Program Mereka Bersih dan Sehat

Sehat merupakan modal dasar menuntut ilmu. Belajar dalam keadaan berbadan sehat dan bersih memudahkan konsentrasi. Keadaan akan berbeda jika kita dituntut belajar dalam kondisi kurang bersih dan kurang sehat.

Anak-anak Indonesia di sebagian pelosok negeri berangkat ke sekolah dalam keadaan ingus meleleh, gigi yang tidak mengenal sikat apalagi pasta gigi, bekas tidur yang masih jelas di wajah, kulit yang dibiarkan tak menyentuh air apalagi sabun, kaki dalam keadaan berlumpur, dan aneka keadaan yang memprihatinkan

Program Kami Bertas dan Bersepatu ke Sekolah

Banyak orang atau bahkan semua orang tahu tentang sepatu. Banyak pula yang tahu fungsi, manfaat, dan kegunaan sepatu. Tetapi, tidak semua bisa bersepatu apalagi bergonta-ganti sepatu. Ironisnya, hanya sebagian kecil orang yang peduli akan hal itu dan mau menjadi bagian yang membuat orang lain di sudut negeri turut bersepatu.

Seperti yang dialami anak-anak usia sekolah di daerah-daerah berkategori 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) sebut saja Aceh, NTT, Papua Barat, dan Papua

Program Kami Berseragam Sekolah

Program Bantuan Seragam yang dilaksanakan oleh Masyarakat SM-3T Institute menyediakan bantuan berupa pakaian seragam sekolah kepada para pelajar SD, SMP, dan SMA yang kurang mampu di daerah-daerah 3T Indonesia.

Pada umumnya, pelajar di daerah 3T kesulitan untuk memenuhi kebutuhan seragam sekolah. Masalah ekonomi lemah menjadi penyebab utama. Untuk

Program Sekolah Kami Layak

Fasilitas pendidikan di sekolah-sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Kita manusia Indonesia diharapkan mampu menyelamatkan warisan karakter budaya bangsa (gotong royong) melalui gerakan maju bersama mencerdaskan Indonesia.

Mencerdaskan manusia Indonesia bukan hanya dengan penyediaan guru dan bangunan

Program Orang Tua Asuh

Anak-anak Indonesia dengan berbagai bakat dan kemampuan banyak yang putus sekolah baik SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi padahal secara akademik sangat berpotensi. Biaya menjadi momok bagi anak-anak tersebut untuk melanjutkan pendidikan. Biaya transportasi, biaya hidup, biaya pendidikan, biaya buku, dan lain-lain menjadi pencabut mimpi mereka sehingga