Saya peserta SM-3T yang ditempatkan di Papua tepatnya di Kab. Biak Numfor dan mengajar di Sekolah SMP YPK Immanuel Agung Samofa sebagai guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Sebenarnya di sekolah ini hanya terdiri dari 6 rombongan belajar yang masing-masing kurang lebih 30 siswa per rombel.
Awal cerita, kira-kira pukul 9.00 waktu Papua saya mengajar di sekolah tersebut. Rencana saya akan memberikan praktik olahraga senam lantai yaitu roll ke depan. Dengan semangat ’45’ saya beserta beberapa siswa telah mempersiapkan alat untuk melakukan senam lantai di lapangan karena berhubungan sekolah tersebut tidak memiliki gedung olahraga terpaksa kami menggunakan lapangan olahraga saja. Beberapa saat kemudian semua siswa yang mengikuti olahraga khususnya pada saat itu adalah kelas IXa yang sudah siap di lapangan lengkap dengan pakaian olahraga. Dengan sedikit arahan saya mempersilahkan untuk pemanasan selama kurang lebih 10 menit, setelah itu saya memberikan sedikit teori tentang senam lantai khususnya roll ke depan dan memberikan contoh cara yang tepat melakukan roll ke depan. Dimulai dari sikap awal atau sikap sempurna, cara peletakan tangan di matras posisi kaki, lengan, kepala, dagu, posisi badan pada saat guling ke depan, akhir setelah guling ke depan dan diakhiri kembali dengan sikap sempurna.
Setelah memberikan teori beserta contoh cara guling ke depan maka saya mempersilahkan satu persatu siswa untuk mencoba melakukan guling ke depan dengan bantuan terlebih dahulu. Satu persatu siswa melakukan guling ke depan, ada gulingnya miring ke kanan, miring ke kiri, ada yang sama sekali tidak bisa guling kedepan, bahkan ada yang bengong tidak tahu mau bikin apa? Tapi semua siswa menikmati olahraga tersebut walaupun cara melakukan guling ke depan masih kurang tepat.
Waktu terus berlalu dan akhir olahraga pun selesai, semua siswa saya persilahkan melakukan pendinginan sebelum mengakhiri mata pelajaran olahraga. Setelah pendinginan saya melakukan evaluasi dengan melakukan tanya jawab dengan siswa. Dan pada saat itu seorang siswa dengan sedikit malu-malu mengangkat tangan dan bertanya, “Ibu guru, ini dagukan?” sambil menunjuk dahinya serta dengan menggunakan logat khas papuanya. Dan dengan serentak semua siswa tertawa terbahak-bahak, saya sebagai gurunya juga tak sadar diri ikut tertawa. Dan ternyata dialah orangnya yang dari tadi bingung tak tahu melakukan guling ke depan karena dalam melakukan guling ke depan ada tahapan yang menyatakan bahwa pada saat guling ke depan kepala ditekuk dan dagu menyentuh dada, pada pernyataan itulah dia tidak bisa melakukan guling ke depan karena dia tidak bisa membedakan mana dagu mana dahi? Maka saya pun menggunakan sisa waktu untuk menjelaskan kembali tahapan guling ke depan dengan menunjuk bagian-bagian badan pada saat melakukan guling ke depan. Jadi intinya hati-hatilah membedakan sesuatu.
Itulah pengalaman pertama saya mengajar di sekolah SMP YPK Immanuel Agung Samofa yang siswanya rata-rata asli orang papua tersebut.
Oleh Peserta SM-3T Hamdiana, Penempatan Biak Numfor, LPTK UNM







