Ada banyak entitas hikmah di setiap persentuhan interaksiku dengan masyarakat di sini. Entitas yang menyuguhkan nama dan peristiwa yang dipertanggungjawabkannya dengan sejumlah acuan peneladanan. Semakin jelas dan mengertilah aku, alasan orang tuaku dalam mewajibkan keseluruhan kepribadian yang mesti aku fungsikan, harus sedemikian rupa mengakrabi apapun seluk-beluk sebuah kondisi.”Karena tempaan kondisilah yang akan mengkomposisikan dirimu nantinya dalam bernalar dan bertindak!” ucap rasionalitas orang tuaku dengan tegasnya. Ketika baru beberapa minggu keberadaan saya di lokasi, Desa Bidi Hunga, Kecamatan Lewa, yang memiliki potensi tetumbuhan cukup bervariasi dan bisa diandalkan kuantitasnya. Muncul sosok Pak Yunus menyelinap masuk di penambahan daftar keluargaku di sini. Rupanya, tak cukup puas, hanya sebatas bercerita perkenalan, saya bersama para teman tugas, diajak oleh beliau untuk hadir di bawah rimbunnya kebun buah-buahannya. Durasi saya mengagumi lebatnya anugerah Ilaihiyah tersebut, dipangkas dengan sebuah rekomendasi pencicipan langsung buah-buahan tersebut. Hanya satu ongkos yang saya mesti kontribusikan setelah melahap tanpa sisa buah-buahan tersebut, berupa kesediaan dijejali dengan petuah sempurna menusuk rusuk keawamanku; “kalau suka makan, ya bekerja, kalau tidak suka makan, ya jangan bekerja” ungkapnya dalam menegaskan prinsip beliau untuk menjalani aktivitas kerjanya sehari-hari. Perlu beberapa menit untukku mengalihkan diam, untuk selanjutnya pulang dengan membawa tambahan buah-buahan disertai kepala yang tertunduk kosong.Pun ketika kami diberikan kepercayaan sebagai subyek penting dalam acara Klesis Keagaman di gereja desa tempat tugas. Sebuah acara permusyawaratan dalam merumuskan struktur sekaligus arah kerja organisasi yang menjadi upaya pemertahanan eksistensi Agama Kristen di masyarakat. Saya bersama para teman yang awalnya merasa beda ini, ternyata dijadualkan istimewa untuk mengambil bagian dalam acara tersebut. Walau tidak sebagai pengendali acara, atau peserta penuh yang bisa mempengaruhi persepakatan hasil acara, tapi keluasan ruang tempat kami disapa pada waktu itu, justru telah cukup deras membasahi kering interpretasi kami tentang pendikotomian keyakinan dan sudah sangat lantang meneriaki bisu pendefinisian kami terkait logika surga-neraka itu. Sampai moment kami dipersilahkan berfoto bersama dengan para peserta acara tersebut, justru saya masih harus disibukkan untuk membenahi kekisruhan bepikirku selama ini.
Hikmah-hikmah yang saya petik, terus saja berseliweran dan melampaui kolom catatan harian yang telah kupersiapkan. Belum lagi, ketika aku tambahkan dengan kisah Pak Awam dengan pencarian sejatinya keadilan sampai beliau harus merasakan penjara untuk itu, lewat uraian Pak Marten dengan stimulasi keikhlasan yang beliau paketkan khusus untukku, pada penolakan pertama dari Bapak Nengsih terhadap tawaran rokokku -yang ternyata pada waktu itu beliau lebih meyakini rokok di saku celananya-, melalui Bapak Tua tentang pewarisan taktik jitunya dalam menaklukkan hati Mama Tua, dan Mama Tua sendiri yang tidak mau kalah dalam mensugesti kami -bertutur dengan rendah hati dan polosnya- alasan-alasan pengakomodasiannya ketika menerima lamaran Sang Bapak Tua…







