Menjadi seorang guru di SD YPPGI, di kampung Hitigima dengan kepercayaan dari kepala sekolah sebagai wali kelas IV merangkap guru bidang studi Matematika kelas V dan VI. Sempat terpikir bisakah saya? Apa yang harus saya perbuat? Anak SD? Saya lulusan yang diperuntukkan untuk siswa SMA, Kimia jurusan saya. Ilmu SD saya apa? Begitu banyak pertanyaan yang menghampiri Hotma sesaat setelah mengetahui sekolah tempatnya bertugas bukan sekolah menengah. Tantangan yang berkecamuk di kepalanya tidak boleh lama mengendap. Maka, langkah pertama yang diambilnya adalah tes baca, tulis, hitung. Sebagai wali kelas, ia wajib tahu kemampuan siswanya. Apa yang ditemukannya ternyata jauh dari harapan. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung anak-anak masih sangat kurang.
Dari dua puluh satu orang siswa hanya ada tiga anak yang bisa dimasukkan kategori lumayan bisa membaca. Lain lagi untuk menulis, dari tes menulis huruf kapital, huruf Kecil, dan menulis satu sampai dua kata, ternyata tidak jauh dari penemuannya untuk kemampuan membaca sebelumnya, sangat masih kurang. Pekerjaan awalnya belum selesai, tes terakhir yaitu tes hitung. Tes berhitung dimulai dengan meminta siswa menulis angka 1-100 yang ternyata jawaban mereka masih ke sana ke mari. Tes berhitung dilanjutkan dengan hitung sederhana 5+3=… , 7-4=…, dan seterusnya. Hotma sangat sedih mendapati hanya lima puluh persen siswa yang bisa. Hal seperti ini ternyata juga berlaku di kelas V dan VI. Pekerjaan dan tanggung jawab yang luar biasa untuk gadis mungil ini selama setahun agar dapat membawa perubahan bagi mereka.
Tantangan tidak hanya datang dari kemampuan belajar siswa yang kurang tetapi juga wangi asli dan keadaan fisik mereka yang membuat seluruh indra gadis berkulit putih ini menjadi konslet dan sulit untuk mengendalikan keadaan hatinya. Untuk mengatasi hal demikian agar tidak mengganggu konsentrasi mengajarnya, maka dia merundingkan dengan pasangan tugasnya Risa dari LPTK UNRI untuk mengadakan demo Hidup Bersih Sehat. Kalau raga anak didik bersih, bukan hanya anak-anak saja yang senang melainkan guru yang mengajar juga ikut senang dan semangat untuk membagi ilmu.
Sekolah Bersih Sehat. Kegiatan ini bertujuan mengajarkan anak-anak tentang hidup bersih. Minimal kalau tidak bisa mandi sebelum pergi sekolah karena suhu yang dingin dan kali yang jauh, paling tidak menggosok gigi, cuci muka, bersihkan tangan dan kaki, serta berganti baju. Setelah proses belajar, siang itu di tanggal 9 September 2014, mereka mengadakan praktek gosok gigi, cuci muka, tangan dan kaki secara bersama di halaman sekolah. Walaupun belum maksimal, saat ini anak-anak sebelum masuk sekolah, semua sudah bersihkan ingus dan kerak ingusnya. Mereka membiasakan siswa untuk tidak menarik-narik dan memelihara ingus di hidung tetapi meminta mereka membuangnya jika tiba-tiba ada yang meler di kelas. Pakaian anak-anak juga sudah mulai rapi dengan baju yang dimasukkan baik yang memakai seragam ataupun bukan seragam. Ilalang yang menempel di rambut karena tidur di honai juga sudah bersih. Paling tidak hanya satu-dua anak saja kelas rendah yang masih tidak mengindahkan. Bau masih menjadi sangat sulit diatasi. Kondisi yang mengharuskan mereka tinggal di honai dengan nyala api kayu bakar sebagai penghangat dan tidur se-atap dengan babi dan anjing membuat aneka wewangian masih ikut ke kelas.
Calistung Nonstop. Di kelas hanya ada tiga pelajaran pokok; matematika, bahasa Indonesia, dan agama. Sisanya untuk sementara dipending terlebih dahulu mengingat pelajaran basic belum tuntas. Di akhir bulan ketiga menjadi guru di Higitima, anak-anak sudah bisa didikte pelan-pelan walaupun masih ada kurang huruf seperti Y menjadi J, J jadi Y, T jadi R, P jadi B, B jadi D, D jadi B atau P yang dipengaruhi penggunaan bahasa Ibu. Walaupun masih dituntun, mereka sudah bisa membaca sedikit lebih cepat dan bisa memahami soal sederhana dari bacaan singkat. Bersisa lima orang lagi yang bener-bener buta huruf karena memang jarang ke sekolah dan enggan mengikuti les. Mereka biasa belajar bersama meski pulpen yang digunakan tidak lagi berkulit, yang tersisa hanya penampung tinta.
Kenali Indonesia. Pembelajaran Pancasila, lagu nasional, bendera yang tidak berbintang dan hanya berwarna merah-putih melambangkan berani dan suci sangat banyak di buku-buku teks pelajaran. Anak-anak masih sangat asing dengan semuanya.
Hotmauli Gultom
Peserta SM-3T LPTK Universitas Mulawarman
SD YPPGI, di Kampong Hitigima Jayawijaya-Papua







