Hidup di Nusa Nipa meninggalkan banyak cerita, suka-duka silih berganti, sebab terang tak selamanya terang, begitupun dengan gelap. Hidup dengan segala keterbatasan termasuk listrik dikhiasi kisah-kisah lucu, menggelitik, terkesan udik sekaligus mengocok perut adalah saat-saat menjelang magrib ketika genset mulai berbunyi. Saat itu kami “Enam Anak Daeng” tanpa diaba-aba langsung berteriak hore secara bersamaan dan mulai sibuk memasang charger yang dengan seketika tiga colokan bermata lima langsung penuh dengan charger telepon selular dan charger laptop. Rutinitas yang mesti dilakoni setiap hari saat senja memerah terpantul dari pasangnya laut Flores.
Pukul 22.00 saat tanda lampu berkedip 3-5 kali maka saat itulah waktu menantikan genset padam untuk digantikan dengan pelita yang terbuat dari kaleng susu. Simbol kedipan lampu itu mengakhiri aktifitas malam, meski mata belum meminta jatah dan pekerjaan menggunakan laptop belum usai, mencoba bertahan di tengah gelap menyalakan laptop adalah hal sia-sia, bagaimana tidak ketika hanya laptop yang aktif maka hewan-hewan kecil yang beterbangan mengerubungi sumber cahaya masuk ke mata, mulut, hidung, dan bahkan telinga.
Lampu padam adalah saat yang tepat untuk mengisi waktu bercengkrama dan bertukar pikiran sekaligus membahas hal-hal yang mengganjal di hati dengan teman se-kamar di dalam kelambu pemberian Ibu Nevi (teman sejawat di Satap Baras, Sambi Rampas, Manggarai Timur, NTT). Keterbatasan hidup di pelosok menetaskan pribadi yang kuat, sabar dan lebih banyak bersyukur dari sebelumnya. Di tengah keterbatasan ada kedamaian di sana.
“Lewat Nusa Nipa aku temukan banyak kejutan berkehidupan”
Oleh Peserta SM-3T Fitriani, Penempatan Satap Baras, Manggarai Timur, LPTK UNM







