Diamanahkan mengajar Mata Pelajaran Seni Budaya di kelas VIII, membuatku harus memperkenalkan alat musik kepada murid-muridku. Hal ini ditambah lagi dengan materi pelajaran yang memang menuntut siswa untuk bisa memainkan salah satu jenis alat musik. Namun kendalanya, sekolah sama sekali tidak menyediakan alat musik untuk mendukung mapel Seni Budaya ini. Sempat terpikir untuk membuat alat musik dari botol bekas. Karena yang saya ketahui, sangat mudah mendapatkan botol bekas di daerah pengabdian saat ini, mengingat masyarakatnya yang sering mengadakan pesta. Namun sayang beribu kali sayang, botol yang dijanjikan tidak pernah sampai ke tangan hingga 1 bulan lamanya. Sementara materi pelajaran sudah semakin dekat. Maka, harus saya kubur rencana ini hingga botol saya dapatkan.
Sebelum bermain alat musik, murid-murid saya beri waktu untuk menghapalkan not lagu “Hening Cipta” hingga lancar. Cukup 2 kali pertemuan, hampir seluruh siswa bisa menghapal dengan baik. Hingga suatu hari saya bawakan salah satu alat musik di hadapan mereka. Recorder,,, ya recorder. Mungkin bagi kita bukanlah barang yang unik, aneh, ataupun menakjubkan. Bahkan pada saat Sekolah Dasar, kita sudah diperkenalkan dan tahu cara memainkan alat musik ini. Tapi , tidak dengan murid-muridku di SMPN Raimanuk. Recorder bagi mereka adalah barang yang wahh…. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan saat memperkenalkan alat musik ini kepada mereka. Karena memang sebelumnya sempat saya tanyakan, apakah mereka tahu dengan alat musik recorder, tapi hanya satu dua orang saja yang menjawab “tahu”. Bahkan senyum sumringah, sempat tergurat dari bibir mereka, menyatakan kalau mereka sangat senang jika diajarkan memainkan alat music recorder. Begitulah ![]()
Dengan recorder yang ada, saya rancang jadwal latihan pada sore hari untuk 3 kelas dan ditempelkan pada masing-masing kelas. Setiap kelas terdiri dari 2 kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 9-10 orang. Latihan sengaja dibuat untuk sore hari, agar tidak menganggu proses belajar mengajar di kelas lain. Dua hari latihan berjalan, murid yang datang masih ramai. Hingga memasuki hari ketiga, tinggal sebagian dan akhirnya menghilang sama sekali. Saya sempat bingung dan menanyakan kembali perihal kesediaan mereka untuk latihan sore. Mereka menyatakan “bisa”. Namun, setelah ditanyakan kembali, ternyata kendala mereka adalah jarak tempat tinggal dengan sekolah yang sangat jauh, ada yang 1 jam berjalan kaki bahkan ada yang 2 jam. Hati sempat terenyuh mendengar pernyataan mereka. Apalagi ditambah isu penculikan anak yang kian merebak di tempat tinggal kami. Membuat saya semakin tak tega untuk menyuruh mereka tetap datang pada sore hari. Maka, jadwal latihan diadakan pada saat KBM di sekolah.
Bukan perkara mudah mengajarkan mereka bermain recorder. Hampir sebagian besar dari mereka masih awam dengan recorder. Jangankan untuk memainkan alat musik ini, memegangnya saja mereka masih susah. Bahkan ada yang mengggunakannya seperti seruling. Namun, hal yang membuat saya senang adalah semangat mereka untuk belajar. Meski dimulai dari nol, saya yakin mereka akan bisa. Ada yang cepat belajar, ada pula yang masih malu-malu. Semua memiliki keunikan sendiri dan perlu kesabaran sampai mereka bisa memainkannya dengan lancar.
“saya yakin, kebahagiaan seorang guru adalah saat melihat anak didiknya berhasil. Kelak, saya ingin menangis. Bukan karena kecewa, tapi karena bangga dan bahagia melihat anak-anak didikku berhasil”
Ditulis oleh Peserta SM-3T Sri Harya Ningsih, S.Pd, LPTK Universitas Riau, Lokasi penugasan NTT







