PIDIE JAYA-ACEH BESAR, Aceh– Banjir telah surut, namun dampaknya masih terlihat jelas di ruang-ruang kelas, pada buku-buku yang rusak, serta pada wajah anak-anak yang menyisakan kegelisahan. Dalam situasi tersebut, Masyarakat SM-3T Institute hadir tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga menguatkan harapan. Melalui gerakan SM-3T Peduli, upaya pemulihan semangat belajar bagi peserta didik dan guru terdampak terus digerakkan secara bertahap. Upaya tersebut kemudian direalisasikan dalam sebuah kegiatan edukatif yang dirancang secara sistematis di wilayah terdampak. Mengangkat tema “Menggenggam Harapan Pascabanjir Melalui SM-3T Peduli”, kegiatan ini menjadi bentuk konkret kepedulian sekaligus komitmen untuk menjaga keberlangsungan di tengah dampak bencana.
Perhatian tidak hanya difokuskan pada siswa, tetapi juga kepada para guru sebagai aktor utama dalam proses perubahan pendidikan. Pada 12 Februari 2026, di SDN Krueng Kala, Kabupaten Aceh Besar, diselenggarakan kegiatan Edukasi Literasi Guru Indonesia sebagai bagian dari rangkaian penguatan pascabencana. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi, refleksi, dan penyegaran motivasi bagi para pendidik. Sebab, penguatan harapan para siswa berawal dari ketangguhan dan kesiapan guru dalam menjalankan perannya. Gerakan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan wujud komitmen kemanusiaan dan tanggung jawab moral. Setiap buku yang disalurkan merepresentasikan dukungan nyata, dan setiap langkah para tim mencerminkan keyakinan bahwa pendidikan harus tetap berjalan dalam kondisi apapun. Melalui SM-3T Peduli, upaya untuk menjaga denyut nadi pendidikan terus dihadirkan di Aceh, dari Pidie Jaya hingga Aceh Besar, agar guru dan siswa, tetap memiliki semangat untuk bangkit.
Hari Pertama: SM-3T Hadir Menumbuhkan Harapan Siswa Pascabanjir
Suasana di Kabupaten Pidie Jaya pagi itu masih menyisakan jejak pascabanjir yang melanda beberapa waktu lalu. Di lingkungan SDN 3 Meurah Dua, bekas genangan air masih terlihat di sejumlah sudut sekolah, menandakan aktivitas belajar sempat terdampak cukup signifikan. Dalam situasi tersebut, pada Minggu, 08 Februari 2026, rombongan SM-3T Peduli mengunjungi sekolah tersebut untuk menyalurkan bantuan sekaligus memberikan dukungan psikososial kepada siswa dan guru. Kehadiran tim disambut Kepala Sekolah, Ibu Elida Fitri, S.Pd., bersama para alumni SM-3T Pidie yang selama ini aktif mendampingi masyarakat setempat.
Melalui gerakan literasi yang digelar pada kesempatan itu, para siswa yang sebelumnya diliputi kecemasan, diajak kembali membangun optimisme. Buku-buku kembali dibuka, cerita dibacakan dengan pendekatan hangat dan partisipatif, serta motivasi belajar ditumbuhkan di Tengah suasana pemulihan. Di lokasi tersebut, literasi dimaknai tidak sekadar aktivitas membaca dan menulis, tetapi sebagai sarana memulihkan harapan dan menyambung kembali cita-cita yang sempat tertunda akibat banjir.
Dalam sambutannya, Ibu Elida Fitri menyampaikan bahwa bajir tidak hanya merusak fasilitas, tetapi juga memengaruhi kondisi emosional dan motivasi belajar siswa. Sejumlah buku dan perlengkapan sekolah dilaporkan rusak, bahkan beberapa siswa sempat mengungsi bersama keluarga mereka. Beliau mengapresiasi kehadiran SM-3T Peduli yang dinilai memberi dukungan moral sekaligus membangkitkan kembali semangat belajar anak-anak.
Sesi interaksi bersama siswa turut mewarnai kegiatan tersebut. Beberapa siswa berbagi pengalaman saat banjir terjadi. Seorang siswa kelas IV menceritakan bagaimana air memasuki rumahnya pada malam hari sehingga ia dan keluarganya segera menyelamatkan diri sambil membawa pakaian seadanya. Ia juga mengungkapkan kesedihannya karena buku-buku pelajaran yang dimilikinya tidak lagi dapat digunakan akibat terendam banjir. Siswi lainnya tampak tegar saat menceritakan ketakutan yang dirasakannya ketika debit air terus meningkat. Ia khawatir sekolahnya akan rusak rusak, dan tidak lagi menjadi tempat bertemu dengan teman-temannya. Bagi para siswa, sekolah bukan sekadar ruang belajar, melainkan juga ruang aman untuk bertumbuh dan merajut cita-cita.
Relawan SM-3T Peduli menyimak setiap cerita dengan empati dan perhatian. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa perlengkapan sekolah dan kebutuhan belajar, tetapi juga dukungan moral bagi anak-anak yang sempat diliputi rasa takut dan kehilangan akibat banjir. Alumni SM-3T Pidie Jaya yang turut hadir menunjukkan keterlibatan emosional yang mendalam. Mereka memahami tantangan pengabdian di daerah dengan berbagai keterbatasan. Bagi para alumni SM-3T, menyaksikan siswa kembali tersenyum menjadi momen yang bermakna. Salah seorang alumni menyampaikan bahwa sekolah tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan bagian dari perjalanan pengabdian dan perjuangan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama serta sesi motivasi singkat untuk menyalakan kembali semangat belajar siswa. Suasana yang semula diliputi kesedihan berubah menjadi lebih hangat. Di wajah-wajah kecil itu, kembali terpancar semangat untuk menatap masa depan.
Hari Kedua: Masyarakat SM-3T Institute Dorong Penguatan Literasi Guru di Pesisir Lhoong
Krueng Kala, 12 Februari 2026 – Semangat perubahan terasa kuat di SDN Krueng Kala, Kabupaten Aceh Besar. Sebanyak 70 guru dari berbagai sekolah di Kecamatan Lhoong mengikuti kegiatan “Edukasi Literasi Guru Indonesia” program Masyarakat SM-3T Institute yang diinisiasi oleh para alumni SM-3T di Aceh. Koordinator kegiatan, Zul Ikram, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai fondasi berpikir kritis, reflektif, dan transformatif.
Materi pertama disampaikan Zulfadhli, S.Pd., Gr., yang memaparkan enam literasi dasar, meliputi literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Pemaparan disertai contoh praktik di sekolah mendorong diskusi aktif. Para peserta terlibat dalam tanya jawab dan berbagi pengalaman terkait tantangan literasi di satuan pendidikan masing-masing.
Selanjutnya, Muhammad Syukur, S.Pd., Gr., membawakan materi pembelajaran mendalam (deep learning). Ia mendorong guru untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual, tidak sekadar berorientasi pada ketuntasan materi. Pengalaman pengabdiannya di daerah 3T menjadi refleksi bahwa keterbatasan dapat melahirkan inovasi dalam proses belajar mengajar.
Materi ketiga disampaikan oleh Muhammad Syarif, S.Pd., Gr., terkait pemanfaatan TV Merah Putih sebagai media pembelajaran. Ia menjelaskan potensi teknologi dalam memperluas akses sumber belajar dan meningkatkan motivasi siswa. Sementara itu, Agus Riansyah, S.Pd., Gr., mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan sebagai arsip Gerakan literasi di Lhoong.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelatihan, tetapi juga ruang penguatan moral dan profesionalisme guru. Sejumlah peserta berharap program serupa dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah.
Apresiasi dan Harapan
Apresiasi atas inisiatif Masyarakat SM-3T Institute juga disampaikan oleh pemangku kepentingan pendidikan di Pidie Jaya dan Aceh Besar. Kepala SDN 3 Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Elida Fitri, S.Pd menyatakan bahwa rasa terima kasih yang mendalam atas kepedulian dan kontribusi nyata Masyarakat SM-3T Institute. Menurut beliau, kehadiran Masyarakat SM-3T Insitute bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memberikan dampak nyata bagi guru dan siswa. Menurutnya, semangat literasi tersebut menjadi motivasi tambahan bagi sekolah untuk terus berbenah pascabanjir.
Beliau berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu momentum, tetapi terus berlanjut dan menjadi mitra strategis sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya penguatan literasi dan karakter siswa.
Senada dengan itu, Ketua Gugus Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Junaidi, S.Pd., menilai kehadiran Masyarakat SM-3T Institute sebagai bentuk kolaborasi nyata dalam penguatan pendidikan. Ia berharap sinergi tersebut dapat terus berlanjut guna memperluas jangkauan program edukasi literasi dan pendampingan guru di Aceh. Apresiasi yang disampaikan mencerminkan harapan agar progam Edukasi Literasi Guru Indonesia yang digagas Masyarakat SM-3T Institute dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Penutup
Kegiatan yang dilaksanakan di Pidie Jaya dan Aceh Besar menunjukkan bahwa penguatan literasi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kembali optimisme pendidikan, baik di tengah pemulihan pascabencana maupun dalam upaya peningkatan kapasitas guru. Harapannya, kolaborasi yang terbangun mampu memperkuat ekosistem pendidikan sehingga guru semakin berdaya dan siswa tetap memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.
Koresponden:
Tim Publikasi MSI











