“Bagaimana di sana?” adalah pertanyaan yang paling sering muncul di benakku tepat ketika kaki akan dipijakkan di daerah 3T. Ya, SM-3T adalah program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal yang membuatku yakin mewakafkan diri selama kurang lebih se-tahun di Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Selama satu tahun, saya mengalami dan merasakan pengalaman baru mengajar di daerah yang tertinggal, terpencil, jauh dari peradaban, tidak ada teknologi, apalagi gadget canggih, bahkan listrik saja belum tentu ada. Hal itu menjadi tantangan tersendiri, meski jauh dari keluarga dan komunikasi kurang lancar, tetapi tidak menyurutkan semangat untuk terus melumat tantangan abdi di daerah 3T (preetttt ckckckck).
Ada banyak nilai tak terbeli di sini yang secara sederhana mengangkat kepalaku yang selama ini tertunduk lesu tak berirama, setiap hari saya belajar hal yang baru, pembelajaran tentang hidup pada khususnya. Belajar tentang bahasa daerah baru yaitu bahasa Manggarai, belajar bersuara lebih keras karena tuntutan kondisi kelas, belajar berinteraksi dengan rekan-rekan guru lain baik di sekolah maupun di Dinas Pendidikan setempat, belajar sabar menghadapi anak-anak dengan berbagai karakter yang berbeda, belajar mengerti kebiasaan dan budaya khas masyarakat setempat, belajar untuk lebih fleksibel mengenai perencanaan dan waktu dan masih banyak lagi. Tetapi menurut saya yang paling penting dari semuanya adalah belajar lebih banyak tentang arti kebahagiaan. Pelajaran tentang kebahagiaan ini paling sering saya dapatkan dari anak-anak, bagaimana bahagianya mereka hanya dengan mandi di laut setiap hari, bahagia karena bisa pergi ke sekolah dengan segala keterbatasan yang mereka punya, bahagia karena saya meluangkan cukup waktu untuk mendengarkan celoteh-celoteh lucu mereka. Itu kebahagiaan mereka, kebahagiaan saya? Kebahagiaan saya adalah melihat mereka mengalami perubahan-perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, dari yang tadinya masih sering bicara kasar atau hobi memukul teman, sekali waktu bisa berlaku dengan sangat santun dan menunjukkan sikap yang luar biasa baik, dari yang sebelumnya malas-malasan belajar membaca, sekarang malah menjadi siswa paling rajin membaca dan giat membantu teman-temannya yang lain yang masih memiliki kesulitan membaca. Kebahagiaan saya adalah melihat mereka bahagia.
Bahwa kebahagiaan tidak melulu bisa didapatkan hanya dengan harta terbeli, bahwa ternyata jalan menuju kebahagiaan lebih sederhana dari usaha pencapaian yang seringkali diupayakan oleh banyak pihak.
Bahwa bahagia itu sederhana, dengan sederhananya aku temukan senyum di setiap inci waktu yang terlewatkan. Setahun yang sempit untuk mewakafkan diri
Ramli, LPTK UNM, SMPN 2 Sambi Rampas, Manggarai Timur







