Sebenarnya malu sih menceritakan pengalaman ini. Ya, bisa dibilang aib bagiku. Tapi setelah dipikir-pikir, gak apa-apalah buat pembelajaran bagi guru-guru yang lain dan pembelajaran juga bagiku. Jangan pernah membuat kesalahan di depan siswa, kalau tidak mau kena akibatnya.
Aku memang selalu menanamkan sikap disiplin kepada anak-anak saat di sekolah, terkhusus untuk anak-anak kelas empat. Apabila ada siswa yang tidak disiplin, aku selalu memberikan hukuman kepada siswa tersebut. Pada saat awal-awal keberadaan ku di sekolah, sepertinya anak-anak ini sama sekali tidak mengenal sikap disiplin, mereka seenaknya aja datang ke sekolah tanpa memperhatikan harus jam berapa sampai ke sekolah. Tapi, setelah beberapa minggu keberadaan kami di sekolah tersebut, anak-anak sudah bisa menunjukkan sikap disiplinnya.
Anak-anak sudah bisa datang lebih awal ke sekolah, apabila ada yang terlambat, aku selalu memberikan hukuman, seperti membersihkan halaman, membersihkan kelas, ya kadang-kadang menyuruh siswa berdiri di depan kelas. Mungkin kebiasaan inilah yang menyebabkan siswa datang lebih awal dan menyebabkan siswa marah apabila ada orang lain yang terlambat ke sekolah, mereka selalu protes apabila ada yang terlambat.
Tapi, kalau aku yang terlambat bagaimana yaaaaaaa? ![]()
Kejadian terjadi pada hari jumat. Seperti biasa, setiap hari jumat kami melakukan kegiatan bersih-bersih dilingkungan sekolah, yang kami beri nama kegiatan tersebut dengan “jumat bersih”. Tapi untuk pagi ini entah kenapa aku agak malas-malasan datang ke sekolah. “Hari ini siswa-siswa bergotong royong membuat taman di depan kelas” kataku dalam hati. Jadi, aku sengaja berangkat ke sekolah agak siangan sedikit.
Biasanya aku berangkat ke sekolah jam 06:20, karna membutuhkan waktu satu jam untuk bisa sampai ke sekolah. Tapi untuk hari ini, aku berangkat jam 06:45, dengan alasan Cuma gotong royong di sekolah, tanpa ada proses pembelajaran di kelas. Pukul 07:45 aku sampai di sekolah, di sana aku sudah terlihat anak-anak sedang mencongkel-congkel tanah dengan menggunakan sekop dan linggis. Aku pun mendekati anak-anak yang sedang bekerja tersebut. Tapi kali ini anak-anak memandang aku dengan pandangan sinis, aku gak tau apa yang ada di dalam hati anak-anak ini.
“Pak guru terlambat” celetuk seorang siswa kelas enam yang bernama Tanta.
“Ia, Pak guru terlambat, Hukum!, sambung siswa kami yang bernama Allena kuwan.
“Hukum! Hukum! Hukum!, seloroh anak-anak yang lainnya.
“Woww, luar biasa anak ini, ternyata mereka kritis juga” kataku dalam hati.
Akupun berusaha mencari alasan untuk sedikit mengelak agar mereka mengerti mengapa aku terlambat. Tapi, anak ini tidak mau tahu dengan alasan yang aku berikan. Malahan mereka semakin kompak untuk sama-sama menghukum aku. Luar biasa malunya di depan anak-anak ini, biasanya aku yang menghukum anak-anak ini kalau terlambat, eh….kali ini aku pulak yang terlambat.
“Mati aku, malunya tuh di sini
” kataku dalam hati.
Akupun harus mematuhi aturan, aku juga tidak mau anak-anak ini nantinya memandang aku sebagai guru yang tidak komitmen dan tidak mematuhi aturan. Akupun harus mencontohkan sesuatu yang baik buat anak-anak, kalaupun aku yang salah, aku juga harus mau dihukum. Harus sportif donk!! J
“Baiklah anak-anak, hukuman apa yang harus pak guru lakukan?” tanyaku ke anak-anak ini.
“Cangkul tanah dan tanam bunga, Pak guru!” jawab Dessina kuwan dan siswa-siswa yang lain, sambil tertawa.
“Baiklah” kataku.
Akupun langsung mengambil sekop dan mencangkul-cangkul tanah yang akan di tanami bunga. Anak-anakpun seketika bergembira sambil tertawa-tawa melihat aku bekerja. Tapi aku bangga, karena mereka merupakan siswa-siswa yang kritis, mereka juga tidak segan untuk menghukum gurunya. Ini merupakan pelajaran hidup bagiku. Jangan sekali-kali membuat kesalahan di depan siswa. ![]()
Oleh Marsidi, Peserta SM-3T Universitas Riau, Penempatan Jayawijaya







