Nyanyian binatang senja kalah oleh bait-bait tawa. Keheningan hanyalah rupa yang terkadang hadir saat hati lara. Keriuhan terbangun membersamai tawa. Biru langit dan dan keindahan awan seakan jadi penyempurna. Namun mengapa selalu ada air mata? Cinta dan tawa tumbuh bersemi di spasi waktu yang tak lama? Mengapa perpisahan seakan menjadi belati yang menikam rasa?
Anak-anak yang harus menyeka air mata. Menabung lalu menumpahkan duka dengan tak rela. Memandangi kepergian Bapak dan Ibu Gurunya. Menyimpan cerita cinta, tawa, luka dan kesedihan yang telah dijalani bersama. Mengenang masa kala membangunkan pagi dengam seikat sayur dan ubi bakar yang lezat dan nikmat dirasa.
Buku ‘Menyemai Cinta di Papua’ adalah rangkaian kisah Juniar Sinaga ketika mengabdi di Lanny Jaya, Papua sebagai peserta SM-3T Angkatan III dari LPTK Universitas Riau. Membersamai anak-anak di sekolah. Membujuk agar mau menunaikan tugas mengambil rumput saat istirahat sekolah tiba. Membujuk agar bersekolah dan belajar. Bab demi bab, kisahnya berbeda. Kisah tentang kesedihan ketika siswa sakit, saat siswa meninggal. Tentang doa dan harapan siswa untuknya. Kisah tentang lelucon polos dan tawa ketulusan dari anak-anak yang begitu khas
Membaca kisah dalam buku ini mengajak kita menyelami ketangguhan sosok perempuan muda dalam menerjemahkan dedikasinya kepada negeri. Melakukan pengabdian terbaik bersama keluarga baru yang ditemui dan dengan tetap bersyukur walau berada di lingkungan tugas yang dipenuhi keterbatasan








👍👍