Guru Garis Depan Sumba Timur dan Masyarakat SM-3T Indonesia (MSI) mengadakan kegiatan Mengedukasi Anak Negeri pada tanggal 1-3 November 2018 di Sumba Timur pada dua lokasi yang berbeda. Pada tanggal 1-2 November 2018 SDN Matawai Kurang, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, menjadi tempat pertama melaksanakan kegiatan Mengedukasi Anak Negeri (MeAN) dengan tema “Penggiatan Kelas Literasi sebagai Upaya Mencerdaskan Anak Bangsa” dan pada tanggal 3 November 2018 bertempat di SMKN 1 Waingapu, Sumba Timur, NTT, dilanjutkan dengan seminar penguatan karakter kepada peserta didik di sekolah tersebut dengan tema “Peran Generasi Muda dalam Menjaga Keutuhan NKRI” dan menghadirkan pemateri dari pihak POLRI, TNI, dan Guru Garis Depan (GGD).
Pada kegiatan MeAN di SDN Matawai Kurang berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan oleh Guru Garis Depan (GGD) Sumba Timur diantaranya; penggiatan literasi kelas bawah dan atas, pembuatan kelas pojok baca sebagai kelas percontohon dalam menggiatkan aktivitas literasi, kelas literasi, kelas dongeng, pantun, puisi, matematika gasing, bedah film, kolase, permainan edukatif, doa bersama, sekaligus menyalurkan bantuan pendidikan dalam program Lumbung Buku Bagi Harapan Daerah 3T Indonesia (LUBUK HATI) serta menyalurkan seragam sekolah pada seluruh peserta didik di SDN Matawai Kurang yang bersumber dari berbagai pihak donatur, baik dari alumni SM-3T, GGD, dan masyarakat umum.
Aprisal Al Nahli, Guru Garis Depan penempatan Sumba Timur selaku penanggung jawab pada kegiatan ini mengatakan bahwa kegiatan Mengedukasi Anak Negeri yang diinisiasi oleh Guru Garis Depan Sumba Timur dan Masyarakat SM-3T Indonesia berharap agar kegiatan ini menjadi wadah penggerak bersama untuk ikut membangun dan menjaga keutuhan negeri khususnya di bidang pendidikan, yang dilandasi pemikiran bahwa permasalahan di Indonesia tidak bisa di selesaikan oleh satu orang saja, tapi kita butuh bergotong royong dan kepedulian terhadap masa depan anak-anak bangsa salah satunya dengan kegiatan seperti ini. Semoga dengan gerakan ini bisa menumbuhkan harapan untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik, serta bisa menjadi inspirasi/contoh bagi tumbuhnya gerakan-gerakan lain di negeri ini. Jadi sudah saatnya para pemuda serta masyarakat pada umumnya untuk terlibat secara aktif dalam membangun pendidikan dengan asas gotong royong.

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dan itu adalah tanggung jawab bersama. Kegiatan ini selain merupakan komitmen bagi alumni SM-3T dan GGD juga merupakan bagian dari cara memperingati hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2018” ungkap Aprisal. Dalam sambutannya pada saat pembukaan MeAN di SDN Matawai Kurang, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini disambut baik oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur. “Saya telah berkoordinasi dengan Bapak Kepala Dinas untuk datang membuka acara ini namun karena beliau ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak sempat hadir” lanjutnya.
“Saya sangat merespon baik kegiatan ini, saya anjurkan agar kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan kali ini saja tapi terus dijadikan sebagai agenda rutin sehingga saling menginspirasi dan semakin banyak anak-anak pelosok negeri yang terbantu dan kedepannya saya (Kepala Dinas,red) akan berupaya turut menghadirinya jika ada kegiatan serupa, tolong sampaikan permohonan maaf saya kepada warga masyarakat di SDN Matawai Kurang atas ketidakhadiran saya” ucap Aprisal menirukan perkataan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur.
Sementara itu Ibu Kepala Sekolah SDN Matawai Kurang, Fin Mangi, S. Pd., SD., dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada tim MeAN GGD Sumba Timur dan Masyarakat SM-3T Indonesia yang telah memilih sekolah binaannya sebagai tempat pelaksanaan MeAN.
“Saya ucapakan terima kasih banyak kepada GGD dan Masyarakat SM-3T Indonesia yang telah memilih sekolah kami sebagai tempat pelaksanaan MeAN dan penyaluran bantuan baik berupa buku bacaan dan seragam sekolah. Dengan adanya kegiatan ini kami dari guru-guru bisa saling terinspirasi dan termotivasi dengan berbagai macam kegiatan yang diadakan, jujur kami sangat senang melihat aktivitas anak-anak kami yang begitu semangat mengikuti kegiatan MeAN dan kami sangat bersyukur karena anak-anak kami terbantu dengan adanya penyaluran bantuan buku dan seragam sekolah, semoga kegiatan ini bisa menjadi contoh bagi sesama guru” ungkap Mama Kepsek, panggilan akrab beliau.
“Dengan adanya kegiatan ini sangat membantu proses dan aktivitas belajar mengajar warga kami dan bisa menjadi referensi bagi guru-guru lainnya serta anak-anak kami mendapatkan wawasan baru dalam hal belajar. Semoga kegiatan ini tidak hanya diadakan sekali saja di wilayah kami tapi kami berharap agar di lain kesempatan tim MeAN dapat meluangkan waktu kembali untuk menemui anak-anak kami. Serta terima kasih pada seluruh elemen yang telah ikut terlibat sehingga kegiatan ini dapat terlaksana di desa kami” ungkap Rudi W. Umbu Njurumana, selaku Kepala Desa Bidi Hunga, Kecamatan Lewa, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan MeAN di SDN Matawai Kurang selain dihadiri oleh peserta didik juga turut hadir dari Fasada Inovasi Sumba Timur, tokoh masyarakat, dan orang tua peserta didik yang melihat langsung kegiatan MeAN di ruang-ruang kelas.
Sementara itu, Akhiruddin, S. Pd., M. Pd., Gr., selaku Direktur Masyarakat SM-3T Institute (MSI) mengajak semua pihak untuk bergotong royong membangun pendidikan.
“Pendidikan yang berkualitas merupakan investasi peradaban, yang tak hanya ditanggungjawabi oleh pemerintah, tetapi juga semua masyarakat, para tokoh, termasuk para sarjana pendidikan di seluruh Indonesia termasuk para Guru Garis Depan” ucap beliau saat membuka dengan resmi kegiatan MeAN di SDN Matawai Kurang. Sementara itu di tempat yang terpisah dalam sambutannya saat pembukaan seminar Pendidikan Penguatan Karakter yang bertempat di SMKN 1 Waingapu beliau mengatakan, “kegiatan-kegiatan seperti ini perlu untuk terus kita tingkatkan apa lagi pengaruh dunia modernitas sangat mudah dirasuki oleh kaum muda saat ini khususnya kaum pelajar atau peserta didik. Ini momentum yang sangat baik, bagaimana kita membekali adik-adik kita yang duduk di bangku SMA agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bisa memecah belah keutuhan bangsa kita. Semoga setelah mengikuti kegiatan ini dapat menjadi virus kebaikan terhadap sesama rekan bagaimana kita menjaga keutuhan persatuan dan perdamaian negara kita” ungkap Akhiruddin.
Selain itu, kegiatan ini juga disambut baik oleh pihak sekolah dan pemateri dari pihak Kepolisian maupun TNI. Kasat Reserse Narkoba Polres Sumba Timur, Iptu Putu Pariada disela-sela materinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada GGD Sumba Timur yang telah menginisiasi kegiatan ini, kegiatan ini perlu didukung, sebab membawa dampak positif bagi generasi kita khususnya bagaimana kita melakukakan pendekatan-pendekatan edukasi tentang penyalahgunaan Narkoba dan moment kegiatan seperti ini sangat tepat.
Sementara itu pemateri dari TNI dalam hal ini PA SITER DIM 1601/ST mengatakan bahwa dari kesatuan KODIM 1601/ST sangat mengapresiasi kegiatan ini. “Kegiatan seperti ini perlu terus digiatkan sebab untuk menjaga keutuhan NKRI semua komponen perlu terlibat untuk memberikan pembinaan kesadaran bela negara salah satunya dengan kegiatan seperti ini. Kami berterima kasih kepada GGD Sumba Timur dan MSI telah ikut memikirkan bagaiman kita merawat NKRI. Kedepannya kami siap bekerja sama dengan GGD ketika ada kegiatan-kegiatan serupa” pungkas Kapten Inf. Samiun.

Sementara itu Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Waingapu menyambut dengan ramah, menghaturkan terima kasih kepada GGD dan MSI, dan merasa beruntung bisa terpilih menjadi sekolah yang di edukasi dalam kegiatan seminar penguatan karakter oleh Guru Garis Depan Sumba Timur dan Masyarakat SM-3T Indonesia.
Setelah pembukaan MeAN, sekitar pukul 11.00 WITA tim MeAN langsung mengambil alih peserta didik dengan cara membagi tim pada setiap rombel. Tim ini dibagi dalam dua kelompok yaitu kelas rendah dan kelas bawah. Untuk kelas rendah di koordinatori oleh Agnesiani, S.Pd. Gr., sedangkan kelas tinggi di koordinatori oleh Alvred Adhiel Kitu, S.Pd., Gr. Setelah tim membagi kelompok para Guru Garis Depan memulai melakukan aktvitas MeAN. Aktivitas pertama yang dilakukan pada kelas rendah yang terdiri dari kelas 1-3 adalah melakukan kegiatan literasi kelas bawah. Kegiatan literasi kelas rendah di desain dengan berbagai macam kegiatan. Untuk pengenalan huruf salah seorang Guru Garis Depan, Jasri Suparman A. Rukka, S.Si., Gr., melakukan pendekatan kepada peserta didik dengan metode kesadaran fonologis (bunyi huruf). Metode ini dilakukan dengan cara memberi gambar huruf besar kepada peserta didik lalu diberi amplop yang birisi gambar yang diacak. Setelah itu peserta didik diajak untuk menempelkan gambar pada huruf yang telah dibuat sesuai dengan awalan huruf yang ada pada gambar, kemudian peserta didik diajak untuk membacanya dengan membesarkan suara. Sementara itu Evalinda Homa, S. Pd., Gr., GGD penempatan SMPN Satap, melakukan pendekatan Kolase pada peserta didik dengan cara memberikan gambar agar dihias sesuai dengan bentuknya bertujuan untuk melatih ketelitian kerja sama tim serta melatih kerapian dan kedisiplian dalam bekerja. Sedangkan untuk di kelas tinggi diberikan materi matematika gasing (gampang, asik, dan menyenangkan) serta pelatihan puisi, pantun, dan dongeng. Pada kelas puisi yang pandu langsung oleh Erycxon Umbu Meha Langga, S.Pd., Gr., juga merupakan guru Bahasa Indonesia GGD angkatan I memberikan pelatihan strategi membaca puisi pada peserta didik, diantaranya melatih vokal, gesture, dan ekspresi agar peserta didik mampu mengaktualisasikan diri dan pikiran serta perasaannya dengan baik saat membaca puisi tanpa merasa canggung. Begitupun yang dilakukan untuk kelas dongeng, Fekrianus Edison Tun, S. Pd., Gr., GGD angkatan II penempatan Sumba Timur, memperkenalkan dunia sastra pada peserta didik dengan cara berpantun untuk melestarikan karya sastra lama sekaligus melatih imajinasi peserta didik dalam berpikir. Setiap peserta didik dikelompokkan secara berpasangan lalu dilatih untuk saling menyebutkan anggota tubuh sebagai latihan dasar untuk membuat pantun.
Sementara untuk di kelas dongeng yang dipandu langsung oleh Alvred Adhiel Kitu, S. Pd., Gr., melatih peserta didik berdongeng. Dalam pelatihan dongeng tersebut beliau mendongeng dengan menggunakan media gambar agar memudahkan peserta didik dalam menemukan isi cerita yang terkandung didalamnya. Saat mendongeng peserta didik diajak untuk menyimak lalu mencocokkan gambar sesuai dengan isi cerita dalam dongeng tersebut.
Aktivitas MeAN terus bergulir di ruang-ruang kelas tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WITA. Orang tua peserta didik pun sudah sejak awal menghidangkan makanan siang di dalam ruang kelas. Setelah suluruh rangkaian kegiatan MeAN untuk sesi pertama telah selesai maka tim MeAN GGD memberi waktu kepada peserta didik untuk beristirahat makan siang. Sedangkan untuk GGD yang beragama Islam terlebih dahulu melaksanakan ibadah sholat dhuhur sebelum memenuhi panggilan makan siang oleh pihak sekolah.
Setelah melaksanakan sholat dhuhur seluruh Tim MeAN berkumpul dalam suatu ruangan untuk menikmati hidangan makan siang bersama dengan warga/orang tua peserta didik setempat. Setelah makan siang usai, waktu telah menunjukkan pukul 14.30 WITA. Beberapa diantara tim MeAN kembali menyiapkan peralatan yang akan digunakan pada sore harinya sembari menunggu peserta didik yang masih beristirahat.

Panas yang menyengat disiang hari mulai teduh, matahari pun mulai bergeser ke arah barat memberi isyarat bahwa telah memasuki waktu sore hari, peserta didik pun sudah mulai berkumpul dilapangan terbuka dengan wajah sumringah sambil menanti aktivitas selanjutnya dari tim MeAN GGD Sumba Timur.
Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WITA tim MeAN menuju ke lapangan, tanpa komando peserta didik dengan sigap berkumpul dilapangan terbuka sesuai dengan perjanjian sebelum istirahat. Salah seorang GGD, Dzul Pangarai, S. Pd., Gr., memandu peserta didik untuk berbaris dengan rapi. Setelah berbaris peserta didik dibagi dalam bentuk kelompok lalu tim MeAN masing-masing bertugas disetiap kelompok yang telah dibentuk untuk didampingi dalam kegiatan selanjutnya. Pada kegiatan sore hari peserta didik diberikan permainan edukasi yang menyenangkan dan terhindar dari resiko cedera fisik diantaranya permainan estafet air, estafet karet, tiup bola. Kegiatan ini untuk melatih kekompakan, ketelitian, dan sportivitas dalam bermain.
Langit tampak mulai memerah sang penguasa siang hari pun perlahan mulai tenggelam diufuk barat, waktu menunjukkan pukul 17.40 WITA. Dzul Pangarai, S. Pd., Gr., selaku penanggung jawab pada kegiatan permainan edukasi mengarahkan peserta didik untuk berkumpul dan berdoa untuk mengakhiri kegiatan tersebut.
Lingkungan sekitar sekolah sudah mulai gelap menandakan bahwa malam hari sudah mulai tiba. Seluruh peserta didik diarahkan masuk ke ruang kelas untuk kegiatan selanjutnya, bedah film (pemutaran film edukatif). Pada kegiatan ini film yang ditayangkan berjudul Di Timur Matahari. Sekedar untuk diketahui agar mendapatkan aliran listrik di tempat MeAN menggunakan mesin traktor yang sudah di desain agar mendapatkan aliran listrik. Pada pemutaran film ini ada tiga sesi, sesi pertama pemutaran film edukasi yang dipandu langsung oleh Afreli Tanuek, S. Pd., Gr., pada pemutaran film ini peserta didik beserta orang tua tumpah ruah dalam ruang kelas sehingga pada sesi kedua pemutaran film dipindahkan ke lapangan terbuka. Pada sesi kedua, pemutaran film dokumenter almarhumah saudari Evi Restiawaty, S. Pd., Gr., yang juga merupakan GGD angkatan I penempatan Flores dan alumni SM-3T angkatan pertama penempatan SDN-SMP Satap Matawai Kurang, tempat pelaksanaan kegiatan MeAN. Pada pemutaran film tersebut tampak warga begitu sedih melihat tayangan jejak almarhumah semasa hidupnya. Sebab almarhumah memiliki hubungan keakraban dengan warga sekitar saat ditugaskan di wilayah tersebut sebagai peserta SM-3T sehingga warga merasa sangat kehilangan sosoknya dan merasa tak percaya bahwa almarhumah telah lebih dahulu menghadap pada sang pencipta.
Setelah film dokumenter almarhumah usai, dilanjutkan dengan doa bersama atas kepulangannya yang dipimpin langsung oleh Direktut MSI, Akhiruddin, S. Pd., M. Pd., Gr. Saat doa berlangsung tampak bulir air mata beberapa warga tak terasa jatuh. Pada sesi ketiga diakhiri dengan pemutaran film hiburan dan berakhir tepat pukul 22.00 WITA. Setelah film usai warga dan peserta didik kembali ke rumah masing-masing. Peserta didik yang jarak rumahnya jauh dari sekolah disiapkan tempat menginap di asrama guru. Tim MeAN GGD kembali briefing mengevaluasi kegitan seharian. Setelah briefing, tim MeAN kembali beraktivitas menyiapkan bahan dasar untuk kegiatan esok harinya. Tim MeAN terjaga hingga dini hari untuk merampungkan seluruh bahan yang akan digunakan.
Burung pipi mulai berkicau, lingkungan sekolah pun mulai tampak terang menandakan waktu pagi hari telah terbit. Tim MeAN mulai bersiap, menyiapkan segala sesuatu untuk kegiatan pagi hari. Kegiatan di hari kedua diawali dengan senam pagi “Indonesia Bersatu” bersama peserta didik, guru, warga, dan tim MeAN. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kebugaran jasmani sekaligus membantu pertumbuhan dan perkembangan serta melatih gerakan motorik khususnya pada peserta didik. Setelah aktivitas senam usai peserta didik diarahkan untuk kembali ke kelas masing-masing. Pada kegiatan kedua, peserta didik untuk kelas rendah diberikan materi pembuatan kelas literasi, yaitu dengan cara menghias ruang kelas dengan menempelkan beberapa alat peraga di dinding kelas, misalnya pohon abjad yang bertujuan agar peserta didik mudah menemukan dan menghafal abjad. Sedangkan untuk kelas tinggi peserta didik diarahkan untuk membuat pojok baca di ruang kelas masing-masing. Tujuan dari pembuatan pojok baca agar peserta didik merasa nyaman dan betah di ruang kelas untuk menghidupkan aktivitas literasi. Dalam pojok baca ini juga tersedia kamus ungkapan. Adapun bahan yang digunakan dalam pembuatan pojok baca adalah bambu, tali, terpal plastik, dan kertas manila. Kertas manila ini diperuntukkan untuk membuat kamus ungkapan yang dipasang pada pojok baca.

Setelah kegiatan kedua rampung, dilanjutkan dengan menggiatkan aktivitas literasi kelas bawah. Agnesiani, S. Pd, Gr., memberikan materi kepada peserta dengan menggunakan media bigbook agar memudahkan peserta didik dalam membaca dan menyimak pembelajaran sebagai upaya menggiatkan aktivitas literasi kelas bawah.

Sebelum penutupan MeAN digelar paserta didik menampilkan bakat dan minatnya, diantaranya menari Sumba, pembacaan puisi, vocal group, dan nyanyi solo. Setelah semua pertunjukan usai acara penutupan pun dilaksanakan. Dalam acara penutupan, untuk mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan MeAN GGD Sumba Timur dan Masyarakat SM-3T Institute menyalurkan bantuan buku dan seragam sekolah kepada peserta didik SDN Matawai Kurang. Setelah seluruh rangkaian penutupan usai, tim MeAN bersama peserta didik, warga, dan guru-guru SD-SMP Satap Matawai Kurang melakukan foto bersama. Setelah itu, tim MeAN kembali ke Waingapu untuk menyiapkan agenda selanjutnya di Sumba Barat Daya.
Reportase: Tim reportase GGD Sumba Timur
Editor: Tim editor MSI







