Siapa yang tidak kenal Papua? Terpencil, perang antar suku, bunyi tembakan dan luncuran liar anak panah menjadi stigma menakutkan bagi siapa saja yang bertaut pikiran dengan Papua. Stigma itupulah yang hinggap di hati para Serjana mendidik (Sm-3T) jilid pertama UNM yang akan dikrim ke Papua. Berbagai macam penolakan baik secara halus maupun keras dari keluarga dan saudara yang mengetahui keinginan mereka untuk mengabdikan diri mendidik di Bumi Cendrawasi. Bahkan beberapa penolakan itu berhasil menciutkan nyali beberapa teman untuk berangkat ke Papua.
Adapun mereka SM-3T jlid pertama yang berangkat ke Papua, merupakan orang-orang pilihan yang menembus batas-batas mereka. Mereka menembus batas kematiannya karena siapapun tahu di Papua ini perang suku dan konfrontasi TNI/polisi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) tiap waktu selalau meminta tumbal darah. Menembus batas kenyamanannya, siapapun kita tahu bahwa Papua merupakan propinsi yang pengadaan sarana telokomnikasi, transportasi hingga penyedian air dan listrik masih kurang khususnya di daerah terpencil
Hampir 70 % dari SM-3T jilid pertama merasakan hal sama akan susahnya akses telokomunikasi ( Signal Hp) di tempat tugasnya. Sekali menelpon dalam seminggu atau memanjat pohon agar mendapatkan signal menjadi cerita tersendiri akan pengaksesan telekomunikasi . Persoalan yang sama pun terjadi pada soal transportasi, bahkan tak jarang mereka harus satu tempat dengan semen dan binatang ternak jika mereka bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya. Hingga-hingga pada persolan kebutuhan pokok ( air untuk membersihkan badan) mereka menembus batas kelaziman air yang sehat ( mandi dengan air sudah bercampur lumpur, lumut dan kecebong). Namun terlepas dari itu semua, mereka telah melaksanakan tugas mereka. Mereka telah menembus batas mereka. Menembus batas-batas Papua yang serba terbatas. Dan tinggal cerita mereka dalam buku “Menembus Batas Papua” ini.







