Pocong nama sekolah tempatku mengabdi dia berada di Desa Gurung Turi yang hanya memiliki 3 dusun (Pocong, Nengkal, N’cuang) yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan namun dekat dengan suara merdunya jangkrik terletak di lempengan gunung poco ranaka . Segitiga Bermuda lain ( Rute Udik, Memori Hujan, Sepenggal pengisi perut).
Kehidupan berpetualang mulai terasa ketika pertama kali menginjakkan kaki di ujung aspal menuju pengabdian, bagaimana tidak untuk menuju lokasi harus menopang badan dengan kekuatan kaki berjalan sejauh 7 kilo yang harus menelusuri tebing yang curam, disamping harus mengeluarkan tenaga ekstra, batinpun bergulat dengan berjuta pertanyaan-pertanyaan tentang tempat tujuan kapan rute perjalanan berakhir. “Bapak masih jauh?” tanyaku kepada kepala sekolah, “ sedikit lagi enu (enu= panggilan sayang untuk anak perempuan), hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya.
Perasaan asing yang kian mengasing di bilik dada menuju lokasi terbayarkan dengan keramahtamahan warga dan suguhan pemandangan yang tiada tara, pegunungan yang menjulang kokoh, hamparan sawah yang terbentang seakan mengatakan selamat datang untuk ke – 4 Enu Molas.
Hari pertama di kampung Pocong (kampung lokasi penempatanku), agenda pertama pesiar-pesiar keliling kampung walau jalanan lumpur dan mengharuskan tenaga ekstra untuk menyusuri jalan tapi semangat di dada untuk berbaur dengan masyarakat lebih tinggi, dan perjalanan hari ini membuahkan sesuatu yang unik di kampung ini setiap ada warga yang memanggil untuk singgah harus singgah dan suguhannya pasti kopi tanpa gula alias kopi pahit. Ada lagi satu yang unik di kampung ini yaitu ada rumah-rumah yang tidak menghadap di jalan alias melingkar, penduduk menamakannya “kampung besar” setiap ada pesta pasti pelaksanaannya di kampung tersebut. Kampung besar memiliki filosofi tersendiri kenapa tidak menghadap ke jalanan. Mereka menginginkan anak cucunya kelak tidak akan meninggalkan kampung halaman walau merantau akan tetap mengingat dan kembali pada asalnya.
Sebulan dua bulan memoar hidup di perantauan semakin mulai terasa merindukan hujan-lah yang paling merasuk bahkan menandingi rindu keluarga. Secercah suara dentuman air hujan di atap rumah seng bisa dijadikan pelipur dahaga tubuh yang sangat menginginkan untuk di basuh dengan zat cair yang satu ini. Pocong sudah sebulan kehabisan pasokan air dari alam, sawah warga sudah kering, bahkan sungai tempat warga mengambil air pun hanya tinggal bebatuan kering yang menyilaukan mata di siang bolong.
Mengingat oase masih mengalir, di pagi buta pekerjaan rutin menenteng jerigen air mengantri di mata air bersama warga sudah lazim dan semestinya harus dilakukan, kenapa tidak kalau tak menunaikannya jatah memakai air tidak akan terpenuhi sampai keesokan harinya.
Siang terik itu di bawah pohon cengkeh kuajak bocah-bocah-ku menikmati pemandangan desanya sambil menyisipkan pelajaran hari itu (kemampuan berbicara) di mulut mereka berhamburan kata-kata dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa ibu (bahasa manggarai) karena bahasa persatuan negeri belum mereka kuasai, saling lempar katapun terjadi (berdiskusi) dan ada seorang makhluk bocah terpencil membuatku takjub dengan jawaban yang sebijaksana itu keluar dari mulut-nya. Peristiwa itu terjadi kita seorang kawannya sambil mengibas-ngibaskan secarik daun karena kepanasan sambil mengeluh tentang kemarau panjang desanya tanpa ada jeda waktu ternyata salah seorang langsung mengeluarkan kata bijak dari mulut mungilnya “ Tuhan takkan berikan cobaan melebihi kemampuanmu, ketika putus asa, ingatlah, jika Tuhan memberinya padamu, dia akan membantu melewatinya” sungguh aku terkaget dan merasa malu pada diri dan secepat kilat kubenarkan bocah luar biasa itu sambil menawarkan kerinduan kita pada memori daun pisang itu.
“Nona Lembata=Enu Molas” panggilan candaan kami berempat untuk menghilangkan jenuh di dada dan kerinduan akan tanah moyang semakin membuncah. Terutama sangat merindukan makanan khas tanah moyangku sudah jenuh dengan keterbatasan kuliner di desa ini yang hanya sayur song daeng (sayur ubi) acara resmi maupun tidak tiga menu utama song daeng, nasi merah, dan secangkir kopi pahit (sepenggal pengisi perut).
Pocong dan bocahku yang dahaga akan pendidikan izinkan aku mengenangmu dengan gratis aku bangga pernah mengukir kisah bersama untuk aku, kamu, dan kalian. Selamat Tinggal Bumi Nusa Nipa Manggaraiku.
Satu tekad di hati menunggu libur untuk bisa pulang mengunjungi batu nisan Ambo.
“Harga kebaikan manusia diukur menurut apa yang telah diperbuat (Ali Bin Abi Thalib)”.
Oleh Hernianti (Enni Onere)
Penempatan SMP Satap Pocong, Desa Gurung Turi, Kecamatan Poco Ranaka,
Manggarai Timur, NTT







