Kegiatan upacara bendera yang dilaksanakan pada senin (26/3/2018) di lapangan depan gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Bengkulu (UNIB), merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh peserta PPG SM-3T dan peserta PPG Prajabatan Bersubsidi. Sebagai petugas dalam upacara ini adalah peserta PPG SM-3T Prodi PGSD. Pemimpin upacara adalah Nuki Diarta, Protokol oleh Reni Veronila dan yang didaulat sebagai Petugas pembawa bendera adalah Nurdiana, Lusi Purnama Sari, dan Wilda Ningsih. Bertindak selaku pembina Upacara adalah Drs. Herman Lusa, M. Pd.
Pada upacara ini beliau menitipkan pesan “sebagai calon pendidik kalian harus bisa mengambil bagian dalam kegiatan seperti ini jika kalian nanti sudah di lapangan, oleh karena itu kalian harus bersungguh-sungguh, ini juga sebagai upaya memproses kalian menjadi guru profesional”. Upaya untuk tampil maksimal hari ini dimulai dari proses latihan yang digelar sejak sabtu (23/3/2018). Latihan sempat diundur beberapa menit dari yang telah dijadwalkan yakni 08.30 WIB akibat kota Bengkulu diguyur hujan, namum bukan berarti prosesi latihan harus dibatalkan. Latihan tetap dilaksanakan, meskipun tidak di lapangan, tetapi di halaman parkiran FKIP UNIB dan prosesnya pun berjalan dengan baik.
Kegiatan seperti ini bertujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme, khususnya kepada kaum muda yang semangat nasionalismenya terus mengalami degradasi akibat sebagian besar perhatiannnya disita oleh lajunya arus modernisasi yang terjadi begitu kompleks. Terkhusus kepada seorang calon guru harus memiliki semangat nasionalisme yang terus terpelihara dengan baik untuk kemudian ditularkan kepada generasi yang dididiknya. Semangat ini harus dipraktikkan secara maksimal dan berkesinambungan
“Nasionalis yang sejati, yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan, nasionalis yang menerima rasa nasionalismenya itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti baginya. Maka rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas dengan memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segalah hal yang hidup.” (Soekarno).
Rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan itu diwujudkan dalam giatnya membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sebagai seorang pendidik harusnya mempunyai kecakapan-kecakapan semacam itu untuk ditularkan kepada peserta didiknya. Sebab energi seperti apa yang akan ditularkan ketika di dalam dirinya adalah hampa? Tugas seorang guru selain mengajarkan mata pelajaran sesuai dengan bidang keilmuannya, ia juga harus mampu tampil memberi banyak dampak positif kepada “generasi” melalui proses menginspirasi dan menanamkan nilai positif termasuk nilai cinta tanah air.
Penanaman nilai nasionalis itu harus dimulai dari guru itu sendiri. Seorang guru yang mencintai bangsanya akan mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk turut serta hadir dalam proses pemerataan pembangunan sektor pendidikan. Seorang guru yang mencintai bangsanya sejatinya dia sadar betul bahwa peradaban tidak lagi diraih dengan moncong senjata, tetapi peradaban akan dengan ujung pena. Pada akhirnya wujud dari semua kecintaan itu adalah bakti, yaitu giat menginspirasi “generasi” sebab dia menyadari bahwa generasinya akan berlalu kemudian digantikan oleh generasi dibawahnya. “Orang yang mulia adalah mereka yang mendorong agenda perubahan yang berguna bagi generasinya dan generasi setelahnya” (Andi Zul).
Kita tahu persis bahwa untuk mewujudkan impian adanya pemerataan pembangunan di sektor pendidikan, maka harus rela mengorbankan sedemikian hal. Kita harus berani terhempas dari berbagai kenyamanan yang ditawarkan modernisasi, serta menghadapi dinamika kehidupan yang berbeda dalam berbagai situasi. Namun kita harus terus berjalan untuk menggugah semangat itu, tanpa meninggalkan identitas kebangsaan sendiri. Semua halang rintang tidak akan berarti apa-apa, jika kita melaksanakannya dengan penuh kecintaan sebagai wujud nasionalisme.
Reportase: Aldi Amos
Editor: HaeR







