Mading atau bisa juga disebut dengan (majalah dinding) ialah hasil karya yang dirangkai oleh penulis dan dipajangkan guna untuk dilihat atau dibaca oleh khalayak ramai, biasanya mading ini berisi opini, cerpen, pantun, puisi, humor, artikel, informasi. Biasanya juga dilengkapi dengan galeri guna untuk menambah keindahan sebuah mading. Semua karya ini dirangkai oleh penulis dengan menggunakan kata-kata indah, baik menggunakan pripabahasa, majas, maupun makna kias.
Inilah mading edisi kedua di SMAN 2 Tasifeto Barat. Mading yang edisi pertama telah diterbitkan pada bulan yang lalu, yakni pada bulan Oktober 2014, untuk mading edisi kedua ini diterbitkan pada bulan November 2014, mading ini bertemakan tentang “Kepahlawanan”. Mengapa bertemakan kepahlawanan? Karena pada 10 November bertepatan dengan hari pahlawan, jadi saya mengajak siswa-siswi menulis, baik itu puisi, pantun, cerpen, humor serta galeri yang ada kaitannya dengan pahlawan Nasional Indonesia. Semua ini dibuat sebagai salah satu tanda mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang mati-matian di medan perang demi membela negara tercinta ini yakni Indonesia. Walaupun kita tidak bisa seperti para pahlawan yang berjuang di medan perang melawan penjajah dengan mempertaruhkan nyawa, para juga pahlawan tiada mengenal kata mundur, tetap maju melawan penjajah, walau hanya bersenjatakan sebilah bambu runjing sebagai senjata untuk melawan musuh.
Untuk mengumpulkan tulisan ini, baik itu puisi, pantun, cerpen, humor dan lain sebagainya itu tidak lah mudak. Kebanyakan siswa-siswi malas untuk menulis, padahal mereka memiliki bakat dalam menulis, melukis dan lain-lain. Tetapi dengan adanya sifat malas yang dipupuk membuat bakat mereka tidak tersalurkan. Namun, aku tidak berdiam diri menunggu mereka mengumpulkan tulisannya. Saya bekerja keras, yakni dengan memberikan motivasi, dan arahan selalu, dengan adanya motiasi tersebut, terkumpullah beberapa buah tulisan. Walau hanya sedikit, saya bangga kepada mereka, karena mereka telah mau berpartisipasi dalam mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan negara Indonesia tercinta ini.
Pertama saya mewajibkan kepada kelas bahasa untuk menulis itu semua, karena merekalah yang harus berperan penting dalam menerbitkan majalah dinding ini. Tidak hanya kelas bahasa, kelas yang lain juga saya wajibkan untuk menulis, tetapi hanya satu dua orang yang mau menulis. Di kelas bahasa ini saya jumpai ada beberapa orang yang memiliki bakat dalam menulis dan melukis.
Inilah mereka orang-orang yang luar biasa yang berada di kelas bahasa tersebut, yang pertama ada Yohanes Avensius Berek Laku, dan Emanuel Alexandri Laun. Yohanes dan Andry ini sama-sama memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teman-temannya. Yohanes dan Andry ini memiliki kemampuan melukis, selain melukis Yohanes juga suka menulis “humor”. Humor yang pernah ditulisnya yakni berjudul Ucapan “Epen kooooo…..”.
Hasil lukisan yang dibuat memng hasil karya tangan mereka sendiri. Lukisan tersebut memang luar biasa bagus. Bakat semaca ini mesti disalurkan supaya mereka bisa menjadi pelukis yang luar biasa. Selain itu ada juga Juni Rius Halla, Falentino Mau, Frederikus Sabtu Berek, Laoysius Loly, mereka yang ini memiliki bakat yakni menulis, baik itu menulis pantun, puisi dan lain sebaginya. Hasil tangan merekalah yang saya terbitkan di majalah dinding tersebut.
Setelah terkumpul beberapa tulisan tersebut. Barulah ditempelkan di papan yang bisa digunakan untuk mading. Setelah tulisan tersebut tersusun dengan rapi, mading kedua ini diberi berjudul “Lentera Hidup” yang artinya pelita hidup SMAN 2 Tasifeto Barat.
Sayangnya, mading yang telah tersusun dengan rapi itu dihancurkan oleh siswa-siswi SD, semua tulisan itu di robek dan di injak-injak, semua kertas itu berserakan dan berterbangan. Melihat semua itu ada rasa kecewa terpancar di raut wajah siswa-siswiku. Mereka telah bersusah payah menulis, namun tulisan mereka di robek sehancur-hancurnya. Rasa kecewa itu hanya bisa dipendam, mau marah kepada anak SD kita tidak bisa, karena gedung yang digunaan masalah ini miliknya SDK Nela. Jadi, mau tidak mau ya kita harus mengalah dan herus sabar dengan apa yang tela terjadi. Maklum saja, SMAN 2 Tasbar belum memiliki gedung sendiri, jadi untuk melakukan proses belajar mengajarpun, harus meminjam gedung SDK Nela.
Mading yang telah hancur tadi kami perbaiki kembali, tulisan-tulisan yang telah robek dan berserakan tadi ditulis ulang kembali dan disusun seperti semula. Setelah tersusun rapi barulah mading tersebut siap untuk dipajangkan. Inilah hasil karya siswa-siswaku yang luar biasa.
Hapidatul Hasanah, SM–3T di SMA 2 Tasifeto Barat, Desa Nela, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur







