Mengedukasi Anak Negeri atau lebih dikenal dengan MeAN oleh merupakan sebuah kegiatan yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh Deputi Partisipasi Kemanusiaan dan Peduli Pendidikan, Yayasan Masyarakat SM-3T Institute. Menjadi salah satu program kerja rutin yang dilaksanakan, juga merupakan salah satu dari banyak agenda kepedulian lainnya yang telah dilaksanakan di seantero sudut republik
Sumba Timur, adalah daerah paling mutakhir yang dikunjungi dan dirancang tak main-main. Ini merupakan kali pertama saya terlibat. Tak bohong orang bilang, kegiatannya didesain sederhana, dilakukan dengan bergotong royong, memanfaatkan seluruh potensi alumni, dan berangkat dari sebuah pemikiran kecil, bahwa ini merupakan kebaikan kecil yang bisa dibagi. Bahwa meski telah alumni SM-3T, marwah berbuat dan mengabdi itu selalu menggeliat, dan Masyarakat SM-3T Institute telah menyediakan wadah, tempat untuk menyalurkan marwah tersebut
Kegiatan MeAN di Sumba Timur kali ini terbilang spesial. Selain karena merupakan MeAN terlama yang pernah dilaksanakan, juga karena didampingi langsung oleh Kanda Direktur MSI, Kak Akhiruddin
Selama kurang lebih 2 pekan di Sumba Timur, mulai dari tanggal 12-26 Februari 2017, Tim mengunjungi 3 sekolah sasaran dan melaksanakan banyak kegiatan. Selain dalam rangka edukasi, juga menjadi ajang silaturrahmi dengan pihak dinas pendidikan Sumba Timur dan satuan-satuan pendidikan, ajang pengenalan dan penguatan sinergitas antaralumni, serta penyaluran bantuan pendidikan, berupa buku bacaan ke SMAN 1 Rindi Umalulu.
Selain mengedukasi, juga ada diskusi bersama, doa dan deklarasi alumni, pengambilan video dan gambar testimoni, dan kegiatan lain yang sifatnya edukasi dan penguatan sinergi
Sekolah yang dikunjungi khusus adalah SDN Lukuwingir, SMPN 2 Lewa, dan SMAN 1 Rindi Umalulu. Kegiatan edukasi pada masing-masing sekolah dilaksanakan selama dua hari. Dengan kegiatan utama berupa pembelajaran pakem, hasta karya, games edukatif, kelas literasi, tips dan trik menghadapi UN, serta permainan tradisional yang kesemuanya disesuaikan dengan kondisi setempat. Kegiatan dilaksanakan pagi-pagi, berlanjut hingga sore. Malamnya, tim bersibuk mengerjakan project dokumentasi.
Kami mengedukasi di kelas dan di lingkungan sekitar, menemui guru dan kepala sekolah, berdiskusi dengan mereka, sembari mengambil testimoni aspirasi mereka, untuk dijadikan ajang inspirasi berbuat dan referensi buat semua pihak.
Dua pekan di Sumba Timur, saya diupgrade dalam banyak hal. Dinasehati banyak oleh keadaan. Benar kata Kak Haru, bahwa kita akan lebih banyak mendapat petuah dari keadaan-keadaan yang kita alami dan lihat sendiri, dibanding sejumlah teori yang berusaha kita pahami di bangku kuliah. Saya belajar menulis, belajar pola edukasi yang efektif, mengetahui ilmu-ilmu publikasi, dan bagaimana bekerja efektif dalam tim
Di Sumba Timur, saya mengalami banyak peristiwa menyentuh nurani. Di sekolah yang jauh dan terpencil begitu, dengan segala keterbatasan akses dan fasilitas. Menatapi muka-muka lugu siswa, rumah-rumah mereka, kampung dan sekolah mereka, membuatku berpikir bahwa sungguh mereka tak layak diabaikan. Mengedukasi mereka, sungguh tak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga semua sarjana pendidikan di Indonesia.
Kita berdoa bersama, semoga SM-3T dan marwahnya akan selalu ada. Baik peserta yang sementara berSM-3T, maupun alumni-alumni seantero negeri yang sementara belajar menempa diri di PPG, atau yang telah mengabdi di daerah 3T sebagai GGD, tetap pada lurus tekad, menjadi solusi dan pola terbaik penyiapan guru masa depan, pemain utama dalam memperbaiki pola edukasi, memperbaiki ketimpangan pendidikan dan tenaga kependidikan, serta tetap menjaga marwah pengabdian di dadanya di manapun negara menempatkan.
Reportase
Risto dan Tim Publikasi dan Propaganda Masyarakat SM-3T Institute







