Kabupaten Lanny Jaya membuat sebuah sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia dan bahkan Internasional. Kabupaten pemekaran dari Jayawijaya ini mampu mencatat rekor baru di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor baru ini dinamakan “Menulis Surat Kepada Menteri dengan menggunakan media daun kelapa hutan oleh peserta sebanyak 1.053 siswa SD Binaan Peserta SM3T Lanny Jaya”. Museum Rekor Dunia Indonesia mencatat kegiatan hari Senin (2/6/2014) kemarin itu pada urutan rekor ke-6511 dengan kriteria superlatif.
“Hari ini (Senin-red) MURI memberikan penghargaan kepada kabupaten Lanny Jaya dan juga kepada LPTK Universitas Negeri Medan yang telah berhasil menciptakan Rekor baru di Musem Rekor Dunia Indonesia yaitu anak-anak Papua yang berhasil membaca dan menulis diatas dedaunan oleh sejumlah 1.053 anak yang ditujukan kepada pemerintah RI melalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI,” jelas Paulus Pangka, Senior Menejer MURI di sela-sela kegiatan Gema 1000 Anak Lanny Jaya.¨ Dalam potongan daun kelapa hutan itu ditulis berisi berbagai macam pesan para generasi penerus Lanny Jaya, Papua dan Indonesia terhadap pihak pemerintah.
Namun yang terpenting menurut Paulus, niat mereka yang baik guna menggerakan pemerintah untuk semakin memberikan kepedulian terhadap daerah terluar, terdepan dan tertinggal di Indonesia. Dalam kegiatan yang diprakarsai LPTK SM3T Universitas Negeri Medan (UNIMED) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdikbud dan yang didukung penuh oleh Pemda Lanny Jaya ini, para siswa bukan hanya menulis di atas daun kelapa hutan, namun ribuan sisa ini juga membaca dan menulis surat impian di post card dan di atas kain sepanjang 100 meter yang dipajang di Lapangan Tiom, Lanny Jaya.
“Salam sejahtera bapak menteri, saya ingin jadi anak pintar tapi kekurangan guru”,
“Bapak SBY saya ingin Lanny Jaya dan Papua tetap aman,”
“Bapak saya ingin jadi pilot”
“Bapak Menteri dan Bapak Bupati Lanny Jaya saya ingin jadi pintar tapi saya butuh guru”
Ini antara lain bunyi pesan yang ditulis oleh anak-anak SD Lanny Jaya di atas daun kelapa hutan itu.
Ada berbagai macam pesan yang dicurahkan dari kepolosan mereka. Hal yang menarik adalah para peserta yang hadir dalam acara itu mayoritas merupakan mereka yang duduk dibangku kelas 1, 2 dan kelas 3 SD. Mereka ini baru tahu membaca, menulis dan berhitung dari hasil binaan guru SM3T yang baru bergabung selama 6 bulan terakhir. Bupati Lanny Jaya, Befa Yigibalom,SE,M.Si menegaskan, terkait pemberian penghargaan rekor MURI itu akan terus dipertahankan dan itu menjadi catatan untuk istansi teknis terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan Lanny Jaya untuk terus menggenjot kegiatan tersebut. “Kami dapat rekor MURI karena menulis di atas daun. Tahun besok bukan lagi 1000 tapi 3000 siswa yang menulis di atas daun,” ungkapnya. Menurut bupati, sampai saat ini pihaknya belum mengukur pendidikan di Lanny Jaya tetapi sudah mendapatkan hasil. Jumlah ini cukup fantastis karena makin banyak siswa SD yang mulai bisa. “Harapan kita kedepan mereka juga tidak saja menulis tetapi pada tingkat berhitung juga diharapkan mereka bisa lebih baik,” paparnya.
Dia pun mengucapkan terima kasih kepada guru Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) yang mempunyai jasa yang besar untuk peningkatan dunia pendidikan untuk generasi Kaonak. “Bisa-bisa ini hasil sulapan bukan saja hasil belajar sekian tahun. Ini hasil belajar 3 bulan dan 6 bulan,” ucap Bupati Lanny Jaya, Befa Yigibalom, SE, M.Si kepada wartawan. ¨ Bupati menilai anak-anak SD dari semua titik di Lanny Jaya mempunyai semangat yang luar biasa. Ini pertanda kebangkitan pendidikan di Lanny Jaya, ditambah lagi dukungan SM3T terutama mereka yang datang ke Lanny Jaya.¨
“Ini sangat penting dan menjadi bagian penting karena mereka ada di sana gairah dan semangat belajar itu meningkat dan hasilnya ada ini. Itu sebabnya saya berharap SM3T tetap ada dan bahkan tahun ini kami juga kontrak guru dan akan mengisi SD di Lanny Jaya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Lanny Jaya, Aletinus Yigibalom, mengemukakan pihaknya bersyukur dan memberikan apresiasi kepada guru-guru di Lanny Jaya yang terlah berjuang keras sehingga pihaknya mendapatkan hasil yang baik. “Puji Tuhan. Ini pertanda kebangkitan pendidikan di Lanny Jaya. Sebagai anak daerah kami siap mendukung program Bupati Befa yang hendak menjadikan Lanny Jaya sebagai pemenang pendidikan tahun 2016 nanti dan kami sedang melakukanya untuk menuju ke arah itu,” tegasnya.¨
Dia juga berterimakasih kepada panitia SM3T yang bekerja keras dan juga pihak MURI yang telah memberikan penghargaan kepada Pemerintah Lanny Jaya dan juga LPTK SM3T UNIMED. Di tempat yang sama, Rektor Universitas Negeri Medan, Prof, Dr. Ibnu Hajar, M.Si yang hadir dalam kesempatan itu memberikan apresiasi kepada didikannya yakni SM3T Unimed yang hadir di tengah masyarakat Lanny Jaya.
“Saya apresiasi kepada adik-adik. Sebelum mereka jalan saya memberikan pesan kalian (SM3T) boleh mendatangi komunitas yang boleh dibilang tertinggal tapi di situ ada potensi oleh karenanya saya katakan tugas kalian itu bukan mengajar jadi kalau mengajarkan ilmu itu mudah tapi membangun motivasi dan membangun kreativitas itu yang sulit,” katanya. Sebab, kata Ibnu, kalau orang sudah punya motivasi, inovasi maka dia bisa berbuat apa saja “Ini sungguh kreativitas anak-anak kami dari Unimed. Mereka ini betul-betul menggagaskan ide ini dan hal ini tidak terpikirkan oleh kami.
Tapi memang persiapan mereka kemari kita memang memberikan pembekalan kepada mereka sebagai program Dikti yakni bekal fisik, mental dan wawasan keilmuan, hari ini saya bangga karena mereka sudah tunjukan,” tukasnya. Dalam acara Gema 1000 Anak Lanny Jaya ini diwarnai pemberian bantuan perangkat Kids Smart Komputer sebanyak 6 unit dari pihak IBM Indonesia kepada Pemda Lanny Jaya. Diterima langsung oleh Bupati.
Dalam acara ini dihadiri langsung para Muspida Lanny Jaya, Bupati Lanny Jaya, Sekda Lanny Jaya, Christian Sohilait, Kepala Dinas Pendidikan Lanny Jaya, Aletinus Yigibalom, Rektor Unimed, Prof. Ibnu Hajar, M.Si, Purek I Unimed, Perwakilan Duta SM3T Dikti, Akhiruddin, Divisi IBM Indonesia CSR, Santi Diansari S, WVI, dan staf di lingkungan Pemda serta para guru SM3T







