Cinta Guru SM3T Kepada Anak-anak Sumba. Buku ‘’Ibu Guru, Saya Ingin Membaca’’ bercerita tentang masa-masa awal keberadaan peserta SM-3T Unesa mengabdikan diri sebagai pendidik di sekolah-sekolah terpencil di wilayah Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman para peserta yang dituliskan dalam catatan pendek. Beberapa peserta menuliskannya cukup panjang. Ratusan tulisan tersebut dirangkai dalam satu kesatuan cerita yang diperkaya dengan pengalaman langsung penulis terjun ke lokasi pengabdian.
Cerita diawali dengan awal kedatangan peserta yang terangkai dalam ‘’Menuju Dunia Lain’’. Berkisah tentang berbagai perasaan peserta menghadapi kondisi tempat pengabdian yang serba terbatas dan bahkan kekurangan. Sulitnya perjalanan menuju lokasi pengabdian, minimnya sarana dan prasarana, serta kondisi lokasi pengabdian yang terisolasi. Tidak salah jika sebagian peserta merasa masuk ke ‘’dunia lain’’. Dunia yang sangat jauh berbeda bahkan bertolak belakang dengan kehidupan yang mereka jalani sebelumnya.
Bagian berikutnya menuturkan pengalaman bathin peserta setelah menghadapi kondisi tempat pengabdian yang meski serba terbatas namun menyajikan semangat belajar anak-anak yang begitu tinggi. Kondisi itu telah merombak motivasi para peserta yang semula adalah iming-iming beasiswa PPG menjadi tekad bulat untuk mengabdi sebagai pendidik. Membantu anak-anak di tempat pengabdian yang dalam serba keterbatasannya namun haus akan pendidikan. Pengamatan langsung terhadap kurangnya pendidikan di tempat pengabdiann itulah yang menjadi Titik Balik motivasi para peserta. Keterbatasan di tempat pengabdian menjadi ujian bagi motivasi dan tekad para peserta. Mereka harus menjalani hari-hari dengan perjuangan demi mengatasi keterbatasan. Air bersih yang susah didapat, aliran listrik yang tidak setiap saat bisa dinikmati, dan perjuangan keras untuk sekadar mendapatkan sinyal telepon seluler adalah tantangan sehari-hari. Kondisi serba terbatas itu justru mengajarkan pada peserta untuk beradaptasi dengan cepat dan menguatkan ketahanmalangan mereka. Bahkan seorang peserta yang sebelumnya takut gelap dan tidak bisa tidur dalam kondisi tanpa cahaya, di tempat pengabdian dia berhasil mengalahkan rasa takut akan gelap tersebut dan bisa terlelap tanpa setitik cahaya pun. Di dalam keterbatasannya, Sumba Timur menyembunyikan anak-anak dengan potensi besar. Anak-anak dengan semangat besar untuk mendapatkan pendidikan yang selama ini, karena kondisi alam, sulit mereka dapatkan. Maka, kehadiran peserta SM-3T seakan menjadi penghapus dahaga bagi anak-anak tersebut. Semangat anak-anak itu di sisi lain mengirimkan energi positif bagi peserta untuk memberikan yang terbaik pada mereka. Keinginan untuk belajar, belajar, dan belajar telah menumbuhkan cinta di sanubari para peserta SM-3T kepada anak-anak Sumba Timur. Besarnya semangat belajar anak-anak itu terlihat dari antusiasme mereka untuk datang ke sekolah. Tidak sekadar datang mereka bahkan ‘’mendesak’’ gurunya untuk tetap mengajar meski sudah lewat jam belajar. Mereka bahkan secara eksplisit meminta guru untuk terus mengajar. Satu keinginan kuat anak-anak itu terlontar dalam ucapan lugu seorang di antara mereka. ‘’Ibu, saya ingin membaca.’’ Ucapan itulah yang akhirnya menjadi judul buku ini. Begitu besarnya cinta itu, sehingga para peserta rela menjalani hidup dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan asal tetap dengan mereka. Seorang peserta perempuan yang mengabdi seorang diri, menjalani hidup dan malam di aula sekolah seorang diri, pun tidak ingin dipindahkan karena tidak ingin meninggalkan dan jauh dari anak-anak yang sudah mencuri hati. Para peserta SM-3T Unesa sudah Terlanjur Cinta pada anak-anak Sumba Timur. Hidup dan berkarya di daerah dengan budaya yang berbeda tidak bisa dimungkiri memang memunculkan konflik. Setidaknya konflik bathin menyaksikan budaya dan kebiasaan yang berbeda. Konflik itu terasa berat bagi peserta manakala terkait langsung dengan pendidikan. Kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak, sistem pendidikan yang jauh dan bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pendidikan memicu konflik bathin bagi peserta. Di bagian ini, tergambarkan bagaimana peserta menghadapi dan menyelesaikan konflik-konflik tersebut. Bekal mereka adalah misi menjadi ‘’agent of change’’ bagi pendidikan di daerah-daerah 3T. Buku ini disusun ketika para peserta baru menjalani tiga bulan awal masa pengabdian mereka selama setahun. Meski begitu, para peserta sudah merasakan banyak pengalaman dan manfaat yang telah mereka peroleh. Setidaknya mereka telah belajar bagaimana beradaptasi di lingkungan yang serba terbatas. Mereka juga belajar bagaimana menyesuaikan diri di lingkungan yang dalam banyak hal berbeda dengan asal mereka. Mereka juga belajar bagaimana hidup mandiri. Pelajaran-pelajaran yang menurut mereka akan sangat bermanfaat dalam kehidupan mereka yang akan datang. Satu pelajaran yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman bahwa Indonesia itu begitu luas dan beragam. Mereka merasa beruntung karena ikut terlibat dalam upaya mempertahankan keberagaman itu menjadi satu kesatuan yang utuh bernama Indonesia. (*)







