Kesan yang saya dapat ketika pertama kali tiba di Sumba Timur yang paling jelas adalah perbedaan geografis atau fisik dari Pulau Sumba adalah keadaan cuaca yang sangat panas dibandingkan tempat asalku Sulawesi. Keadaan alam yang gersang dan dipenuhi perbukitan menambah kesan bahwa pulau Sumba adalah benar-benar pulau terluar dari wilayah Indonesia. Ketika pertamakali menginjakkan kaki di pulau ini adalah kesannya pulau ini sangat jarang penduduknya. Kota Waingapu yang merupakan ibukota Kabupaten Sumba Timur sendiri, menurutku juga kota yang tidak terlalu ramai alias sepi sekali. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan mengabdi di Pulau Sumba khususnya di Kabupaten Sumba Timur. Cuaca panas, gersang dan mayoritas fisik Pulau Sumba yang berupa perbukitan menambah kesan eksotisnya pulau ini, hanya ada di pulau ini. Pulau Sumba!!!
Pertamakali menginjakkan kaki di Pulau Sumba, aku tidak pernah menyangka akan ditempatkan pada sebuah desa yang sangat terpencil, yang benar-benar sangat pantas disebut 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Saat menuju ke desa tujuanku yang bernama Laitaku, aku tidak pernah menyangka akan naik oto kayu yaitu sebuah kendaraan umum yang berupa truk yang disulap menjadi alat transportasi umum. Dalam oto kayu ini semuanya diangkut. Tidak hanya manusia, tetapi juga barang bawaan penumpang yang berupa hasil panen, seperti jagung, ubi-ubian, dan lain-lain. Ada juga hewan bawaan penumpang seperti ayam, kambing, bahkan babi pun ikut diangkut. Oto kayu yang pertamakali aku tumpangi adalah Ana Mahang. Jalanan menuju tempat pengabdianku sangat menantang, jalanan yang berkelok-kelok di tepian perbukitan sangat berbahaya jika sang sopir tidak lihai mengemudi, maka akan dapat membahayakan penumpang. Kecelakaan pun sering terjadi. Jarak dari Waingapu menuju lokasi penempatanku adalah 108 km yang membutuhkan perjalanan sekitar 4 jam. Bukan jarak yang membuatku ciut nyali tetapi melihat kondisi fisik yang berkelok-kelok membuat jantung cukup was-was saat menaiki oto kayu ini karena pada saat pertamakali menaiki oto kayu ini terjadi kecelakaan kecil yang membuatku kaget, pada saat oto kayu menanjak menaiki jalanan landai, tiba-tiba saja oto kayu ini mundur dan membuat semua penumpang panik dan ketakutan. Reflek tanpa sadari, aku pun melompat dari atas oto kayu. Bapak Kepala Sekolah yang menjemput dan mengantarku kaget ketika melihatku sudah berada di bawah oto kayu, padahal keadaan oto kayu baik-baik saja. Benar-benar turun hal yang sangat berkesan dan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Setelah menempuh 4 jam perjalanan, aku dan bapak Kepala Sekolah turun di simpang. Aman sudah, aku berpikiran pasti letak desa tidak jauh, karena pada saat itu aku dijemput oleh salah seorang pemuda desa yang akan mengantarku kesana. Sungguh di luar dugaan, ternyata jarak dari simpang masuk desa sekiar 4 km dengan kedaan jalanan rusak parah! Jalanan yang penuh bebatuan yang belum diratakan dengan baik benar-benar membuat akses jalan masuk desa membuat sulit dan sangat memprihatikan dan menanntang. Perjalanan kaki dari Simpang hingga sampai di desa memakan waktu kurang lebih 1 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan.
Desa Laitaku merupakan desa bagai kota mati yang terdiri dari tiga rumah penduduk, 1 buah gedung sekolah, sebuah Polindes yang sedang dibangun. Sempat terpikir olehku, kok biasa ya desa dengan akses jalan setengah mati menuju desa, ada juga peduduk yang menghuni desa ini. Benar-benar tidak menayangka!!! Ditambah lagi jarak rumah dengan rumah yang satu cukup jauh, banyak rumah yang terletak di balik bukit , aku benar-benar tidak percaya, tetapi inilah kenyataan yang ada di depan mataku saat itu.Desa mati, tanpa listrik dan jauhnya mata air sumber kehidupan!!! Di desa ini sangat sepi karena hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Aku pun ditampung di rumah penduduk, walaupun diantara kami terdapat perbedaan kayakinan , tetapi setelah beradaptasi beberapa hari , aku benar-benar merasakan rasa kekeluargaan dan toleransi agama yang sangat tinggi.
Menjadi guru disini tidak sebagai kebutuhan masyarakat, tetapi menjadi guru adalah juga dihormati dan disegani. Hal ini terlihat jelas dari sambutan masyarakat yang menyambut kedatanganku dengan penuh sukacita. Terlihat jelas saat pertama kali kaki ini menjejakkan diri di bibir batas masuk desa. Aku dijemput seorang laki-laki muda yang dengan senang hati membawakan barang bawaanku, sebuah koper, dipanggulnya di pundaknya dengan seulas senyum sapaan, selamat datang Pak Guru. Sesampainya di desa, aku pun disambut oleh Bapak Kepala Desa dan masyarakat setempat dengan tangan terbuka. Keluarga baru, tempat baru dan budaya baru. Laitaku nama desa itu.
Aku bisa dikatakan satu-satunya orang yang beragama Islam di desa ini. Mayoritas masyarakat di desa ini beragama Kristen Protestan, ada juga beberapa warga yang masih mempertahankan budaya agama warisan nenek moyang yaitu kepercayaan “Marapu”. Sebuah kepercayaan kepada roh nenek moyang, animisme dan dinamisme. Disini walaupun terdapat banyak perbedaan, tetapi rasa toleransi yang sangat tinggi membuat aku nyaman berada di tengah-tengah mereka. Tidak pernah kutemukan rasa menghargai perbedaan sebesar ini di sebuah tempat yang baru bernama Sumba Timur, Bisa dibilang untuk kawasan NTT khususnya Sumba Timur, masyarakatnya mempunyai rasa toleransi yang sangat tinggi apalagi kepada pendatang yang berstatus guru seperti diriku ini. Masyarakat Sumba Timur pada dasarnya dalah masyarakat yang suka menolong bahkan tanpa mengharap imbalan, contohnya pada saat sholat Jumat yang mewajibkanku harus turun ke Melolo, sebuah kecamatan terdekat dari Kecamatan Paberiwai yang harus menempuh perjalanan 2 jam lamanya. Di Melolo terdapat masjid besar untuk menjalankan sholat wajib Jumatan yang disana mayoritas masyarakatnya adalah muslim.
Setiap hari Jumat itulah ada saja tawaran dari warga yang bersedia meminjamkanku motornya, bahkan boleh dibawa berhari-hari jika memang aku perlukan untuk ke kota Waingapu untuk kepentingan rapat kerja dengan teman-teman SM-3T UNM. Sering juga jika ada warga yang mempunyai hasil kebun, aku selalu diberi hasil kebunnya walaupun aku tidak pernah meminta. Sungguh baik mereka, pikirku, tetapi ironis sekali ketika faktanya pendidikan si Sumba Timur masih terbelakang. Padahal masyarakatnya merupakan masyarakat yang ramah dan hangat kepada kita, khususnya kepadaku. Di Sumba Timur masalah adat benar-benar dijunjung tinggi. Contohnya masalah hukum adat, seperti jika ada warga yang berbuat salah atau melanggar norma-norma di masyarakat, maka dia harus meminta maaf secara adat juga, yaitu dengan acara adat potong babi. Jumlah babi yang dipotong pun disesuaikan dengan berat ringannya kesalahan yang dilakukan. Babi merupakan binatang sakral disini. Harga babi lebih mahal daripada harga sapi, kambing dan kerbau. Babi merupakan binatang adat. Cara memotongnya tidak dengan cara disembelih tetapi ditikam pada bagian jantungnya. Tujuan babi ditikam adalah agar darahnya tidak keluar sehingga darah bercampur dengan dagingnya supaya rasa daging lebih nikmat. Itulah sebuah pengetahuan baruku yang baru aku temukan disini. Sebuah hal yang mungkin bisa aku maklumi tujuannya, sebagai seorang muslim tentunya. Acara adat potong babi ini sudah dilaksanakan secara turun-temurun dari zaman nenek moyang hingga sekarang, namun intensitas jumlahnya sudah mulai dikurangi, mengingat sudah banyak masyarakat yang mulai memeluk agama Kristen Protestan. Contohnya pada acara Belis, yaitu sejenis pinangan kepada pihak calon istri dengan memberikan sejumlah hewan, banyaknya tergantung pad kesepakatan kedua belah keluarga. Bisa ribuan, ratusan, puluhan, tergantung pada status sosial yang dimiliki. Kalau dia seorang raja atau keturunan raja, maka jumlah belis pun banyak, kalau rakyat biasa jumlahnya tentunya tidak terlalu banyak. Aku pernah diajak bapak Umbu menghadiri acara musyawarah adat pinangan, acara pertama dibuka dengan potong babi, kemudian acara jamuan sirih pinang, lalu dilanjutkan dengan berdiskusi masalah belis, aku kira membahas masalah ini sangat sederhana saja tidak membutuhkan waktu yang lama. Tapi semuanya di luar dugaanku. Acara ini lama sekali,, hampir semalam suntuk. Ditambah lagi perutku dalam keadaan lapar yang luar biasa. Acara makan dilaksankan ketika acara musayawarah selesai. Dan itu bisa berlangsung tanpa batas waktu, karena merasa tidak tahan lagi menahan perut yang keroncongan, aku pun permisi pulang, mau makan!
Di SDN Laitaku, hanya ada dua ruangan yang berfungsi sebagai ruang kelas, satu ruang untuk kelas 1,2 dan 3 atau untuk kelas rendah, sementara satu ruangan lagi untuk kelas 4, 5 dan 6 atau untuk kelas tinggi. Tidak ada perpustakaan, yang ada hanya dua ruangan tersebut dan dua MCK. Tidak ada buku yang menunjang pembelajaran, yang ada hanya buku bekas yang tak layak pakai, yang harus dipakai secara berkelompok. Papan tulis hitam menjadi roh di kelas itu, keadaan fisik siswa yang tidak terawat, yang jarang mandi, pakaian kotor jarang dicuci, rambut jarang disisir, tahi mata terlihat jelas di mata mereka, hidung ingusan menjadi pemandangan resmi, ke sekolah berseragam atau tanpa seragam, tanpa alas kaki, membawa satu buah buku dan satu pensil tanpa tas, menjadi pemandangan memprihatinkan yang semakin biasa buatku, kenapa realitanya seperti ini? Kenapa semua berbanding terbalik dengan keadaan di luar sana? Kenapa pendidikan di Sumba Timur begitu sangat memprihatinkan? Tidak perlu bertindaklah untuk merubah keadaan ini,rubah keadaan!!! Pendidikan di Sumba Timur merupakan jenis pendidikan pendidikan yang keras, tidak jarang guru memukul siswa jika siswa berbuat kesalahan, sebenarnya tidak perlu adanya kekerasan dalam pendidikan!!!
Mengajar kelas rendah kadang membuatku kewalahan. Bagaimana tidak? Menangani kelas 1 yang sudah cukup membuatku kerepotan, kelas 2 yang suka ramai sendiri, kelas 3 yang juga membutuhkan banyak perhatian dalam hal pelajaran. Tapi, inilah tantangannya, menjadi guru SD itu tidak mudah, menjadi guru itu pada dasarnya tidak hanya mengajar, tetapi tugas yang paling berat adalah mendidik anak didik. Tentunya aku tidak akan menyerah untuk mencerdaskan anak Sumba Timur! Harapanku adalah semoga ada perhatian pemerintah terhadap perkembangan penididikan di Sumba Timur, semoga ada pihak-pihak yang secara nyata merubah kondisi pendidikan di Sumba Timur, minimal dengan pemenuhan jumlah guru, pembangunan infrastruktur, pemenuhan buku-buku penunjang pendidikan, pengadaan seragam sekolah, pengadaan perpustakaan, dan yang terpenting hak-hak siswa sebagai amanah bangsa bterpenuhi.
SDN Laitaku mempunyai beberapa guru honorer dan 1 guru PNS yang dijabat oleh Kepala Sekolah. Total guru ada 8 orang dan tidak pernah satu hari pun datang semuanya. Setiap hari kedatangan guru ditentukan oleh inisiatif dan kemauan guru, tidak ada peraturan yang mengikat. Bahkan jika pada satu hari itu tidak ada guru yang datang maka tidak jadi masalah. Menilik hal ini, pendidikan di Sumba Timur juga harus disertai dengan peningkatan mutu SDM guru, rata-rata guru honorer disini adalah lulusan SMA. Jarang sekali guru yang menyandang titel sarjana. Untuk itulah dengan adanya SM-3T maka diharapkan dapat membantu pelaksanaan pendidikan di Sumba Timur, dalam rangka pemenuhan jumlah SDM guru dalam menididik. Menjadi guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, itulah yang paling berat. Banyak hal yang perlu dibenahi di SD Yapris Laitaku terutama dalam hal sarana dan prasarana.
-Irman. R, S. Pd-







