Sebagai koordinator program SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) Unesa (Universitas Negeri Surabaya), penulis merasa bersyukur mendapatkan kesempatan yang bisa jadi langka. Kesempatan mengunjungi daerah-daerah yang di era teknologi komunikasi dan informasi saat ini jarang muncul di jagad informasi nasional. Kesempatan yang membuka mata bahwa ternyata di usia negeri… yang sudah lebih dari setengah abad ini masih ada daerah-daerah yang nyaris tidak tersentuh kemajuan.
Mengunjungi daerah-daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang menjadi lokasi pengabdian SM-3T seakan berkunjung ke bagian ujung negeri. Bukan saja karena lokasinya yang jauh dari pusat pemerintahan, namun juga perkembangan hampir seluruh aspek kehidupan yang jauh berbeda dengan kondisi dan pusat pemerintahan. Penulis datang bersama guru-guru muda yang belum lama menyelesaikan pendidikan sarjananya untuk berbagi ilmu, pengetahuan, dan wawasan bagi anak-anak di ujung negeri yang sangat haus akan pendidikan. Dari pemikiran itulah penulis dengan rendah hati memberanikan diri memberi judul buku ini ‘’Berbagi di Ujung Negeri’’.
Buku ini berisi tulisan-tulisan penulis ketika mengunjungi daerah-daerah tersebut. Awalnya sekadar sebuah catatan harian. Catatan harian yang kemudian tersebar lewat forum mailing-list alumni Unesa, keluargaunesa@yahoogroups.com dan laman pribadi penulis di www.luthfiyah.com. Mengacu pada judul buku, makna ‘’berbagi’’ bukan hanya berbagi dengan anak-anak negeri, namun di sisi lain juga berbagi pengalaman, cerita perjalanan, dan mungkin juga perasaan kepada siapa yang saja berkenan membacanya.
Tidak ada tujuan lain, penulis sekadar ingin berbagi cerita dan pengalaman ketika mengunjungi Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Aceh Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam), Talaud (Sulawesi Utara), Maluku Barat Daya (Maluku), serta dua kabupaten di Provinsi Papua; Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah. Sumba Timur adalah satu-satunya daerah penempatan SM-3T angkatan pertama. Tiga daerah berikutnya adalah tambahan untuk angkatan kedua, serta dua daerah terakhir tambahan untuk angkatan ketiga.
Sebagai catata harian, tulisan-tulisan di buku ini bukanlah sesuatua yang istimewa. Sekadar tulisan sederhana yang berkisah tentang sesuatu yang ‘happy-happy’, tentang makanan khas daerah yang dikunjungi, tentang adat kebiasaan, atau sekadar tentang rute perjalanan. Kalau ada kisah yang mampu menguras emosi, mungkin tidak terlalu banyak. Namun fakta bahwa ada bagian dari NKRI ini yang begitu memprihatinkan kondisinya, terutama dalam bidang pendidikan, akan lebih membuka fikiran dan hati kita semua untuk lebih peduli, lebih menyadari, dan kemudian lebih terdorong untuk ikut berperan serta dalam percepatan pembangunan di daerah-daerah tersebut. Selalu ada yang bisa kita lakukan, asal ada niat tulus, untuk memberikan sumbangan bagi upaya mencerdaskan anak-anak bangsa.
Buku ini, merupakan upaya kecil penulis untuk mengabadikan setiap momen yang mungkin tidak semua layak untuk dibagikan. Meski begitu, sebagaimana dorongan yang selalu penulis berikan pada para peserta SM-3T dan juga pada semua mahasiswa, “menulislah, dan kalian akan meninggalkan warisan.” Cerita akan cepat menguap tanpa ditulis; ide, fikiran, opini, hanya akan menjadi angin lalu tanpa diabadikan. Petuah-petuah dan nasehat, bak debu yang diterbangkan angin tanpa disimpan. Tulisan, akan mengabadikan dan menyimpan semuanya. Menjadi warisan bagi generasi berikutnya dan berikutnya.
Sebagian besar tulisan di buku ini berkisah tentang berat dan penuh risikonya perjalanan yang ditempuh. Ketika menempuh perjalanan tersebut, penulis merasa jauh dari keinginan untuk menaklukkan tantangan kondisi alam yang tersaji. Sebaliknya, yang sedang terjadi adalah menaklukkan rasa takut yang ada dalam diri penulis sendiri. Allah SWT memberi kesempatan kepada penulis untuk melihat dunia yang luas ini, mempelajari keragamannya, mencintai keindahannya, mengagumi budayanya, dan menebarkan hal-hal baik bernama persaudaraan dan semangat berbagi.
Para peserta SM-3T adalah anak-anak muda yang tengah belajar untuk peduli dan membangun ke-Indonesiaannya. Penulis hanya ingin mereka yakin, tidak perlu ada keraguan untuk melakukan hal-hal baik dan bermanfaat, tidak perlu ada ketakutan untuk berbagi dan menebarkan kemuliaan di tanah mana pun di negeri ini. Meskipun demi itu semua, perjalanan panjang dan medan berat penuh risiko harus ditempuh.
Hal-hal seperti itulah yang ingin penulis bagi kepada siapa yang saja yang berkenan membaca buku sederhana ini. Karena, seperti terungkap di awal, tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi daerah-daerah dengan kondisi seperti itu. Daerah-daerah yang menjadi ujung negeri, bukan saja karena letaknya yang jauh dari pusat pemerintahan, namun juga jauh berbeda dengan daerah-daerah lain yang sudah maju di negeri ini.
Bukan sebuah kebetulan jika penulis mendapat kesempatan yang tergolong langka ini. Berawal dari tugas dari Rektor Unesa Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd, kepada penulis dan beberapa kolega sebagai tim Pengembang Pendidikan Profesi Guru (PPG) Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
Perkembangan berikutnya, sejak 2010, penulis ditugasi rektor untuk menjadi koordinator PPG Unesa. Setahun kemudian, dikti meluncurkan program SM-3T yang masih berkaitan dengan PPG. Seperti rangkaian yang tidak terputus, penulis mendapat tugas untuk menjadi Koordinator Program SM-3T Unesa. Sebuah program yang merupakan salah satu perwujudan Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI).
Sasaran program tersebut adalah Sarjana Pendidikan yang belum bertugas sebagai guru, untuk ditugaskan selama satu tahun pada daerah 3T. Salah satu misi program tersebut adalah membantu mengatasi kekurangan guru di daerah 3T, sekaligus mempersiapkan calon guru profesional yang tangguh, mandiri, dan memiliki sikap peduli terhadap sesama, serta memiliki jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa. Muaranya adalah membawa anak-anak di ujung negeri itu maju bersama mencapai cita-cita luhur seperti yang diamanahkan para pendiri bangsa Indonesia.
Daerah-daerah 3T yang secara administratif maupuan realitasnya masih berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih memiliki berbagai permasalahan dalam peyelenggaraan pendidikan. Terutama pada daerah yang tergolong terdepan, terluar, dan tertinggal (daerah 3T). Beberapa permasalahan terkait SDM pendidiknya antara lain kekurangan jumlah (shortage), distribusi tidak seimbang (unbalanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competencies), serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang diampu (mismatched). Permasalahan lainnya adalah angka putus sekolah yang juga masih relatif tinggi yang memperparah rendahnya angka partisipasi sekolah.
Oleh sebab itu, peningkatan mutu pendidikan di daerah 3T perlu dikelola secara khusus dan sungguh-sungguh, agar daerah 3T dapat maju bersama sejajar dengan daerah lain. Hal ini harus menjadi perhatian khusus berbagai pihak, termasuk Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud). Mengingat daerah 3T memiliki peran strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan NKRI.
Saat ini (ketika buku ini disusun), Program SM-3T sudah menginjak tahun ketiga. Sejak diluncurkan 2011, program ini menjadi salah satu program unggulan Kemdikbud. Ada 12 Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang ditunjuk Dikti sebagai penyelenggaranya, salah satunya adalah Unesa. Sejak tahun kedua, LPTK penyelenggara meningkat menjadi 17. Kuota yang disediakan pemerintah adalah untuk 3000 peserta setiap tahun. Para peserta diseleksi dengan ketat melalui berbagai tahapan, mulai dari seleksi administrasi, tes potensi akademik, tes bidang studi, tes wawancara, dan tahap prakondisi.
Tahun pertama, 2011, SM-3T Unesa mengirimkan 241 peserta ke Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama setahun para peserta SM-3T ini mengabdikan dirinya di Tanah Marapu tersebut. Mereka tersebar di 20 kecamatan dari 21 kecamatan yang ada di wilayah Sumba Timur. Meski pada awalnya begitu banyak kendala, terutama karena masalah perbedaan kultur dan agama, hampir semua para peserta dapat menyelesaikan masa pengabdiannya dengan baik.
Sebagai ‘reward’ dari proses yang telah mereka lalui tersebut, saat ini, mereka sedang menempuh Pendidikan profesi Guru (PPG). Bahkan mereka yang dari program studi PGSD dan PAUD, saat ini telah menyelesaikan pendidikan tersebut, dan segera mengantongi sertifikat pendidik profesional.
Beberapa tulisan tentang pelaksanaan SM-3T angkatan pertama telah tertuang dalam buku berjudul “Jejak-Jejak Penuh Kesan”. Buku itu terbit akhir 2012. Bukan merupakan buku khusus tentang SM-3T, namun berupa kumpulan tulisan pengalaman penulis dalam berbagai kegiatan, termasuk juga pikiran-pikiran penulis tentang pendidikan. Buku yang diterbitkan nyaris tanpa persiapan. Sekedar menghimpun tulisan-tulisan yang sudah penulis unggah di laman pribadi penulis. Ide untuk menerbitkannya didorong keinginan spontan penulis untuk memberikan kejutan sebagai kado pada pernikahan emas bapak dan ibu penulis.
Pada angkatan kedua ( tahun 2012), SM-3T Unesa memiliki 4 wilayah penugasan, meliputi Sumba Timur, Maluku Barat Daya (MBD), Talaud, dan Aceh Singkil. Sebanyak 178 peserta disebar ke empat daerah 3T tersebut. Rinciannya, 73 orang di Sumba Timur, 33 orang di MBD, 30 orang di Talaud, dan 42 orang di Aceh Singkil. Saat buku ini disusun (pertengahan September 2013), ke-178 peserta itu sedang dalam perjalanan pulang, kembali dari tempat tugasnya masing-masing, hampir bersamaan dengan pengiriman peserta angkatan ketiga (tahun 2013).
Penulis berharap buku sederhana ini, merupakan sebuah bentuk sumbangan kecil penulis untuk dunia pendidikan. Persembahan kecil untuk Indonesia tercinta.
Di angkasa, menuju Jayapura
Jumat, 13 September 2013
Penulis
Prof. Luthfiyah Nurlaela







