Saya coba menarikan tangan di atas keyboard untuk menuliskan pengalaman ini melalui sebuah cerita tentang pengabdian. Rasanya rugi jika cerita SM-3T yang terlalu manis ini tidak saya bagikan kepada pembaca. SMA Negeri 1 Tasifeto Timur adalah sekolah tempat penugasan saya. Sekolah ini didirikan di ibu kota Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu tepatnya di Wedomu, Desa Manleten. Tidak ada yang terlalu istimewa di sini, dan jangan pernah coba membayangkan jika sekolah ini seperti sekolah populer di kota-kota besar. Sekolah yang di bangun pada tahun 2010, ini hanyalah satu dari sekian sekolah yang terletak di negeri batas ini, yang juga lengkap dengan keterbatasannya. Di tengah lokasi sekolah terhampar padang rumput yang kadang-kadang dijadikan sebagai tempat merumputnya sapi-sapi masyarakat.
Di sekolah ini hanya terdapat 7 ruangan belajar yang dimanfaatkan oleh 11 rombongan belajar. Sudah bisa dipastikan empat dari rombongan belajar yang ada harus menerima nomor antrian untuk belajar di sekolah ini. Ya, junior harus mengalah, kelas sore adalah solusinya, kelas X masuk sekolah sore sementara kelas XI dan XII masuk sekolah pagi. Selain ruangan belajar yang terbatas, sekolah ini juga tidak memiliki ruangan kepala sekolah dan majelis guru. Akan tetapi masih terdapat dua ruangan laboratorium yaitu laboratorium fisika dan biologi. Tapi apalah artinya ruangan tersebut jika tanpa perlengkapan, alhasil dua ruangan ini dimanfaatkan menjadi ruangan kepala sekolah, ruangan majelis guru, dan perpustakaan mini.
Tak kenal makanya tak sayang, itulah bunyi pepatah lama yang dalam maknanya. Saya akan memperkenalkan diri dulu, nama saya adalah Nono Suganda saya merupakan guru SM-3T yang ditempatkan di Kabupaten Belu dengan ibukota Atambua. Kota Atambua, jika kita coba cari menggunakan Google map atau Atlas, maka mata kita akan diarahkan ke ujung timur Nusantara ini. Memang kota ini tidak seperti tanah papua yang sudah terkenal, akan tetapi di tanah inilah sejarah bermakna, dulu daerah ini dijadikan tempat pengungsian WNI yang eksodus dari Republik Demokratik Timur Leste, provinsi muda kita yang telah melepaskan diri. Tanah ini menjadi saksi tingginya rasa cinta kepada sang merah putih. Sebagai seorang guru sejarah itulah yang selalu saya tanamkan kepada mereka, siswa-siswa yang selalu mengisi catatan hidup ini.
Berangkat dari LPTK Universitas Riau, hingga sampai penempatan di sekolah. Saya diberikan kepercayaan untuk mengajarkan mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Sejarah Peminatan yang diatur sesuai Kurikulum 2013. Satu semester saya mengajar sesuai dengan jurusan akademik saya. Tidak ada hambatan yang saya rasakan, terselip rasa bangga sebagai seorang guru muda, di sini peserta didik begitu hormat kepada guru, ucapan selamat pagi, selamat siang, dan selamat sore sudah menjadi tradisi bagi mereka. Begitu pula dengan rekan-rekan sejawat, mereka menerima saya dan tiga orang teman SM-3T lainnya yang berlatar belakang pendidikan kimia, matematika dan penjaskes dengan baik. Sebagai rekan profesi mereka sangat menghargai kami, tidak ada perbedaan antara kami, yang pasti kami adalah keluarga SMA Negeri 1 Tasifeto Timur. Tak jauh berbeda di dalam masyarakat, walaupun keyakinan berbeda, saya dan 4 rekan saya adalah muslim yang tinggal di daerah yang mayoritas pemeluk taat agama katholik, tetapi sedikitpun tidak ada perbedan dan diskriminasi yang saya rasakan, mungkin itulah arti pluralisme, dan tak sia-sia pahlawan bangsa patrikan Bhineka Tunggal Ika untuk persatuan bangsa ini.
Perjalanan waktu terus berlanjut, ketika pengabdian telah dimulai, saya temukan mereka, anak didik yang seperti batu cincin yang mulai memudar dan harus selalu diasah untuk tetap berkilau. Pagi-pagi mereka hadir ke sekolah dengan semangat, dan tak jarang mereka hadir lebih dahulu dari pada sang guru, di dalam kelas mereka belajar dengan serius, kadang-kadang mereka juga tertawa saat saya sedang menerangkan, ketika saya tanyakan kepada mereka, kenapa kalian tertawa? Dengan malu-malu mereka menjawab “kita orang lucu dengar pak guru omong”, ternyata permasalahnya adalah dialek dan penggunaan bahasa indonesia, di sini kadang-kadang mereka menggunakan bahasa indonesia yang tercampur dengan susunan bahasa daerah, sehingga ada kata-kata dalam bahasa indonesia yang tidak mereka mengerti. Pernahkan sebelumnya kita mendengarkan kata-kata seperti ini? “Pak Guru dong su betah ko tinggal di sini?” atau seperti ini, “Pak Guru sebentar saya boleh ke mess?” Kira-kira kalau kita artikan langsung kalimat-kalimat tersebut berbunyi seperti ini “ Pak Guru mereka sudah betah kah tinggal di sini?” sedangkan kalimat “Pak Guru sebentar saya boleh ke mess?” artinya “Pak Guru nanti saya boleh ke mess (tempat tinggal kami)?” Begitulah kira-kira, intinya unik dan menyenangkan yang penting satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.
Tapi ada yang sedikit membuat saya sedih, ketika saya sempat menanyakan kepada mereka nama Pahlawan Nasional yang terpampang di dinding kelas, semua tidak ada yang tahu, Sultan Hasanuddin, Diponegoro, Patimura atau yang lain. Jangankan menceritakan, menyebutkan asal pahlawan saja mereka tidak tahu. Apalagi ketika mereka mulai bercerita, terasa bahwa mereka begitu iri dengan negeri tetangga timur leste, mereka merasa terbelakang dari negeri yang baru seumur jagung itu. Sementara mereka harus berjuang keras dalam kehidupan, pulang sekolah harus bersawah ketika musim penghujan, jualan sayur, atau sebaliknya di musim kemarau harus menimba air menggunakan jerigen dari kali yang sedemikian jauh. Belum lagi untuk sampai ke sekolah mereka harus berjalan kaki sekian kilometer. Begitu berat tantangan hidup bagi mereka, tapi jangan tanyakan nasionalisme kepada mereka, darahpun siap mereka teteskan untuk negeri ini. Ya tuhan semoga di antara mereka yang saya didik engkau lahirkan tokoh-tokoh pemimpin bangsa.
Waktu terus berjalan, tidak terasa semester satu telah berakhir, masuk semester kedua perubahan terjadi. Kurikulum 2013 di batalkan kembali ke kurikulum KTSP 2006. Jam pelajaran sejarah kembali dikurangi. Sudah cut dulu dengan kurikulum 2013. Kegiatan belajar mengajar semester dua mulai berlajut. Hasil rapat dewan guru meminta saya untuk beralih profesi menjadi Guru Tikom dengan tetap mengajar sejarah hanya untuk dua kelas XI saja, awalnya saya ragu, terpikir oleh saya betapa sulitnya mengajar mata pelajaran Tikom di sekolah ini, jangankan komputer, buku pegangan guru saja tidak ada. Namun hati saya mengatakan bahwa setidaknya saya lebih bisa dari mereka, tidak ada salahnya jika ilmu yang ada ini saya bagikan kepada mereka, dan terbayang oleh saya tentang antusias siswa-siswa menerima materi pelajaran. Tawaran ini saya terima. Saya download buku BSE dari internet, dan buku inilah pegangan dalam mengajar.
Saya pinjam laptop rekan pengabdian saya, karena saya sendiri tidak memiliki laptop. Dengan laptop teman inilah saya mengajaran Tikom. Hari pertama masuk di kelas XII IPS.2. Awalnya saya tanyakan kepada mereka semua, apakah mereka memiliki laptop atau komputer, namun tidak ada satupun yang punya. Sekali lagi saya bertanya apakah di antara mereka ada yang bisa menggunakan komputer, mereka juga menggelengkan kepala, ada beberapa di antara mereka yang mengatakan, dulu mereka memang pernah belajar, tapi hanya sebatas teori, praktiknya mereka tidak pernah sama sekali. Saya mulai pembelajaran dari awal, saya jelaskan kepada mereka apa itu komputer, perangkat keras dan perangkat lunak. Waktu dua jam pelajaran terasa sedikit, apalagi melihat semangat mereka dalam belajar, dari mata mereka terlihat seolah-olah mengatakan bahwa mereka juga ingin seperti saya yang sudah bisa menggunakan komputer. Dari sini juga terlihat betapa canggungnya mereka dengan alat-alat teknologi.
Sedikit demi sedikit saya merasakan bahwa apa yang saya sampaikan mulai di pahami oleh mereka. Saya coba memberikan contoh kepada mereka tentang penggunaan Microsoft word dalam membuat sebuah tulisan. Saya perlihatkan kepada mereka tentang praktik menulis di lembaran kerja. Setelah selesai memberikan contoh, saya tanyakan apakah mereka mengerti, mereka semua menjawab bahwa mereka telah mengerti. Kemudian saya minta salah satu dari mereka untuk maju mempraktikkan ke depan apa yang sudah saya contohkan, tidak ada satupun yang bersedia maju ke depan. Saya tanya kepada mereka, kenapa mereka tak mau ke depan, tidak satu pun yang menjawab, mereka hanya tersenyum, dan ada yang tertunduk. Kemudian saya ulangi lagi tawaran ini kepada mereka. Lagi-lagi tidak ada satupun yang mau maju ke depan untuk mempraktikkan. Padahal saya sudah yakinkan kepada mereka, bahwa saya akan mendampingi dan membimbing mereka di depan kelas. Akhirnya dengan sedikit kesal saya katakan kepada mereka, saya akan tunjuk langsung di antara mereka untuk maju kedepan, mau tidak mau, siapa yang saya pilih harus maju.
Perlahan saya melangkah ke arah siswa yang ingin saya tunjuk, siswa tersebut bernama Margareta, saya panggil namanya, dan saya tarik tangan siswa tersebut. Saya terkejut, jangankan untuk maju dan mempraktikkan ke depan, untuk berdiri saja siswa tersebut tidak mau, ekspresi mukanya berubah seperti ingin menangis, kemudian saya bujuk lagi dia untuk maju dengan setengah memaksa, tapi apa yang dia katakan, kata-kata ini sangat menyetuh hati saya, anak SMA itu mengatakan dengan jujur seperti ini “Pak Guru saya takut nanti laptop bapak meledak karena saya” sejenak saya terdiam, saya hela nafas panjang, dalam hati ini berkata oh tuhan inikah yang dipikirkan oleh siswa-siswa ini? Jawaban ini keluar dari siswa SMA kelas XII, rasanya tidak mungkin, tapi inilah kenyataan yang saya dengar langsung dari telinga saya, di zaman yang sudah canggih ini masih ada jawaban siswa SMA seperti ini, memang tidak adil, di kota-kota besar siswa-siswa sudah bisa belajar dengan memegang android, tablet, intenet dan jejaring sosial, sementara di sini, di tanah pengabdian ini siswa ini malah tidak berani menyentuh laptop, perih rasanya hati ini, tapi inilah dia kenyataan, di negeri yang begitu kaya ini seharusnya kita bisa memberikan keadilan kepada penghuninya. Jadikanlah batas negeri ini sebagai pintu gerbang yang selalu dirias indah. Semoga harapan yang selalu saya doakan, untuk mereka siswa siswa didik yang telah saya berikan ilmu ini, agar bisa menjadi tokoh besar di negeri ini akan terwujud. Jika sekarang tidak bisa, nanti pasti bisa, mereka akan wujudkan dengan ide dan tangan mereka sendiri. Pengabdian ini tak kan pernah usai, untuk negeri tercinta ini. Lagu ini selalu ada di hati.
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri ku jalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Oleh Peserta SM-3T Nono Suganda, S.Pd
Koordinator SM-3T LPTK Universitas Riau Penempatan Kabupaten Belu







