Buku berjudul ToemBak I, Suluh di Nusa Nipa bercerita tentang perjalanan tujuh puluh pelakon pendidikan SM-3T UNM Jilid I Kabupaten Manggarai Timur dengan keunikan masing-masing. Kisah itu terangkai sebagai testimoni berkehidupan di daerah 3T selama setahun menghirup udara 3T dan menghembuskan apa saja yang bisa diberikan sebagai sumbangsih pada perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T.
Kisah-kisah itu dicatatkan dengan kisah perjalanan hidup perserta SM-3T selama setahun di bumi Flores. Kisah yang pastinya tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup.
Tinggal di Runus banyak memberikan pelajaran hidup tersendiri buat kami, khususnya saya sendiri, dari banyak kisah yang tertoreh di Tanah Langgasai, ada satu kisah yang tak akan mungkin pernah saya lupakan. Di saat saya dan beberapa teman SM-3T lainnya mendampingi tiga orang siswa kami untuk mengikuti lomba cerdas-cermat di tingkat kecamatan. Beberapa guru sebenarnya telah memberitahu kami untuk tidak mengikuti event tersebut, toh pemenangnya sudah diatur. Pasti sekolah yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi mengingat jarak ke Elar (ibu kota kecamatan) cukup jauh, dan alat transportasi sangat sulit. Kami harus naik oto ke Ruteng dulu (ibukota kabupateng Manggarai) dengan waktu tempuh dua belas jam kemudian di Ruteng kami naik oto lagi dengan waktu tujuh jam perjalanan ke Elar. Kalaupun ada kendaraan yang langsung ke kecamatan, itu hanya bisa ditempuh dengan menggunakan ojek yang biayanya cukup mahal yaitu Rp.200.000,00 per motor. Dan jika dihitung-hitung kami yang berangkat ke kecamatan ada delapan orang, bisa dibayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak sekolah. Sebenarnya ada oto (sebutan untuk alat transportasi umum di sana yang merupakan sebuah mobil truk colt diesel yang dimodifikasi untuk penumpang) yang lansung ke Elar, tapi karena pengaruh jalan yang rusak, jadi truk tersebut tidak masuk ke kampung kami. Otonya hanya sampai ke Raung, kampung sebelah, yang jarak tempuhnya jika berjalan kaki 4 – 5 jam dari tempat kami. Tetapi melihat semangat siswa-siswa kami, hal tersebut tidak menyurutkan niat kami. Setidaknya ini akan memberi pengalaman buat mereka yang katanya memang belum pernah ikut dalam lomba ataupun kegiatan yang diadakan di luar desa.
Dua hari menjelang hari perlombaan, kami berempat yang merupakan guru SM3T, Saya, kak Marwah, Udin, Akmal, Tamsil, dan seorang siswa kami, Ferthy, berangkat meninggalkan Runus sekitar pukul 17.00. Dua orang siswa kami yaitu Sinta dan Grein, diantar oleh keluarga mereka dengan menggunakan motor ke Raung. Di awal perjalanan semua baik-baik saja, kami menyusuri jalan dengan bersenda gurau sambil sekali-kali mengetes kemampuan Ferty, masihkah dia mengingat tentang pelajaran yang kami telah berikan atau tidak. Lelah belum terasa, apalagi jalan yang kami lewati menurun, jadi kami tidak harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Tidak berapa lama, kami berbelok masuk ke hutan. Katanya sih lewat jalan potong (istilah untuk jalan pintas) agar jalan yang kami tempuh tidak terlalu jauh jika dibandingkan melewati jalan desa yang selisih waktunya bisa sampai dua jam. Gelap pun mulai menyapa kami ber-enam. Cukup mengerikan sebenarnya untuk orang baru seperti kami berjalan menyusuri hutan di malam hari, apalagi kami hanya menggunakan sebuah senter yang cahayanya cukup redup. Sebenarnya waktu itu ketakutan sudah menghampiri saya, karena baru pertama kali ini saya berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh dan malam hari pula. Namun, saya bersemangat walaupun berbagai macam doa saya ucapkan dalam hati untuk mengusir ketakuatan yang se-dari tadi membayangkan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya tidak masuk akal.
Tidak berapa lama kami sudah keluar dari hutan dan kembali melewati jalan desa yang berbatu, gelap masih menyertai perjalanan kami, karena walaupun sudah menemukan beberapa rumah tapi suasananya masih menakutkan bagi saya, karena seperti yang kita ketahui, di kampung kami belum ada listrik. Tapi, yah lumayanlah, jika dibandingkan harus melewati hutan. Kamipun beristirahat sebentar, sembari menikmati bekal yang memang sengaja kami bawa untuk menemani perjalanan kami. Tidak berapa lama, kami bertemu denagn seseorang. Salah satu dari kami bertanya tentang tempat yang akan kami datangi. Jawabannya cukup mengecewakan, masih jauh katanya. Kamipun bergegas dan mempercepat langkah, agar tidak menginap di jalan.
Pukul 22.00 kami tiba di sebuah rumah yang akan kami tempati untuk menginap, di sana telah menunggu siswa kami yang mungkin telah tiba se-dari tadi. Kami langsung dijamu makan malam oleh pemilik rumah kemudian beristirahat.
Pukul 05.00 oto yang akan kami tumpangi telah menunggu di depan rumah. Kami pun bergegas naik ke kendaraan tersebut, karena hanya ada satu setiap hari, tidak bisa dibayangkan jika kami harus ketinggalan oto tersebut, entah berapa jam lagi yang harus kami tempuh jika berjalan kaki ke Elar.
Kami sampai di Elar tepat pukul 10.00. Di sana kami akan menginap di rumah salah satu teman guru kami, Bapak Tobias Ndiwal, biasa kami panggil Pak Toby, yang kebetulan asli orang Elar. Beliau telah sampai duluan, karena beliau sudah harus menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan lomba maupun hal-hal yang diperlukan di kecamatan.
Begitu sampai di Elar, kami pun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk sampai di rumah Pak Toby, karena rumahnya ternyata berada di puncak gunung. Memang waktu yang digunakan tidak terlalu lama, tapi pendakian yang harus kami lewati lumayan menguras tenaga. Sesampainya di sana, kami langsung dijamu oleh Pak Toby dan keluarga. Setelah makan, Bapak Toby berkata “jangan marah ya pak, bu, ini saya mau bilang sesuatu” dengan wajahnya yang cukup serius. Kami terdiam sejenak, sambil bertatapan satu sama lain “Ini saya juga baru saja pulang dari dinas kecamatan” sambung pak Toby. “Kenapa harus marah-marah pak? Inikan masih pagi” candaku pada beliau. “Sekali lagi maaf Pak, Bu, saya juga sebenarnya baru saja mengetahui hal ini setelah membaca surat yang saya ambil di dinas hari ini, tidak ada informasi dari dinas sebelumnya, lomba cerdas-cermatnya ditunda sampai minggu depan”. Kecewa, capek, marah bercampur jadi satu waktu itu. Rasanya mau menangis, tapi malu sama teman-teman lainnya. Untung saja lombanya hanya ditunda, tidak sampai dibatalkan. Setelah dua hari, saya memutuskan untuk pulang duluan bersama dengan dua orang teman saya via Ruteng karena kami juga kami harus mengajar, menunaikan tugas utama kami. Selebihnya tetap tinggal dan mendampingi siswa kami sampai waktu lomba yang ditetapkan tiba.
“Meski apapun, semangat itu harus terus dikobarkan”
Bagaimanakah keunikan kisah-kisah pelakon pendidikan lain yang turut mewarnai buku berjudul TOemBak I, Suluh di Nusa Nipa? Silahkan membaca dengan pemahaman masing-masing. Terima Kasih.







