Serentetan kegiatan akan menghiasi puncak perayaan Hari Lahir Masyarakat SM-3T Indonesia (MSI) yang pertama. Tujuan diadakannya rangkaian kegiatan tersebut sebagai penghantar menuju puncak perayaan yang akan dilaksanakan minggu malam (26/6). Hal ini juga untuk menginisiasi banyak pihak di luar sana bahwa gaung MSI tentang kepeduliannya terhadap pendidikan –terkhusus di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T)- bisa terdengar begitu jelas. Baik itu sasarannya kepada lembaga Pemerintah ataupun yang bersifat independent maupun komunitas.
MSI lahir dari keresahan yang begitu panjang. Para pemikir yang mencetus lahirnya lembaga ini tersadar bahwa ada pembetulan yang mesti dilakukan di ranah Pendidikan. Maka perlu dirancang sebuah rumah sederhana untuk menampung segala aspirasi tentang bagaimana pendidikan itu seharusnya. Saudara terdahulunya, SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), telah menasional terlebih dulu. Namun masa pengabdian setahun tak cukup bisa membawa dampak yang masif dari perubahan pendidikan itu sendiri. Maka dari itu perlu up gradeide agar segala ketertinggalan di daerah 3T bisa teratasi. Berdasar dari pedoman itu, MSI terbentuk.
Setahun terakhir telah banyak yang dilakukan MSI untuk pendidikan Indonesia. Bermuara pada keresahan maka tercetuslah SM-3T Peduli yang bertugas untuk menyalurkan bantuan buku-buku pelajaran dan alat sekolah ke berbagai pelosok tertinggal dari Aceh hingga tanah Papua. Hal lain yang dilakukan MSI adalah terus menginisiasi lahirnya GGD II (Guru Garis Depan), yakni pengiriman ribuan guru-guru (alumnus SM-3T yang telah menjalani proses Pendidikan Profesi Guru) untuk kembali ke daerah 3T.
Sebagai jalan menuju puncak perayaan maka beberapa perlombaan yang berskala lokal hingga nasional serta bakti sosial dan buka puasa bersama.
23/6/2016
Lomba Mewarnai tingkat SD
Beberapa sekolah mitra dari P3G (Program Pengembangan Profesi Guru) dijadikan sebagai peserta lomba, SDN Mongisidi I, SD BTN IKIP I, SD Inpres Karunrung, SD Inpres Hartaco, SDN Puri Taman Sari dengan jumlah peserta sebanyak 27 siswa. Kegiatan ini dimulai pada pukul 9.30. Siswa-siswa yang duduk di bangku kelas I & II berlomba memberikan yang terbaik. Bermacam warna dipadu-padankan di atas media gambar. Hingga pukul 11.30 perlombaan mewarnai selesai.
Lomba Media Pembelajaran yang Inovatif
Melibatkan peserta dari alumnus SM-3T angkatan yang kini tengah menjalani Pendidikan Profesi Guru (PPG). Mereka akan menampilkan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif dan dapat teraplikasikan di daerah 3T. 12 jurusan turut andil dalam kegiatan ini; Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Kimia, Pendidikan Fisika, Pendidikan Matematika, Pendidikan Teknik Elektro, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Geografi, Pendidikan Olahraga dan Bimbingan Konseling. Diharapkan dengan adanya perlombaan ini mampu menjadi pelopor adanya perlombaan serupa berskala nasional yang nantinya akan digagas oleh pemerintah pusat. Sehingga corong perhatian tertuju pada PPG Universitas Negeri Makassar sebagai keran pembuka kegiatan semacam ini.
24/6/2016
Bakti Sosial Panti Asuhan
Di hari kedua gong kegiatan tak berhenti. MSI terus menghembuskan nafas kepedulian. Kali ini kegiatan yang dilaksanakan bersifat sosial; kunjungan dan donasi ke Panti Asuhan Nurfatta Waasi. Hampir sebulan sebelumnya MSI membuka keran bagi para donatur untuk mendonasikan apa yang bisa disumbangkan. Baik itu berupa pakaian bekas, dana tunai maupun berbentuk sembako.
Sekirannya di hari yang telah ditentukan ini, keluarga besar MSI akan berduyun-duyun menuju panti asuhan untuk menyerahkan donasi yang telah terkumpul. Dan serah terima bantuan ini akan diberikan langsung oleh Direktur MSI, Akhiruddin, S.Pd., Gr.
25/6/2016
Buka Puasa On The Road
Hari Lahir MSI yang jatuh tepat pada bulan ramadhan adalah sebuah keuntungan yang masif. Serangkaian kegiatan yang bernafas kepedulian bisa digagas dengan maksimal. Pada hari sebelumnya kegiatan kunjungan ke Panti Asuhan bisa terlaksana. Maka di hari sabtu ini giliran MSI turun ke jalan untuk membagikan takjil berbuka puasa kepada pengguna jalan yang bersiap-siap pulang ke rumah atau yang terjebak macet dan mendapati waktu berbuka di atas jalan raya. Berlokasi di pertigaan ujung jalan A.P. Pettarani (depan MAN 2 Model) Makassar. Kegiatan ini melibatkan para pengurus MSI dan juga peserta PPG SM-3T angkatan IV. Selain membagikan takjil MSI juga membagikan selebaran yang bertujuan untuk mengaunggkan kepedulian terhadap pendidikan 3T kepada khalayak luas.
26/6/2016
Talk Show dan Puncak Perayaan Hari Lahir MSI
Puncak perayaan Hari Lahir MSI yang pertama akan difokuskan pada dua lokasi dengan dua rangkaian acara yang berbeda. Pertama, sejak pukul 13.00 siang akan di adakan talk show dengan tema umum “Alumni PPG SM-3T sebagai Guru Penyayang dan Inspiratif” yang akan menghadirkan 3 pembicara utama; Prof. Dr. Luthfiya Nurlaela, M.Pd (tim maju bersama mencerdaskan Indonesia) dengan tema wicara “Menemukan Karakter Indonesia Sesungguhnya melalui SM-3T”, Drs. Abdullah Pandang, M.Pd (Direktur P3G UNM) dengan tema sampaian “Guru di persimpangan Jalan; Antara Profesionalisme Mendidik dan Tantangan HAM”, serta Drs. Agus Susilohadi, M.Si (Pencetus Program SM-3T) akan memaparkan “Program SM-3T dalam Tinjauan Filosofis dan Humanis”.
Masih dalam rangkaian acara talk show. MSI juga akan membuka sudut pameran buku. Karya-karya yang ditampilkan adalah buah tangan dari para alumnus SM-3T ketika di masa pengabdian. Pun beberapa buah pikir ketika menjalani proses PPG. Semuanya akan terpajang dan siap menginspirasi para pembaca. Di sudut lain akan berdiri sebuah pohon harapan. Di ranting-rantingnya akan menggantung harapan-harapan para pemimpi yang menginginkan pendidikan yang lebih baik. Khususnya di daerah 3T. Dan spot terakhir adalah bentangan kain putih sepanjang 50 meter. Kain ini sebagai wadah aspirasi kebangsaan pendidikan Indonesia. Jadi seluruh peserta talk show yang kiranya mencapai 500 orang akan menuangkan testimoninya tentang pendidikan di daerah 3T.
Kemudian kegiatan akan bergeser ke Basecare MSI yang terletak di Komplek Minasa Sari Blok B10 no.22. Di Basecare MSI akan dibuka dengan kegiatan santunan kepada Panti Asuhan “Mantasiah” beberapa sembako dan bantuan peralatan sekolah. Setelahnya akan ada penyampaian tauziah singkat oleh Ust. Askar Yaman, M.Pd. Lalu ditutup dengan acara buka puasa bersama.
Puncak perayaan Hari Lahir MSI akan dimulai pukul 9 malam tepat di Basecare MSI. Rentetan kegiatan beberapa hari terakhir akan menemui puncaknya. Bapak Drs. Agus Susilohadi, M.Si selaku pencetus program SM-3T akan menjadi pusat perhatian. Beliau akan memaparkan dengan gamblang pencapaian SM-3T selama ini serta penjelasan tentang pemberdayaan alumnus SM-3T. Hadir pula tim SIMPUL 9 yang merupakan perpanjangan tangan dari MSI di daerah-daerah lain yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mereka adalah prakarsa dari lahirnya Basecare MSI di daerah asal masing-masing. Kemudian bapak Drs. Agus Susilohadi, M.Si akan melaunching Basecare MSI se-Indonesia sekaligus pemotongan tumpeng sebagai simbolis resminya 15 Basecare MSI seluruh Indonesia. Ke depannya akan dimunculkan lagi Basecare-basecare yang baru untuk menginisiasi membesarkan MSI secara nasional. Hingga gaung yang diinginkan bisa tercapai.
Puncak Aspirasi Kebangsaan
Kekeliruan semakin banyak dan melahirkan beragam opini tentang bangsa ini yang semakin ke sini semakin mengkhawatirkan keberadaannya. Kita memang memiliki banyak pemikir yang ulung. Namun masalahnya kebanyakan dari mereka saling berseberangan pendapat. Dan bukannya duduk bersama untuk saling bertukar pemahaman bagaimana bangsa ini seharusnya dibawa.
Mengerucutkan kekeliruan, kita masuk ke dalam lingkaran pendidikan. Pendidikan salah satu pilar bangsa yang sangat krusial keberadaannya selain keutuhan ekonomi negara tentu saja. Bicara masalah pendidikan bangsa kita saat ini, seperti membawa kita masuk ke dalam wahana permainan yang kasar. Saat berada di dalamnya kita hanya saling sikut demi kepentingan pribadi atau golongan yang dibawa.Sehingga yang ada hanya gesekan dan adu argument yang saling menjatuhkan.
Masalah bukan berarti tak memiliki jalan keluar. Tersisa kita yang berpikir taktis saja untuk mengubah. Dari apa yang keliru menjadikan lurus. Kita butuh duduk bersama dan saling melepas ego serta berpikir dingin dan menemukan jalan keluar yang aplikatif. Gesekan bisa dihindari selama kepala tetap padu pada haluan yang telah ditentukan.
Bisa kita lihat dari teropong ketertinggalan pendidikan di daerah pedalaman. Segala aspek kehidupan di sana merupakan coreng yang yang jelas dari gaung kota yang semakin memolekkan diri. Sekolah modern yang luar biasa megah dan fasilitas mewah mendominasi kanan kiri. Belum lagi pengajar yang lulusan dari kampus terbaik. Kontras dengan apa yang majemuk di daerah tertinggal. Kita mesti bergerak dan mengubah. Wadahnya harus jelas. Visi dan Misi yang diusung juga harus koheren dengan aksi di lapangan.
Digagaslah sebuah program yang pengharapannya mampu membawa arus perubahan. SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) suatu kendaraan yang membawa ribuan sarjana muda kependidikan untuk mengabdi selama satu tahun di daerah yang tergolong tertinggal. Melalui program ini terbinalah beragam macam karakter yang bertransformasi ke lebih positif, baik itu pelaku pengajar itu sendiri maupun para siswa yang menjadi objek ajar.
Kita hidup di tengah-tengah tragedi. Dan cara untuk bertahan di dalamnya adalah melawan. Sebisa apapun itu. Perang melawan kekuasaan hingga kebodohan. Sementara itu SM-3T mengambil slot untuk melawan penindasan intelektual dan aktif membangun jembatan antara mereka yang terputus haknya mengenyam pendidikan dan mereka yang berhati mulia untuk mengabdi. Di area ini kita bisa melihat mana yang peduli dengan hati dan mereka yang memilih diam kemudian hanya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengubah.
Rahmat Suardi, salah satu alumnus SM-3T angkatan III mengatakan “SM-3T telah menyadarkan saya tentang kepedulian tanpa pamrih. Kita datang untuk berbuat tanpa mengharapkan imbalan. Seperti kutipan dari bapak Anies Baswedan, mendidik adalah tugas dari orang-orang terdidik. Dan saya mengambil bagian di dalamnya.” Perubahan terjadi karena adanya dorongan dari dalam diri serta diafiliasi oleh aksi nyata.
Pengiriman sarjana muda menuai apresiasi yang masif. Baik dari pihak sekolah tujuan, maupun warga sekitar tempat mengabdi, hingga pemerintah daerah sasaran tak ketinggalan untuk memberikan pujian terhadap program SM-3T. Ini merupakan indikator jikalau SM-3T sangat berterima di daerah tertinggal. Meski bukan solusi absolut, paling tidak SM-3T telah hadir dan memberikan warna tersendiri bagi buramnya pendidikan kita selama ini.
Masa pengabdian selama satu tahun memang menyisahkan banyak kisah dan perubahan. Tapi waktu yang sangat singkat tersebut tidaklah efektif untuk mengaharapkan perubahan yang besar. Butuh waktu yang panjang serta dedikasi total untuk benar-benar mengubah. Karena dari itu SM-3T seperti sebuah uji kelayakan bagi para pesertanya dalam upaya mempersiapkan guru masa depan yang benar-benar siap pakai. Mereka nantinya akan (kembali) mengabdi di tempat seperti apapun. Pegunungan, pesisir, hutan, tempat tandus, menembus arus sungai tak pernah menjadi soal. Karena pengabdian bukan hanya tentang pengorbanan tapi itu adalah sebuah kehormatan.
Kekhawatiran lahir dari pola pikir yang gelisah. Penyebab utamanya keinginan yang tak selaras dengan pencapaian. Itu pula terkadang menjadi kendala mengapa orang-orang sulit untuk tergerak. Untuk mengatasi keadaan seperti itu diurailah ide-ide brilian guna mengakomodir kembali alumnus SM-3T agar terus menjaga marwah pengabdian. Masyarakat SM-3T Indonesia (MSI) lahir dari sebuah kumpulan gelisah itu sendiri. MSI menjadi kendaraan dengan fasilitas komplit dalam penyebaran kepedulian pendidikan. Sementara penggerak di dalamnya adalah mereka yang telah uji layak di daerah 3T. Mereka tahu apa yang dibutuhkan oleh pendidikan daerah tertinggal. Sehingga penawar yang ditawarkan tepat guna dan bersasaran yang pas.
MSI sendiri adalah lembaga pendidikan berpayung hukum dengan usia yang sangat muda. Setahun lahirnya mampu memberikan ketercerahan di daerah pelosok. Memfasilitasi donasi perlengkapan sekolah dari para dermawan untuk didistribusikan ke daerah 3T. MSI mulai menumbuh sebagai pencakar langit yang tetap mawas diri dan berjiwa padi di sawah. Berisi tapi tetap menunduk. Pergerakan yang mengedepankan solidaritas serta kemaslahatan bersama adalah upaya yang ditumbuh kembangkan agar pendidikan bisa konkrit berubah.
MSI adalah kerja nyata bersinergi dari semua lini yang peduli pada pendidikan Indonesia. MSI pun adalah keterpanggilan dari suara minoritas. MSI mengajak semua pihak untuk berperan serta dalam pengembangan dunia pendidikan yang ada di daerah tertinggal. Segala bentuk dukungan tentu adalah sebuah penyemangat bagi MSI yang akan terus berlari di atas garis keberpihakan pada upaya mengubah rupa pendidikan Indonesia.







