Setelah 3 hari menghadiri kegiatan Mengedukasi Anak Negeri (MeAN) di Aceh Timur (17-18 Maret 2018), Ketua Masyarakat SM-3T Institute (MSI) Indonesia, Bapak Akhiruddin, S.Pd, Gr. melanjutkan kunjungannya ke Asrama PPG LPTK Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda aceh. Dalam kunjunganya tersebut, Bapak Akhiruddin mengajak para mahasiswa PPG untuk turut andil dalam menggiatkan Gerakan Literasi. Acara ini dibuka oleh pembawa acara, Putri Lestari, S.Pd yang berlangsung pada 19 Maret 2018 pukul 20.00-23.00 WIB di Aula Asrama PPG Unsyiah. Para alumni SM-3T Aceh dan sebanyak 133 mahasiswa PPG yang tergabung dalam PPG SM-3T dan PPG bersubsidi ikut hadir dalam acara tersebut. Mereka mewakili 5 LPTK di seluruh Indonesia, yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Berdasarkan hasil riset bertajuk ”Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Centeral Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Hal ini menunjukkan bahwa minat baca orang Indonesia sangat rendah. Oleh sebab itu, pemerintah mencoba meningkatkannya salah satunya dengan menggiatkan Gerakan Literasi. Langkah awal Gerakan literasi sebaiknya di mulai dari guru. Dengan harapan bisa menular hingga ke peserta didik.
Bapak Akhiruddin menjelaskan bahwa literasi adalah kemampuan dalam mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Literasi tidak hanya sebatas baca-tulis, apalagi di era teknologi seperti sekarang ini, kita harus memilih konten-konten yang bermanfaat dan mampu menerapkannya dalam berbagai kondisi. “Kita sebagai seorang guru nantinya, harus mempunyai kreativitas tinggi supaya bisa mengembangkan bakat peserta didik”, tambah dia yang juga berstatus sebagai Alumni SM-3T.
Ia melanjutkan, seorang guru wajib memahami literasi. Guru harus menjadi teladan ataupun motivator dalam menggiatkan gerakan literasi. “Jangan sampai di sekolah kita mengajak peserta didik untuk membaca dan menulis, sedangkan gurunya justru tidak paham akan literasi”, tegasnya
Bapak Akhiruddin mengatakan supaya mahasiswa PPG giat melakukan aktivitas literasi. Kita menaruh harapan besar pada pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang merupakan ‘benteng terakhir’ sebelum menjadi guru dan terjun ke lapangan, jangan sampai guru salah dalam mendidik. “Kita berbeda dengan dokter, guru jika salah mendidik, korbannya adalah generasi”, ungkapnya.
Saat ini, mahasiswa tidak mempunyai trend yang bagus dalam membaca. Padahal membentuk kelompok diskusi sangat diperlukan dalam pengembangan literasi. “ Luangkan waktu 30 menit untuk membaca, kemudian mendiskusikan secara bersama”, tambahnya.
Dalam paparannya, Bapak Akhiruddin menjelaskan dokumen penting yang harus dipahami oleh mahasiswa PPG, seperti Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2018 tentang Guru dan permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 tentang standar pendidikan guru, dan pedoman penyelenggaraan PPG. Di abad 21 guru akan ketinggalan jika tidak mempunyai kemahiran atau Kompetensi (Kompetensi Pedagogik, Profesioanal, Kepribadian dan Sosial).
Bapak Akhiruddin menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang guru tidalakah udah. “Mulailah membangun literasi sejak dari sekarang, coba cari buku-buku yang sesuai dengan passion Anda, dan kembanglah”, harapnya.
Pada akhir diskusi tersebut, dia berpesan kepada Alumni SM-3T supaya tidak berhenti untuk mengabdi. Alumni SM-3T harus melakukan yang terbaik dan menunjukkan kapasitas sebagai pendidik yang bermaslahat dan bermartabat. “Alumni itu sifatnya hanya sebatas administratif saja, tapi semangat mengabdi tak boleh mengenal kata alumni”, tutupnya
Penulis: Nurhamidah
Editor: HaeR







