Seluruh siswa di SMPN 2 Malinau Barat adalah murid-murid tercintaku. Aku adalah seorang guru mata pelajaran IPA di sekolah ini. Tak lantas aku hanya duduk diam sebagai guru IPA saja. Kemarin aku menjelma sebagai pelatih senam. Layaknya instruktur senam handal, hampir setiap hari selalu menghabiskan waktu senja untuk berlatih. Meskipun awalnya agak tertatih-tatih, tetapi lama kelamaan menjadi terbiasa.
Hari ini berperan sebagai guru kesenian. Melatih anak-anak membaca puisi, membantu memilihkan lagu dan bahkan melatih siswa membaca pidato. Lusa akan berganti peran menjadi pembina pramuka. Maka, aku kembali belajar apa yang lama tidak aku pelajari. Semua demi anak-anak tercintaku. Aku rela menjadi bunglon di tanah perbatasan, demi mereka anak-anak bangsa. Anak-anak Indonesia, generasi emas bangsa.
Aku bukan apa-apa. Aku hanya berusaha semampu apa yang aku bisa. Setiap senja aku dan anak-anak selalu mengisi waktu luang untuk berlatih. Sebagian latihan senam, sebagian latihan pentas seni dan lainnya latihan pidato. Ada pula anak-anak yang cukup menyaksikan latihan teman-temannya yang lain. Senam digunakan untuk rutinitas olahraga kebugaran setiap jumat pagi. Sedang pentas seni dan pidato untuk persiapan mengikuti lomba. Lomba akan digelar oleh Depdiknas pada event dua tahunan terbesar pesta budaya dan hari ulang tahun kota Malinau. Masyarakat biasa menyebutnya sebagai pesta budaya IRAU.
Aku tidak peduli dengan bagaimana hasil yang akan aku dan anak-anak dapat nanti. Aku hanya berpikir bahwa pengalaman ialah yang paling utama untuk anak-anak tercinta. Partisipasi anak-anak dalam event terbesar itulah yang akan menjadi kenangan indah selamanya.
Hadiah Terindah Tanah Perbatasan
Dua bulan sudah aku tinggal di tanah Malinau. Selama pertengahan sampai akhir Oktober kemarin, kabupaten Malinau merayakan hajatan besar yang biasa diselenggarakan dua tahunan sekali. Perayaan besar itu yakni merayakan HUT kabupaten sekaligus pesta budaya. Pesta budaya tersebut dikenal dengan sebutan IRAU.
Pemandangan yang sangat langka untuk aku jumpai selama berada di sini telah aku lihat di perayaan IRAU kemarin. Alun-alun Pemda yang biasanya tidak ada aktivitas apapun berubah menjelma lautan manusia. Jalanan kota yang biasa lengang berubah padat merayap seperti ular. Semua masyarakat dari pedalaman kabupaten turun ke kota dengan sangat antusias merayakan event dua tahunan tersebut. Rona wajah bahagia dan senyum yang mengembang terlihat pada wajah masyarakat yang datang menyaksikan. Tampaknya mereka sangat menikmati kemeriahan dan hiburan gratis yang disuguhkan oleh Pemda setempat selama kurang lebih 12 hari itu.
Pada perayaan IRAU ke-8 Kabupaten Malinau kemarin, aku pun mendapat kesan yang luar biasa mengesankan. Kamis malam, 23 Oktober 2014 merupakan hari yang paling indah bagiku selama hampir dua bulan aku tinggal di pedalaman kabupaten kota kecil perbatasan Indonesia-Malaysia ini. Kebahagiaan yang tak terlukiskan ketika aku melihat anak didikku melenggang ke tengah panggung utama IRAU menuju podium lomba final pidato tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Malinau. Lia, begitu ia akrab disapa. Lia membawakan pidatonya yang bertema “Peran serta pelajar dalam pemberantasan narkoba” di depan khalayak masyarakat Malinau. Lia menyampaikan pidatonya dengan sempurna dan membuatku sangat bangga padanya, meskipun kita akhirnya pulang sebagai juara terakhir yaitu harapan III.
Dua hari sebelum malam final, aku dan Lia bolak-balik desa ke kota untuk mengikuti babak penyisihan lomba pidato di Kantor Bupati Malinau. Lomba tingkat SMP diikuti oleh 29 siswa dari perwakilan sekolah se-kabupaten Malinau. Rasa bangga tak terkira ketika mendengar dewan juri menyebut nama Lia Aprianti Aspuri pertama kali sebagai peserta yang masuk 6 besar dan berhak mengikuti babak final. Kami berdua pun pulang ke rumah dengan perasaan sangat bahagia.
Anak didikku, Lia adalah juara terbaik bagiku. Bukan apa-apa tetapi Lia bisa masuk babak final saja, aku sudah sangat bangga. Sebab, aku lah yang membimbingnya selama persiapan untuk mengikuti lomba meskipun aku seorang guru IPA di sekolah. Lia juga satu-satunya perwakilan siswa SMPN 2 Malinau Barat yang berani dan mau mengikuti ajang lomba pidato lalu. Di samping itu, Lia tak pernah sekalipun mengikuti ajang perlombaan sebelumnya. Sebelumnya pun di sekolah tempatku mengajar ini hampir tidak pernah ikut berpartisipasi dalam perlombaan antar sekolah. Alasannya, aku tidak tau jelas mengapa. Satu hal yang pasti bahwa malam itu adalah malam yang sungguh istimewa bagi kami, para pemula. Aku, pemula sebagai guru pembimbing lomba dan Lia, pemula sebagai kontestan lomba.
oleh Peserta SM-3T: Susanti, Kab. Malinau, Prov. Kalimantasn Utara, LPTK Universitas Negeri Yogykarta (UNY)







