SOLOK, Sumatera Barat– Mengusung misi ganda untuk kecerdasan bangsa dan kemanusiaan, Masyarakat SM-3T Institute (MSI) menggelar rangkaian aksi “Edukasi Literasi Guru (ELG)” serta “SM-3T Peduli” di SDN 01 Muara Pingai, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, pada 6-7 Februari 2026. Kegiatan ini hadir sebagai oase bagi para pendidik dan siswa yang tengah berjuang bangkit di tengah sisa-sisa material pascabencana banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut.
Hari Pertama: Menyalakan Pelita Literasi dari Ruang Kelas
Kegiatan hari pertama, Jumat (6/2), difokuskan pada penguatan kapasitas pendidik melalui program Edukasi Literasi Guru (ELG). Di tengah keterbatasan fasilitas akibat dampak bencana, guru di Kecamatan Junjung Sirih dan X Koto Singkarak yang sebagian besar sekolahnya terdampak, saling memberi informasi mengenai kegiatan Edukasi Literasi Guru melalui grup WhatsApp. Informasi tersebut juga disampaikan saat pelaksanaan kegiatan KKG di wilayahnya masing-masing. Tingginya antusiasme terlihat dari banyaknya yang secara aktif menghubungi pihak penyelengara, khususnya Tilok Solok, Ibu Nasmi Elda Syafrina, S.Pd.,Gr bersama rekan-rekan panitia untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Dalam pelaksanaan kegiatan, para guru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias dan partisipasi aktif. Interaksi dua arah terjalin dengan baik selama penyampaian materi literasi oleh Ketua PGRI Kabupaten Solok, serta Ibu Gusnani, S.Pd.M.Pd yang membahas Pembelajaran Mendalam dan Pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) dalam pembelajaran. Kegiatan ini Agenda ini dirancang secara profesional dan edukatif, dengan pendekatan literasi kreatif yang kontekstual dan relevan bagi sekolah di wilayah terdampak bencana.
“Kami merasakan energi baru melalui kegiatan ini. Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan sarana untuk membuka jendela logika anak-anak kami di Muaro Pingai,” ungkap Ibu Suprawati S.Pd, salah satu peserta Edukasi Literasi Guru (ELG).
Beliau juga memberikan apresiasi dan rasa bangganya kepada Masyarakat SM-3T Institute (MSI) atas terselenggaranya kegiatan ini di wilayah terdampak bencana. Menurutnya, program tersebut membantu para guru dalam mengembangkan pembelajaran literasi, khususnya literasi digital, termasuk pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) Merah Putih yang merupakan bantuan dari Presiden Republik Indonesia. Lebih lanjut, beliau menilai bahwa semangat MSI mencerminkan semangat para guru yang pernah mengabdi di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) untuk kembali ke kampung halaman dan berkontribusi bagi kemajuan daerah. Kolaborasi antara pengurus MSI dan para alumni dalam melanjutkan program Edukasi Literasi Guru dinilai sebagai langkah strategis dan berkelanjutan.
Hari Kedua: Basuh Luka Banjir Melalui SM-3T Peduli
Memasuki hari kedua pelaksanaan kegiatan, Sabtu (7/2), suasana berubah menjadi penuh empati dan keharuan. Tim Masyarakat SM-3T Institute menyusuri kawasan SDN 01 Muara Pingai yang masih menyisakan jejak banjir bandang berupa susunan batu dan kerusakan lingkungan akibat bencana yang terjadi pada akhir bulan November lalu.
Melalui program SM-3T Peduli, tim menyalurkan berbagai bentuk bantuan, mulai dari logistik, pakaian muslim lengkap, perlengkapan sekolah, hingga mengadakan kuis dan permainan edukatif bagi siswa-siswi terdampak bencana. Meskipun kondisi sekolah sempat terendam air dan hingga kini masih menyisakan kekhawatiran warga sekolah ketika hujan turun, karena genangan air kerap mencapai halaman sekolah. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi keceriaan anak-anak saat TIM SM-3T Peduli hadir menyapa mereka. Sambutan hangat, senyum polos dan sapaan penuh semangat dari para siswa justru memberikan energi bagi tim MSI dalam menyalurkan bantuan.
Sebelum penyaluran bantuan, siswa kelas 5 SDN 01 Muara Pingai diajak bermain game edukatif dan menjawab pertanyaan sederhana yang dipandu oleh tim MSI. Suasana berlangsung ceria dan penuh tawa. Kebahagiaan terpancar jelas ketika para siswa menerima bingkisan berwarna kuning berlogo MSI yang berisi pakaian muslim lengkap untuk digunakan pada hari Jumat, serta pembagian 36 kodi buku sebagai dukungan penguatan literasi. Salah satu momen paling menyentuh datang dari pengakuan seorang siswa yang terdampak langsung bencana.
“Rumah saya hanyut waktu air besar datang. Sekarang saya belum punya rumah lagi. Masih menumpang di rumah Angku, kakek,” ujarnya lirih sambil meneteskan air mata. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas pakaian seragam muslim yang diterimanya.
Apresiasi dan Harapan Keberlanjutan
Kehadiran Masyarakat SM-3T Institute di SDN 01 Muaro Pingai mendapat apresiasi mendalam dari berbagai pihak. Ketua PGRI Kabupaten Solok, Bapak Yongkermen, S.Pd, menegaskan bahwa model kolaborasi seperti ini sangat dibutuhkan oleh para guru hebat yang berada di garda terdepan pendidikan.
Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Solok, Bapak Elafki, S.Pd. Melalui pesan WhatsApp, beliau menyampaikan penghargaan atas dedikasi Yayasan Masyarakat SM-3T Institute. Menurutnya, MSI tidak hanya hanya hadir membawa pengetahuan, tetapi juga menghadirkan kepedulian dan empati melalui aksi kemanusiaan. Beliau berharap Edukasi Literasi Guru dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan, bukan sekadar kunjungan sesaat.
Hal serupa disampaikan oleh Koordinator Wilayah Kecamatan Junjung Sirih, Bapak Efrizal, S.Pd M.Pd yang tampak terharu data memberikan sambutan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya pernah bertugas di daerah 3T dan menilai kehadiran adik-adik MSI sebagai wujud nyata dedikasi pendidikan dan kemanusiaan. Aksi MSI di wilayah terdampak bencana tersebut disebutnya sebagai kontribusi luar biasa bagi daerah dan masyarakat.
Penutup
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan kemanusiaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Melalui penguatan literasi, guru diberdayakan; melalui aksi kepedulian, harapan dan semangat siswa dipulihkan. Masyarakat SM-3T Institute berkomitmen untuk terus mengawal tindak lanjut dari edukasi dan kepedulian ini, guna memastikan semangat literasi di Kabupaten Solok tetap menyala. Meski badai telah berlalu, namun harapan dan optimisme harus terus tumbuh.
Koresponden:
Tim Publikasi MSI












