Membangun Kohesi Sosial Potensi Keberagaman Masyarakat dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika. Tuntutan zaman terhadap profesi guru kian hari semakin meningkat. Hal ini terlihat dari banyaknya kompetensi guru yang harus dipenuhi sebelum ia terjun ke lapangan. Mulai dari kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Pemerintah telah menyelenggarakan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada lembaga-lembaga pendidikan perguruan tinggi sebagai sarana pemenuhan keempat kompetensi guru tersebut. Salah satu lembaga penyelenggara program PPG adalah Universitas Negeri Malang.
Sabtu, 7 April 2018 Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang mengadakan Pendidikan Karakter bertema Wawasan Kebangsaan. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula gedung H8 Lantai 2 LP3 Universitas Negeri Malang dan diikuti sekitar 140 mahasiswa program PPG SM-3T. Kegiatan ini dilakukan sebagai pemenuhan kompetensi kepribadian yang harus dimiliki oleh setiap calon pendidik.
Kegiatan wawasan kebangsaan yang dilaksanakan oleh LP3 UM dimoderatori oleh Bapak Drs. Ketut Diara Astawa, SH, M.Si. Hadir sebagai narasumber Bapak Drs. Suparlan A-Hakim, M.Si yang merupakan dosen di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang. Dalam kuliah umumnya, Bapak Suparlan mengangkatkan tema “Membangun Kohesi Sosial Potensi Keberagaman Masyarakat dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika”. Tema ini diangkat karena menjadi hal yang sangat penting bagi calon pendidik untuk mampu menempatkan diri dalam lingkungan pendidikan yang dihuni oleh berbagai corak budaya Indonesia.
Bapak Suparlan mengutip hasil jajak pendapat dari koran Kompas yang menyajikan beberapa penyebab pemecahan bangsa. Di antaranya adalah pertikaian antar wilayah, suku, agama, pendukung partai politik serta pertikaian antar golongan ekonomi. Hasil refleksi dari penelitian beliau juga menyatakan bahwa adanya aseptibilitas keberbedaan masyarakat rendah, kinerja sosial membangun masyarakat yang harmonis mengalami masalah yang serius, kemampuan masyarakat dalam mengelola keberagaman sosial belum mencerminkan peran aktor prulalism-multikurtural, kadar empati rendah dan prasangka sosial meningkat menjadi alasan terjadinya perpecahan bangsa. Berdasarkan data tersebut, dalam kuliah umum wawasan kebangsaan para mahasiswa dibawa untuk berpikir lebih kritis dalam membentuk karakter diri agar terhindar dari penyebab-penyebab pemecahan bangsa.
Melalui kegiatan diskusi seluruh anggota kelas diajak mengumpulkan nilai-nilai beda dan nilai-nilai sama yang diambil dari penyebab pecahnya suatu bangsa. Berdasarkan hasil diskusi tersebut didapatkan kesimpulan bahwasanya tidak ada alasan bagi bangsa Indonesia yang bercorak pluralis-multikurtular untuk saling menjatuhkan dan mengalami perpecahan. Sebab nilai-nilai beda yang ada dalam aspek-aspek kehidupan seperti agama, ras-etnis, suku, golongan ekonomi, dan lain-lain sudah memiliki tempat penerapannya masing-masing. Sedangkan untuk bersosialisasi dalam kehidupan bangsa yang pluralism-multikurtural dapat menerapkan nilai-nilai sama. Nilai-nilai sama inilah yang menjadi potensi kohesi dalam kehidupan berbangsa.
Dalam tayangan power point Bapak Suparlan juga menunjukkan ada banyak potensi kohesi (hormonisasi) yang terdapat dalam tubuh bangsa Indonesia. Seperti mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja sama dengan orang beragam etnis, mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya, membangun komunikasi lintas budaya dan agama, membangun empati dan pengurangan prasangka terhadap keberagaman. Dengan begitu, dalam kehidupan bermasyarakat setiap calon pendidik diharapkan mampu membawa nilai-nilai sama dalam setiap aspek kehidupan tersebut tanpa menimbulkan perpecahan.
Reportase: Urfi Hanifah, PPG SM-3T Angkatan VI
Editor: HaeR







