“Berbagi, bergerak, membangun, menguatkan pendidikan karakter yang cerdas, berakhlak mulia serta meningkatkan motivasi dan potensi peserta didik” merupakan tema dalam kegiatan Mengedukasi Anak Negeri (MeAN) yang dilaksanakan oleh Guru Garis Depan (GGD) di Kampung Yenbeser, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, pada 14-15 September 2018.
Kegiatan MeAN di Kampung Yenbeser dibuka oleh Metusaleh Warorowai selaku kepala sekolah SMPN Persiapan Yenbeser. “Walau berada di tempat yang cukup jauh dengan sarana dan prasana yang kurang memadai, namun semangat belajar kalian harus terus menyala. Jangan mudah putus asa dan jangan membandingkan diri dengan orang lain tapi jadikanlah itu sebagai motivasi. Jadilah diri sendiri untuk meraih masa depan yang gemilang” Pesan beliau kepada peserta didik dalam sambutannya.

Derek Dimara selaku komite sekolah menyampaikan agar kegiatan ini harus diikuti dengan baik oleh peserta didik, sebab para Guru Garis Depan telah datang dari tempat yang jauh untuk menemui mereka. Hal senada juga disampaikan oleh Almedo selaku ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) yang mengharapkan agar kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun. Sebab menurutnya masyarakat Kampung Yenbeser sangat terbuka terhadap program-program yang membantu untuk meningkatkan pendidikan anak-anak di kampungnya.
Candra Arif, S. Pd., Gr., selaku panitia pelaksana mengucapkan terima kasih kepada masyarakat setempat karena tim MeAN sudah diterima di kampung Yenbeser. Pelaksanaan kegiatan MeAN ditujukan kepada peserta didik melalui kegiatan-kegiatan seperti pendidikan karakter, sarasehan literasi, olahraga, dan pemutaran film edukasi.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi pendidikan karakter yang bertujuan untuk menanamkan nilai religius, nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong royong yang merupakan kristalisasi nilai karakter. Melalui pendidikan karakter ini, diharapkan mampu melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja, namun juga memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Materi ini disampaikan oleh Yunita Labuha, S. Pd., Gr.
Kegiatan Sarasehan Literasi disampaikan oleh Candra Arif, S. Pd,. Gr., kepada para peserta yang terdiri dari peserta didik SD dan SMP. Beliau menyampaikan tentang jenis, fungsi, dan manfaat literasi utamanya tentang budaya literasi sekolah terutama membaca dan berhitung. Dalam sesi ini, Candra Arif, S. Pd ,. Gr., memutar video gerakan literasi yang sudah dilakukan di tempat tugasnya serta memberikan kesempatan untuk peserta memberikan pertanyaan seputar materi. Di sela-sela materi beliau memberikan beberapa permainan untuk menciptakan suasana yang lebih menarik dan kreatif, serta menguji konsentrasi dan kerja sama kelompok. Antusias para peserta didik luar biasa, terlihat dari senyum dan tawa peserta didik. Kegembiraan mereka dapat menyinari hati di tengah cuaca yang mendung pada saat kegiatan berlangsung.

Malam harinya pada pukul 20.00 WIT diadakan kegiatan pemutaran film edukasi yang dibuka oleh Kepala SMPN Persiapan Yenbeser bersama para Guru Garis Depan. Film yang disajikan adalah “Denias senandung diatas awan”. Setelah pemutaran film berakhir, kepala sekolah menjelaskan makna dari film tersebut bahwa sekolah itu sangat penting. Film ini berdasarkan kisah nyata perjuangan seorang anak demi sekolah meski dipenuhi beragam kesulitan seperti kurangnya finansial (ekonomi), konflik dalam keluarga semenjak ibunya meninggal dunia, tidak ada tenaga pendidik yang satu persatu menghilang dari daerahnya, berbeda marga atau suku asal, bahkan sarana kelas yang tidak layak untuk tempat mencari ilmu. Namun semua kendala itu teratasi satu per satu dengan tekad semangat kemauan yang timbul dari diri serta pesan yang sangat baik dari almarhum ibunya agar tetap sekolah. Dan akhirnya Albert Fakdawer bisa bersekolah dan sampai bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri. Kegiatan pemutaran film edukasi ini berakhir pada pukul 23.00 WIT.

Mengawali pagi di hari kedua pelaksanaan MeAN Raja Ampat, dilaksanakan kegiatan olah raga bersama peserta didik pada pukul 07.00 WIT. Diawali dengan pemanasan yang dipandu oleh Akhmad Syaifudin, S. Pd., Gr. Selanjutnya para peserta didik melaksanakan kegiatan senam yang dipimpin oleh salah satu peserta didik, Geoafni Makusi. Senam dipadukan dengan tarian Yospan yang juga adalah budaya lokal daerah.
Setelah beristirahat sejenak, kegiatan dilanjutkan lagi pada pukul 10.00 WIT dengan penyerahan donasi seragam buku dari GGD Raja Ampat kepada kepala sekolah SMPN Persiapan Yenbeser sekaligus menandai berakhirnya serangkaian kegiatan MeAN yang dilaksanakan selama dua hari.

Ucapan terimakasih disampaikan oleh kepala sekolah karena sudah melakukan kegiatan yang sangat positif di SMPN Persiapan Yenbeser. “Terima kasih atas bantuan dan perhatian Guru Gari Depan (GGD) Kabupaten Raja Ampat kepada peserta didik kami di sini. Semoga bantuan tersebut bisa kami gunakan sebaik-baiknya”, ungkap beliau penuh haru.
Donasi buku dan seragam sekolah juga diberikan kepada SD YPK Marthen Luther Yenbeser. Simanjuntak, S. Pd., selaku kepala sekolah berharap semoga apa yang diberikan akan bermanfaat dan berguna bagi perkembangan pendidikan di daerah kampung Yenbeser. Setelah menyalurkan donasi tersebut, tim MeAN GGD Kabupaten Raja Ampat berpamitan kepada guru-guru SD dan SMP serta warga kampung Yenbeser.

Setelah kegiatan di Kampung Yenbeser, Distrik Waigeo Selatan usai. Kamis, 20 September 2018 bertempat di SMK Negeri 2 Raja Ampat, Pukul 10.00 WIT kegiatan Seminar Pendidikan Penguatan Karakter dalam rangkaian Mengedukasi Anak Negeri (MeAN) GGD Raja Ampat dimulai dengan alunan lagu Indonesia Raya dan Tanah Papua yang dipandu oleh Yunita Labuha, S. Pd., Gr., dan dinyanyikan bersama oleh peserta didik, Guru Garis Depan (GGD) dan kepala SMKN 2 Raja Ampat yang berada dalam ruangan kegiatan tersebut.

Sambutan disampaikan oleh Hasan Makasar selaku kepala sekolah. Dalam sambutannya, sosok kepala sekolah yang pernah menjadi salah satu Guru Berprestasi Tingkat Nasional dan mewakili Indonesia ke Australia dan Amerika ini, mengatakan bahwa kegiatan Mengedukasi Anak Negeri ini memiliki makna yang sangat mendalam, berat, penuh tanggung jawab, penuh resiko, dan penuh perjuangan. Hal demikian dikatakannya karena beliau pernah bertugas di daerah 3T sebelum akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah di sini.
Anak negeri bukan hanya mereka yang berada di kota, melainkan di daerah yang boleh dikatakan terdepan yaitu mereka di daerah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga, terluar yaitu mereka yang berada di kawasan yang sulit untuk dijangkau dalam waktu yang singkat atau bisa disebut juga daerah terpencil, dan tertinggal yaitu mereka yang berada di daerah yang kualitas pendidikannya masih jauh dari standar pendidikan nasional.
Mengacu pada pengalaman pengabdiannya di daerah 3T, beliau sangat mengapresiasi kegiatan MeAN yang diinisiasi bersama oleh Guru Garis Depan (GGD) Kabupaten Raja Ampat bekerjasama dengan Yayasan Masyarakat SM-3T Institute (MSI).
“Untuk mendapatkan hasil yang maksimal itu tidaklah mudah tetapi harus melalui proses dan mampu mencerminkan karakter guru yang sesungguhnya. Pahlawan itu dihargai karena perjuangannya, begitupun nantinya dengan guru. Hasil didikan saat ini tidak akan langsung dapat dilihat. Namun beberapa tahun ke depan, apa yang telah kita tabur untuk para peserta didik pasti akan kelihatan hasilnya. Kepada para peserta didik juga diingatkannya agar bisa menanamkan nilai perjuangan sejak dini dan terus belajar. Tidak ada kata tidak untuk belajar.” Tambah beliau.
Dalam akhir sambutannya, beliau menyampaikan beberapa program unggulan yang ada di sekolah yang berkaitan juga dengan literasi. Program-program tersebut diantaranya; literasi Alquran dan literasi Alkitab yang dimulai setiap pagi sebelum kegiatan belajar yang berlangsung selama tiga kali dalam sepekan; pembinaan karakter berbasis wali kelas dimana untuk setiap kelas memiliki dua guru yang bertanggung jawab dengan pembagian tugas yaitu satu guru sebagai wali kelas dan satunya lagi sebagai asisten wali kelas yang nantinya akan menangani kelas jika guru induknya mendapatkan tugas diluar sekolah; program perpustakaan kelas yaitu memaksimalkan buku didalam setiap ruang kelas dengan jumlah 200 unit buku yang setiap harinya harus dibaca minimal 15 menit saat pelajaran akan dimulai; serta program unggulan lainnya yaitu program English Camp, English Club dan English Day yang berkesinambungan.

Sambutan yang kedua disampaikan oleh Akhiruddin, S. Pd., M.Pd., Gr., selaku Direktur Yayasan Masyarakat SM-3T Institute, beliau mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI saja melainkan tanggung jawab bersama setiap stakeholder yaitu kepala sekolah, guru, peserta didik, dan masyarakat. Peserta didik diibaratkannya sebagai tuan yang harus dilayani sedemikian rupa. Sementara guru diibaratkan sebagai pelayan yang wajib memenuhi kebutuhan tuannya. Ini merupakan amanah yang seharusnya dijalankan oleh setiap guru baik yang berada di kota maupun di desa.
Dalam sambutannya, Direktur Yayasan Masyarakat SM-3T Institute ini juga memotivasi peserta didik yang ada di SMK Negeri 2 Raja Ampat. Kita yang berada didaerah 3T seperti ini, tidak perlu minder untuk bersaing dengan mereka yang ada di daerah perkotaan. Maksimalkan potensi yang ada dalam diri kita karena beberapa fakta diluar sana menunjukkan ada peserta didik yang berprestasi berasal dari daerah yang dikategorikan 3T. Sebagai peserta didik SMK, sangat diharapkan agar peserta didik mengedepankan aspek pelayanan berbasis karakter. Karakter tersebut akan didukung oleh literasi. Karena itu, jadilah manusia pembelajar yang punya antusiasme belajar yang tinggi.
Mengacu pada perkembangan zaman dan realitas kehidupan saat ini, maka dalam kegiatan seminar penguatan karakter, para peserta didik diberikan materi yang disesuaikan dengan kenyataan tersebut dengan harapan mereka mampu menjadi generasi emas Indonesia melalui proses-proses yang tidak mudah karena disitulah para peserta didik akan diasah kemampuan mereka yang sesungguhnya.

Usai sambutan-sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang peserta didik. Mochamad Rochim, S. Pd., Gr., sebagai pembicara pertama memberikan materi tentang ‘Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air’. Materi ini disampaikan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan khususnya ancaman-ancaman pada perkembangan zaman saat ini yang begitu global. Harapan dari Guru Garis Depan (GGD) ini yang juga merangkap sebagai Kepala Sekolah termuda di Kabupaten Raja Ampat agar peserta didik mampu mengaplikasikan apa yang sudah diterima mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dengan saling menghargai satu dan lainnya.
Di sela-sela pemberian materi, peserta didik dipacu untuk aktif dalam memberikan pertanyaan ataupun menyatakan pendapatnya. Ronaldo Yoseph Yanwarin sebagai peserta didik sangat antusias mendengar materi yang disampaikan. Setelah mendengar materi tersebut, Ronaldo mengajak teman-teman dan masyarakat yang ada untuk mencintai tanah air melalui hal yang mudah dilakukan seperti menjaga kebersihan laut dan hutan yang ada disekitar serta jangan membuang sampah dihutan maupun dilaut. Ronaldo juga senantiasa mengingatkan agar selalu menjaga kekompakan agar Indonesia maju di masa yang akan mendatang demi anak cucu kita.

Materi yang kedua disampaikan oleh Anfike Mentu, S. Pd., Gr., alumni PPG SM-3T. Materi yang disampaikan adalah ‘Indonesia Damai Anti Kekerasan’ dengan tujuan yaitu memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang bagaimana mereka mampu bersikap dalam mempraktikkan sikap untuk saling rukun di tengah keberagaman suku, agama, ras, dan budaya yang ada di Indonesia dan meminimalisir kekerasan dalam lingkup pergaulan sesama peserta didik dengan menguatkan sikap toleransi dalam diri mereka. Alumni SM-3T yang telah dinyatakan lulus sebagai Guru Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Tahap 9 Malaysia ini juga mengajak para peserta didik untuk menyanyikan lagu ‘Damai Bersamamu’ agar peserta didik mampu merenungkan betapa berharganya kehidupan yang damai itu.
Jumaedi Mustamin Umar, peserta didik jurusan akuntansi merasa sangat senang karena dapat mengetahui banyak hal dalam sesi ini. Dia juga mengaku bisa belajar bahwa ternyata setiap tindakan yang akan dilakukan harus dipikirkan dua kali karena tanpa pemikiran yang matang, dapat menimbulkan perselisihan dan kekerasan yang dapat merusak perdamaian.

‘Stop Bullying’ adalah materi yang disampaikan oleh Fitriany Sari, S. Pd., Gr., selaku Guru Garis Depan Kabupaten Raja Ampat yang juga adalah Guru SMKN 2 Raja Ampat. Seperti kita ketahui bersama bahwa manusia diciptakan disertai dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pada proses interaksi antar manusia, terdapat potensi untuk saling menonjolkan atau mendiskriminasi kekurangan yang dimaksud. Materi ‘Stop Bullying’ ini bertujuan untuk menanamkan karakter kepada peserta didik untuk saling menghormati sesama manusia, dengan harapan tidak ada lagi pelaku atau korban bullying di sekolah.
Hal senada disampaikan juga oleh Dorce Petronella Inggamer yang merupakan peserta didik di sekolah tersebut. Dorce menyatakan bahwa materi yang didapatkannya mampu untuk mengingatkan kembali tentang jenis bullying baik verbal maupun fisik supaya kedepannya tidak ada lagi korban dan pelaku bullying di lingkungan masyarakat ataupun di lingkungan sekolah.

Materi ke empat yaitu ‘Anti Narkoba dan HIV AIDS’ disampaikan oleh Guru Garis Depan Raja Ampat Akhmad Syaifudin, S. Pd., Gr., yang menarik simpatik para peserta didik. Senjata pamungkas dalam materi ini yakni menampilkan video-video yang berkaitan dengan Narkoba dan HIV AIDS. Tujuan memberikan materi ini dalam bagian penguatan karakter peserta didik adalah untuk memberikan fondasi terhadap peserta didik agar mampu menjauhi dan menyaring tentang bahaya narkoba dan AIDS karena di usia mereka sangat rentan terhadap pergaulan bebas.
Tanggapan seorang peserta didik yang bernama Yunita D. A. Sikoway setelah mengikuti seminar adalah mendapat pelajaran bahwa Narkoba dan HIV AIDS dapat memberikan dampak buruk dalam diri kita. Silakan bergaul dengan siapa saja tetapi kita harus memilih pergaulan yang baik. Lakukan hal positif yang bermanfaat dan mebanggakan orang tua dan sekolah.

Kegiatan ini berakhir pada pukul 15.00 WIT dengan jumlah peserta 98 orang. Candra Arif, S. Pd., Gr., sebagai penanggung jawab kegiatan ini mengharapkan agar kegiatan penguatan karakter maupun MeAN dapat terus dilaksanakan sebagai program rutin GGD Kabupaten Raja Ampat di setiap tahun, tentunya dengan kerjasama yang baik dalam lingkup GGD yang ada maupun dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat.
Reportase: Tim reportase Guru Garis Depan (GGD) Raja Ampat
Editor: tim editor MSI







