NABIRE, Papua Tengah–Semangat pengabdian untuk pendidikan kembali menghangat di Kabupaten Nabire. Masyarakat SM-3T Institute menggelar kegiatan Edukasi Literasi bagi guru pada 14 Februari 2026 di SMP Negeri 9 Nabire. Sebanyak 50 guru dari jenjang SD, SMP, hingga guru SMA yang berasal dari berbagai satuan pendidikan di wilayah tersebut mengikuti kegiatan itu. Kegiatan itu tidak sekadar menjadi forum peningkatan kompetensi, tetapi juga menghadirkan ruang pertemuan antara semangat perubahan dan realitas pendidikan di daerah yang masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
Secara geografis, SMP Negeri 9 Nabire berada jauh dari jalan utama. Akses menuju sekolah harus melewati jalan tanah yang diapit kebun dan pepohonan. Saat musim hujan, jalur tersebut berubah menjadi becek dan licin. Sungai kecil yang mengalir di jalur menuju sekolah kerap meluap, sehingga kendaraan tidak dapat menjangkau halaman sekolah. Dalam kondisi tertentu, guru dan siswa terpaksa berjalan kaki dan menyeberangi aliran sungai demi mengikuti proses belajar mengajar. Kondisi tersebut menjadi bagian dari keseharian keluarga besar SMP Negeri 9 Nabire. Meski demikian, keterbatasan akses menyurutkan semangat belajar para siswa maupun dedikasi para guru.
Kepala SMP Negeri 9 Nabire, Bapak Towel Suroyer, S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya program Edukasi Literasi Guru di sekolah yang ia pimpin. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya menghadirkan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi bentuk perhatian bahwa sekolah di wilayah terpencil tetap memiliki hak dan peluang yang sama untuk berkembang.
Beliau menuturkan, tantangan geografis selama ini kerap menjadi kendala dalam menghadirkan program berskala nasional. Namun melalui kegiatan tersebut, sekolah yang berada di tengah keterbatasan akses justru menjadi pusat pertemuan para pendidik dengan visi perubahan.
Dalam kegiatan Edukasi Literasi, peserta memperoleh materi literasi dasar, pembelajaran mendalam (deep learning), serta pemanfaatan media papan interaktif digital dalam pembelajaran. Peserta tidak hanya menerima paparan teori, tetapi juga mengikuti praktik langsung penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Bapak Viktor Tebai, S.Sos., M.AP. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Kabupaten Nabire menjadi satu dari 22 lokasi di Indonesia yang mendapat kesempatan pelaksanaan program tersebut. Ia menegaskan, kehadiran program ini merupakan bentuk nyata kolaborasi nyata dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Papua Tengah.
Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta terlihat jelas. Diskusi berlangsung aktif, berbagai pertanyaan mengemuka, dan semangat untuk memperbaharui praktik pembelajaran terasa kuat. Bagi para guru, momentum ini menjadi ruang refleksi sekaligus penyegar semangat dalam mendidik generasi penerus di tengah berbagai keterbatasan.
Rangkaian pengabdian berlanjut pada 15 Februari 2026 melalui program SM-3T Peduli di SMP Negeri 3 Nabire Barat. Kegiatan pembagian donasi tas sekolah dibuka secara resmi oleh Direktur Masyarakat SM-3T Institute, Dr. Akhiruddin, S.Pd., M.Pd., Gr.
Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa keberadaan Masyarakat SM-3T Institute di Papua Tengah bukan sekadar menjalankan program jangka pendek, melainkan membangun sinergi berkelanjutan bersama pemerintah daerah dan satuan pendidikan. Ia berharap kemajuan pendidikan di Papua Tengah terus bertumbuh melalui kolaborasi, kepedulian, dan kesinambungan program yang berdampak nyata bagi guru dan peserta didik. Menurutnya, pendidikan bukan semata-mata berkaitan dengan ruang kelas dan kurikulum, tetapi juga tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang setara dan fasilitas yang memadai untuk belajar dengan percaya diri.
Sebanyak 50 siswa SMP Negeri 3 Nabire Barat menerima bantuan berupa tas sekolah, buku, dan alat tulis. Suasan pembagian donasi berlangsung haru. Anak-anak yang sebelumnya menggunakan tas lusuh bahkan robek kini memeluk tas baru dengan wajah sumringah. Bagi mereka, perlengkapan tersebut bukan sekadar kebutuhan sekolah, melainkan simbol perhatian dan semangat baru untuk belajar.
Salah satu guru, Bapak Andi Boga, menyampaikan terima kasih atas kepedulian yang diberikan. Ia mengungkapkan, sebagian siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas sehingga bantuan tersebut sangat membantu keberlangsungan pendidikan mereka.
Di tengah kebahagiaan itu, seorang siswa menyampaikan ungkapan sederhana namun tulus, “Terima kasih, sehat-sehat kakak guru semua. Saya akan rajin belajar lagi.” Ucapan tersebut menjadi potret harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan.
Rangkaian kegiatan Edukasi Literasi dan SM-3T Peduli ini menunjukkan bahwa pendidikan di tanah Nabire, Papua Tengah, terus bergerak maju, meski harus melewati jalan berlumpur dan menyeberangi sungai setiap hari. Di wilayah yang jauh dari pusat keramaian, harapan tetap terjaga melalui dedikasi para guru serta kolaborasi yang menguatkan demi masa depan generasi Papua Tengah.
Koresponden:
Tim Publikasi MSI











