Serial SM-3T Universitas Negeri Surabaya, Angkatan Kedua Sumba Timur, NTT
Hingga Suatu saat, aku menemukan sepotong kertas terjatuh dari lipatan buku lusuhnya. Aku mengambilnya, membuka lipatannya, dan membaca tulisan yang tertera di atasnya.
“Eiffel?,” tanyaku tanpa sadar ketika membaca tulisan tersebut.
Dan dari bibirnya yang selalu terulas senyum, dia menjawab.
“kata Ibu tempat itu bagus. Banyak lampu di malam hari,” tuturnya.
“Aku ingin ke sana, Ibu,” lanjutnya.
Bulu kudukku spontan merinding mendengar jawaban polos tersebut.
Subhanallah, seakan aku melihat api yang menyala di mata coklatnya.
Kami berjalan kaki ke kota kecamatan selam sekitar dua jam. Tidak terhitung berapa bukit yang kami daki dan berapa lembah yang harus kami turuni. Untuk bekal selama di kota kecamatan mengikuti ujian nasional, anak-anak membawa ayam dan beras yang diperkirakan cukup untuk tiga hari.
Di puncak keputusan, aku bertanya kepada mereka. “Harus dengan cara bagaimana supaya kamu mengerti?”.
Jawaban yang aku dapatkan sungguh mengejutkan. Apalagi jawaban itu keluar dari seorang murid perempuan.
“Ibu, Ibu pukul saja kami. Nanti kami akan mengerti juga.”
Astagfirullah. Rasanya aku tak percaya dengan jawaban tersebut. Ingin rasaya menjerit saat itu juga. Yang aku lihat, mereka adalah manusia. Bukan hewan yang untuk mengajarinya harus dengan cara memukulnya.
Kisah-kisah menarik dan lengkap lainnya dapat dinikmati dalam buku ini







