Membangun Indonesia dengan kompleksitas keunggulan dan berbagai kerawanannya, memang bukan perkara mudah. Sebab wajah Indonesia sesungguhnya adalah petak-petak nusantara dengan sisi gelap yang seringkali terlupakan. Ada yang mesti terus direngkuh di tapal batas. Kelangkaan guru, tak ada akses mudah menuju sekolah, dan setumpuk ketidakadilan hak pendidikan lain adalah masalah tak berkesudahan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Untuk itulah SM-3T hadir dan berkomitmen untuk meniadakan batas kesenjangan itu. Sejak tahun 2011, nyaris 15.000 sarjana pendidikan telah membuktikan diri sebagai pengabdi sejati. Setahun mengabdi, menempa diri, sekaligus turut merekatkan Negara Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak cukup sampi di sini, mereka lalu kembali dikarantina dalam asrama selama mengikuti program Pendidikan Profesi Guru, sebelum siap menjadi guru harapan masa depan. Berbagai nilai karakter ditumbuhkan selama proses itu.
Sekiranya SM-3T hanya kita pahami sebagai program pemerintah yang harus dijalankan, maka semestinya akan segera berakhir ketika peserta SM-3T selesai mengabdi setahun di ujung negeri, atau paling lama setelah sertifikat pendidik berada dalam genggaman. Cukupkah? Belum!
Peserta dan alumni SM-3T tersebar di mana-mana. Sebagian masih aktif mengabdi, sebagian sedang mengikuti pendidikan profesi, sebagian menjadi GGD, sebagian menjadi guru anak-anak Indonesia di luar negeri, dan sebagian lagi sedang berupaya mengambil peran terbaik di berbagai peluang dan kesempatan. Lalu apa yang bisa menjamin benih-benih nilai karakter yang telah ditebar selama proses pengabdian dan pendidikan profesi itu akan tetap tumbuh? Apa yang menjamin api semangat kepedulian itu tetap terjaga di dada kalian? Apa yang bisa menjamin kita masih saling peduli? Apa yang menjamin marwah itu terus tetap terjaga?
Kepada Yayasan Masyarakat SM-3T Institute melalui peluncuran website http://masyarakatsm-3t.com pada hari ini, 22 November 2016, kita banyak berharap, ketika ruang dan waktu telah menceraikan kita, ketika bertemu secara fisik itu menjadi sesuatu yang terlampau mewah untuk dilakukan. Saya berharap kiranya website yang telah kita bangun ini betul-betul akan mampu menyatukan kita, menyamakan derap langkah kita. Saya juga berharap media ini mampu menjadi jembatan kita untuk saling berbagi, saling mengingatkan, saling menguatkan, bukan sebaliknya.
Sekali lagi saya mengingatkan, mungkin sebagian dari kalian belum menyadari bahwa SM-3T adalah keluarga besar, berpotensi menjadi kekuatan besar, komunitas yang patut diperhitungkan oleh siapapun, dengan syarat kalian harus kompak-padu dalam satu jaringan yang efektif. Dan kita menaruh harapan besar pada kekuatan kalian melalui media ini.
Akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kita bermunajat agar niat mulia dan segala yang kita lakukan selalu diberikan petunjuk dan bimbingan-Nya. Amin
Ayahanda Agus Susilohadi
Pencetus Program SM-3T sekaligus
Pembina Yayasan Masyakatat SM-3T Institute








Semoga selalu memberikan kontribusi terbaik untuk pendidikan negeri ini. Salam maju bersama!
Semoga selalu bisa mengedukasi masyarakat dan bisa mwmberikan kontribusi terbaik. Mari Maju Bersama Membangun Masyarakat!!!!! Kita mulai dari diri kita dan di sekitar kitq
selalu merasa bangga menjadi bagian dari Masyarakat SM3T.
Semoga masyarakat sm-3t selalu menjadi garda tersepan dalam membangun pendidikan diindonesia. Menjadi abdi negara yang profesional.salam semangat selalu.
Terima kasihku kepadaMu ya Allah diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari komunitas ini sehingga semangatku yg dulunya menyala tdk akan redup dan mati dengan adanya MSI ini, kepedulianku nantinya tdk akan berakhir dengan menjadi salah satu GGD, teruslah hadir untuk mereka di tepampat yang sunyi seperti lilin menerangi kegelapan walaupun tak terang tapi dengan sinar itu mereka mampuu melihat walaupun hanya meraba
Semoga marwah dan marwan akan selalu terjaga. Amin
Semoga kita bisa lulus semua. Dan bisa bertemu di istana negara dengan tujuan yg sama yaitu GGD 2
Terima kasih pak. Saya baru sekali bertemu langsung dengan Bapak, dan baru sekali menyaksikan langsung Bapak berbicara di podium tetapi saya selalu yakin meski lewat tulisan tak mengurangi besar dan dalamnya kesungguhan Bapak dalam menyampaikan sesuatu hal. Jika boleh saya katakan, pengantar di atas cukup sederhana kesungguhanlah yang membuatnya istimewa. Tak berlebihan kalau kami harus tertunduk berhening cipta ketika Ka’ Haru membacakannya dengan intonasi dan ritme yang teratur.
Terima kasih pak, terima kasih selalu.