Masyarakat SM-3T Institute (MSI) melalui Basecare Edukasi Indonesia Pusat Koordinasi Makassar bekerjasama dengan Alumni PPG SM-3T dan Guru Garis Depan Jeneponto menyelenggarakan Sarasehan Literasi Sekolah di SDI No. 244 Papalluang dan SMP Negeri 6 Bangkala, Desa Pappalluang, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, pada tanggal 15-18 Februari 2018. Acara yang digawangi oleh Presidium Literasi Masyarakat SM-3T Institute dan Tim Kerja Gotong Royong Mengedukasi Anak Negeri ini menghadirkan sejumlah kegiatan literasi, yaitu Penyaluran Bahan Bacaan serta Alat Tulis Menulis, Kelas Menulis, Pembinaan Mading, Penataan Sudut Baca, Bedah Film Edukasi, Inspirasi Literasi, dan Unjuk Karya
Sarasehan Literasi Sekolah ini merupakan agenda literasi perdana Masyarakat SM-3T Institute yang dihadiri oleh orang tua siswa, masyarakat, tenaga pendidik, dan pemerintah setempat untuk menggiatkan literasi dalam suasana santai dan egaliter. Tentu di dalam kegiatan ini diharapkan membangun semangat kebersamaan untuk membangun budaya literasi di tengah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi perpanjangan tangan implementasi program pemerintah yang telah mencetuskan program Gerakan Literasi Sekolah dalam lingkup jenjang sekolah dasar, menengah, serta sekolah luar biasa di berbagai daerah.
Gerakan Literasi Sekolah berorientasi pada sekolah. Setidaknya sudah dua tahun berjalan sejak digiatkan oleh pemerintah, sesuai peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menjadi dasar bagi lahirnya program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Salah satu tujuan Permendikbud ini yaitu menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan keluarga. Maka, sejak 2016, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah gencar menyosialisasikan GLS melalui beragam jalur kegiatan dalam bentuk pelatihan (workshop), bimbingan teknis, dan rapat koordinasi. Berbagai pemangku kepentingan dilibatkan, antara lain Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, unit utama di lingkungan Kemendikbud, Perpustakaan Nasional, penerbit, kementerian lain, dan perguruan tinggi. Namun, kenyataan di lapangan, jangankan untuk konsisten menjalankan program 15 menit membaca, pemahaman tentang program GLS saja masih kurang merata. Inilah salah satu yang menjadi penyebab program GLS belum berjalan maksimal

Dari pemantauan kami, terdapat tiga hal mendasar yang menyebabkan program GLS tidak berjalan dengan maksimal, terutama di kawasan pinggiran Indonesia. Pertama, minimnya ketersediaan buku. Buku yang dibaca umumnya buku pelajaran. Buku pelajarannya pun masih terbatas dan bukan buku pelajaran mutakhir. Di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), warga sekolah dan masyarakat sulit mengakses buku. Toko buku pun tidak ada. Kedua, kapasitas literasi warga sekolah. Di sekolah, masih banyak guru yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam menjalankan program literasi. Makanya perlu diselenggarakan pelatihan guru yang menyinkronkan pemahaman literasi di dalamnya, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun komunitas literasi terkait
Ketiga, tempat membaca yang kondusif. Perpustakaan diharapkan menjadi lokasi membaca siswa yang menyenangkan. Tapi belum semua sekolah memiliki perpustakaan yang memadai. Di SD misalnya, tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang telah diaktifkan sebagaimana mestinya. Dan dari jumlah perpustakaan yang ada tersebut, peruntukannya lebih sebagai gudang buku daripada tempat membaca. Sekolah yang memfungsikan perpustakaan seperti itu harus segera direvitalisasi. Pegiat literasi yang sudah memiliki pengalaman menata perpustakaan yang mumpuni dapat berkontribusi di dalamnya
Berangkat dari kesadaran hal tersebut, Basecare Edukasi Indonesia Pusat Koordinasi Makassar, Yayasan Masyarakat SM-3T Institute menyelenggarakan Sarasehan Literasi Sekolah di SDI No. 244 Pappalluang dan SMP Negeri 6 Bangkala, Desa Pappalluang, Kecematan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Setelah pembukaan acara pada Kamis, 15 Februari 2018, Kelas Menulis langsung digelar pukul 10.10-12.00 WITA di SDI No. 244 Pappalluang. Pada Kelas Rendah, Eka Fitriani, S.Pd., Gr. sebagai pendamping menggunakan media kartu kata dalam penyusunan kalimat. Yuni Paliling, S.Pd, Gr memberikan pelatihan menulis puisi Kelas Tinggi. Usai rehat, pukul 13.00-14.00 WITA dilanjutkan pembelajaran Calistung yang didampingi oleh Abd. Malik Ikhsan, S.Pd.,Gr., Syamsul Adil, S.Pd.,Gr., dan Saidah Jamal, S.Pd.,Gr.
Di waktu yang sama, pukul 10.10-12.00 WITA pada SMP Negeri 6 Bangkala, Maskur, S.Pd.,Gr. memberikan pelatihan menulis puisi dengan menggunakan metode menulis bersambung berdasarkan konsep atau peristiwa yang dialami oleh siswa. Cara seperti ini cukup membantu siswa lebih mudah dalam menulis puisi. Menulis puisi bagi siswa dapat membentuk pribadi pemberani mengekspresikan diri dalam berkarya, menumbuhkan kreativitas dan mengeksplorasi potensi siswa, mengasah kemampuan siswa, memberikan maanfaat bagi pembaca karya siswa, dan tentunya memberikan kepuasan batin karena mampu berkarya.

Pada malamnya, pukul 19.00-20.30 WITA dilanjutkan Bedah Film Edukasi. Wahyudi, S.Pd.,Gr sebagai penanggung jawab kegiatan pemutaran film 5 Elang. Dilanjutkan diskusi dan elaborasi pesan moral dalam film tersebut. Peserta yang hadir bukan saja dari siswa SDI No. 244 Pappalluang dan SMP Negeri 6 Bangkala, tetapi juga orang tua siswa ikut hadir. Memang tak bisa dipungkiri bahwa menonton film edukasi memiliki manfaat, seperti mampu menambah ilmu pengetahuan dan wawasan siswa, film edukasi dapat membantu siswa atau remaja dalam melatih beretika yang baik dan sopan, berpikir cerdas dan kreatif
Hari kedua, 15 Februari 2018 di SDI No. 244 Pappalluang berlanjut Pelatihan Membaca Puisi pukul 08.00-10.00 WITA. Di waktu bersamaan kelas Calistung berjalan di kelas rendah. Pengemasan metode pembelajaran yang menarik pada materi calistung membuat siswa sangat antusias mengikuti pelajaran.
Pukul 10.00-11.30 WITA dilanjutkan pembuatan dan pembinaan mading. Dari awal persiapan pada pekan terakhir bulan Januari 2018, Tim Literasi Mengedukasi Anak Negeri sudah sepakat memberikan Pembinaan Mading, namun sesampai di lokasi sekolah, ternyata tidak ada mading. Tentunya siswa pun belum mengenal tentang mading, maka segera Tim Literasi Mengedukasi Anak Negeri memberikan materi tentang mading, pembuatan media, dan pembinaan pengelolaan mading. Pembinaan mading ini sangat penting bagi siswa karena mading dapat menjadi media komunikasi, wadah kreativitas, menanamkan kebiasaan membaca, melatih kecerdasan berpikir, melatih berorganisasi, dan mendorong terus menulis dan berkarya
Hal yang sama dalam rencana Penataan Sudut Baca, kenyataan di lapangan pun tidak ada sudut baca. Hal pertama yang dilakukan adalah mengadakan media atau tempat sebagai sudut baca. Sudut baca yang dibuat berasal dari pohon bambu. Sudut baca ini sangat penting dalam membangun dan meningkatkan minat siswa terhadap buku. Ketersediaan dan kemudahan menjangkau buku akan mendorong siswa aktif membaca.
Penyaluran bahan bacaan, buku, dan alat tulis dilakukan pada hari Sabtu, 17 Februari 2018 tepat pukul 13.30 WITA. Sebanyak 210 eksemplar buku bacaan diserahkan kepada Kepala Sekolah SDI No. 244 Pappalluang dan kepada SMP Negeri 6 Bangkala disumbangkan sebanyak 93 eksemplar buku bacaan dalam Program Penyaluran Buku bagi Harapan Daerah 3T Indonesia (Lubuk Hati). Kegiatan ini dilakukan dengan harapan memperkaya bahan bacaan di sekolah SDI No. 244 Pappalluang dan SMP Negeri 6 Bangkala sehingga, Gerakan Literasi Sekolah tidak terkendala lagi pada persoalan kekurangan buku. Begitu pula buku dan alat tulis yang diberikan kepada 72 siswa diharapkan bisa meningkatkan minat siswa membaca dan menulis. Penyaluran bahan bacaan, buku, dan alat tulis diserahkan langsung oleh Direktur Yayasan Masyarakat SM-3T Institue, Akhiruddin bersama Tim Kerja Gotong Royong Mengedukasi Anak Negeri

Inspirasi Literasi berlangsung pukul 15.00-16.00 WITA. Acara ini diramaikan kehadiran guru, orang tua, dan siswa. Acara dimoderatori oleh Direktur MSI, Bapak Akhiruddin, S.Pd., Gr. Sebelum memberikan kesempatan kepada kedua penulis yang hadir, terlebih dahulu diberikan pengantar penjelasan tentang program Gerakan Literasi Sekolah dan pemutaran video empat menit tentang Gerakan Literasi Sekolah. Hal ini sangat penting dilakukan karena Gerakan Literasi Sekolah masih asing di sebagian besar warga sekolah yang hadir. Inspirasi Literasi ini berupa kegiatan berbagi pengalaman menulis dari dua narasumber, Hendra Hermawan, S.Pd., Gr. dan Maskur, S.Pd., Gr. Kedua penulis ini memotivasi hadirin untuk rajin membaca dan menulis dengan mengutarakan manfaat membaca dan menulis yang telah dirasakan, seperti berhasil mengikuti dan memenangi lomba serta menjadi pembicara di berbagai acara literasi. Gaya penuturan yang santai dan menarik membuat hadirin begitu antusias. Hal ini ditandai dengan adanya pertanyaan dari peserta menyangkut manfaat dan prestasi yang telah dicapai pembicara. Bahkan peserta anak-anak selalu antusias menjawab pertanyaan yang dilontarkan pemateri
Malam penutupan Sarasehan Literasi Sekolah ini ditandai dengan Unjuk Karya yang dilatihkan dan dihasilkan siswa sebelumnya. Acara ini dipadukan dengan pementasan seni tari dari Tim Mengedukasi Anak Negeri. Aula sekolah sarat dengan kehadiran para warga yang notabenenya adalah orang tua siswa.
Di samping kanan panggung terlihat pohon kecil yang banyak bergelantungan puisi-puisi hasil karya siswa. Mading dan rak sudut baca yang berada di sebelah kiri pun tidak kalah menariknya. Semua ini adalah hasil karya siswa yang dibimbing oleh Tim Literasi Mengedukasi Anak Negeri. Setelah rangkaian sambutan disampaikan dari ketua panitia, Direktur MSI, Kepala Desa, dan Kepala Sekolah dilanjutkan penampilan para siswa. Acara ini menampilkan pembacaan puisi dari Kelas Rendah SD dan musikalisasi puisi dari Kelas Tinggi SD dan Siswa SMP. Para siswa yang tampil ini telah dilatih selama tiga hari oleh Tim khusus yang diturunkan oleh Yayasan Masyarakat SM-3T Institute

Warga Masyarakat dan Kepala Sekolah sangat terkesima melihat penampilan para penampil karena tak menyangka siswa-siswa yang berada di pelosok ini bisa mempersembahkan karya memukau walau hanya dilatih dalam waktu tiga hari. Mereka mengakui dan memuji kemampuan alumni PPG SM-3T dan Guru Garis Depan dalam menginisiasi kegiatan yang ternyata baru pertama kali diadakan di sekolah tersebut
Reportase dan Dokumentasi: Presidium Literasi Masyarakat SM-3T Institute







