Rangkaian Edukasi Literasi bagi Guru Daerah 3T Indonesia yang digagas oleh Masyarakat SM-3T Institute (MSI) hadir dengan penuh makna di Toraja Utara, tepatnya di Kecamatan Sofai, pada 15–16 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi para guru, sekaligus momentum penting untuk meneguhkan semangat literasi di daerah yang dikenal dengan keindahan alam, budaya, dan kearifan lokalnya.
Acara dibuka dengan resmi oleh Camat Sofai, Dra. Nurlina, M.M., yang dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada MSI. “Kami merasa bangga karena Sofai mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah kegiatan literasi ini. Kegiatan ini bukan hanya menambah wawasan guru, tetapi juga memberi harapan besar untuk peningkatan kualitas pendidikan di Toraja Utara. Semoga kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut, karena literasi adalah kebutuhan mendasar dalam menghadapi tantangan zaman,” tutur beliau dengan penuh semangat.
Para guru peserta kegiatan mengikuti rangkaian materi dengan antusias. Mereka mendalami 6 literasi dasar, literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan yang semuanya dikaitkan langsung dengan konteks lokal Toraja Utara. Misalnya, literasi budaya digali dari kekayaan adat dan tradisi Toraja yang terkenal hingga ke mancanegara, lingkungan dipraktikkan melalui pemanfaatan potensi alam seperti sawah, kebun kopi, dan perbukitan yang bisa menjadi laboratorium belajar alam terbuka, sementara literasi digital diarahkan untuk mendokumentasikan dan mempromosikan keindahan wisata Toraja Utara sebagai bagian dari pembelajaran berbasis projek.
Testimoni penuh kesan datang dari salah satu peserta, Ibu Darsyani Tangke, guru SDN 6 Sofai, yang menyampaikan betapa bermanfaatnya kegiatan ini. “Sebelumnya kami belum memahami banyak tentang literasi. Namun sekarang, kami sadar bahwa literasi dapat hadir dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari memanfaatkan lingkungan sekitar hingga menjaga budaya. Kami merasa tercerahkan dan semakin yakin bahwa literasi adalah bekal utama bagi anak-anak didik kami,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Kegiatan ini membuktikan bahwa literasi bukanlah konsep yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di Toraja Utara, literasi dapat lahir dari alam, budaya, dan potensi wisata yang begitu kaya. Dari lereng perbukitan, ritual adat, hingga rumah adat Tongkonan yang megah, semua bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna.
Dengan semangat tersebut, Edukasi Literasi Guru 3T di Toraja Utara bukan hanya sebuah kegiatan pelatihan, melainkan juga gerakan kultural untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan sejati tumbuh dari akar budaya dan lingkungan tempat kita berpijak. Harapan besar pun terucap: semoga Toraja Utara mampu menjadi contoh bagaimana literasi dapat berakar kuat pada kearifan lokal, sekaligus bersinergi dengan semangat pendidikan nasional menuju generasi emas Indonesia.
Salam literasi









