan pernah berjalan mundur. Susah atau senangnya hidup saya yakin tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Dengan waktu yang singkat ini saya ingin menikmati hal yang mungkin dianggap ‘sulit’ oleh sebagian orang. Bagi saya ini adalah bagian dari perjalanan hidup menuju tercapainya sebuah mimpi indah.
Baru beberapa hari, begitu banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Siapa sangka saya bisa berada di tempat ini, berada dalam kondisi yang bahkan untuk membayangkannya pun saya tak sampai. Anjing berkeliaran dimana-mana, suara babi terdengar siang malam, dan… tentu tidak ada suara adzan. Sore hari di Kampung Laingpatehi, saya bisa melihat rombongan lumba-lumba di habitat aslinya, dan percayalah…jauh lebih indah daripada di tempat sirkus. Ketika rindu pada keluarga, sahabat, dan kampung halaman datang, saya bisa menikmati hembusan angin dan suara ombak di tepi pantai, ditambah dengan romantisnya sunset yang membuat hati begitu tenang. Alay? Bukan, kalian akan mengatakan hal yang sama saat berada di tempat ini. Sejauh mata memandang terlihat laut. Makan ikan segar, dan untuk pertama kali menikmati olahan hiu, Mandi air asin setiap hari, melihat masakan daging babi dan daging anjing, semua menjadi bagian dari keseharian saya sebagai warga Kampung Laingpatehi.
Di sini saya tinggal bersama dengan Keluarga Tatemba. Aku panggil orang tua asuh ku dengan sebutan Mami dan Papi. Mereka berdua begitu hangat, selalu ceria, dan membuatku begitu nyaman. Selagi saya masih di rumah mereka tidak akan makan sebelum saya datang, Papi selalu mencuri-curi waktu untuk mengajakku jalan-jalan karena Mami tidak akan mudah memberiku ijin pergi tanpa dia, bukan apa-apa Mami hanya terlalu khawatir. Keluarga ini sangat manis. Mami dan Papi begitu romantis, bermain gitar dan menyanyi bersama. Mami ingin kami bertiga bisa bernyayi bersama dalam suatu acara. Ya mungkin, kalau suaraku sudah lebih baik, hehehe. Kami sering melewatkan waktu bertiga, karena anak-anak Tatemba tidak selalu tinggal di rumah. Mami dan Papi tahu bagaimana khawatirnya orang tua saat anaknya tidak ada di rumah, untuk itu mereka menjaga ku dengan sangat baik agar orang tuaku tidak khawatir.
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”, toleransi agama di kampung ini tinggi sekali. Mami berhenti memelihara babi sejak ada anak SM-3T tinggal di rumahnya. Mami dan Papi selalu mengingatkanku untuk sholat. Pernah suatu pagi Papi melihatku sedang mengambil air wudhu, siang harinya Papi tersenyum di depanku sambil menyembunyikan sesuatu di belakakng tubuhnya, ternyata Papi membuatkan pancuran air untuk wudhu dari galon air minum yang dia buat dengan antik. Saya hampir menangis haru.
Setiap harinya di sini penuh dengan kejutan, pengalaman baru, dan hal-hal manis yang ingin sekali saya bagikan. Kapan lagi? Iya, pertanyaan itu yang membuat saya benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja tanpa makna. Beruntung saya menjadi bagian dari peserta SM-3T angkatan keempat LPTK UM tahun 2014. Banyak cerita dibalik keberadaan saya di waktu sekarang ini, tapi semua adalah jalan yang harus dilewati sampai akhirnya jalan inilah yang saya pilih. Ini hanya sebagian kecil dari apa yang telah Tuhan siapkan untuk saya. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Saya ingin semua tahu, disini sangat indah, membahagiakan, dan membanggakan.
Nikmati setiap kesempatan yang diberikan Tuhan, mungkin kesempatan itu tidak akan sama bentuknya, tapi pasti sama indahnya jika kita bisa menikmati dengan baik. “terkadang kita harus mau dipandang menentang Tuhan, bahkan ketika kita sedang memperjuangkan firman-Nya”
Laingpatehi, penghujung tahun 2014, Oleh Peserta SM-3T Elone Asiani, Kabupaten Kep. Sitaro, LPTK UM







