Rasa Haus akan Pendidikan Belum Terpuaskan. Buku kedua yang menuturkan kisah dan pengalaman para peserta SM-3T Unesa di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, bisa dikatakan sebagai lanjutan buku pertama ‘’Ibu Guru, Sayang Ingin Membaca’’’. Kisah yang tertuangkan di dalam buku ini lebih banyak tentang masa-masa akhir pengabdian yang puncaknya adalah saat perpisahan. Suatu momen yang mengharukan karena para peserta harus meninggalkan anak-anak yang telanjur mereka cintai. Rasa berat anak-anak untuk melepaskan guru-guru yang telah menghapus dahaga ilmu mereka, sehingga terucap dari mulut seorang siswa ‘’Jangan Tinggalkan Kami’’. Ungkapan yang akhirnya menjadi judul buku ini.
Yang membedakan buku pertama, tulisan mereka disampaikan sendiri-sendiri secara utuh. Tidak dirangkaikan dalam satu cerita sebagaimana buku pertama. Penulis hanya melakukan editing seperlunya dan menyusun tulisan-tulisan tersebut dalam rangkaian yang runtut sehingga tidak melompat-melompat. Tetap memiliki kesinambungan meski tidak dalam sebuah rangkaian cerita yang satu.
Kisah-kisah awal di masa pengabdian yang tidak sempat terpaparkan di buku pertama masih dimunculkan di buku ini. Kisah-kisah yang lebih mendalam da memunculkan konflik-konflik yang lebih tajam. Kisah seorang peserta SM-3T yang harus meyakinkan orang tua agar mengizinkan anaknya sekolah. Pengalaman seorang peserta yang harus berbenturan budaya tidak saja dengan masyarakat sekitar namun dengan sesama peserta yang berasal dari budaya yang berbeda. Juga benturan-benturan dengan kebijaksanaan sekolah yang dirasakan tidak bijaksana dalam kacamata pendidikan.
Buku ini menampilkan kisah yang lebih beragam tentang keseharian peserta mengajar di sekolah. Kisah-kisah unik, menarik, mengharukan, dan juga inspiratif. Tentang bagaimana siswa-siswa mengerjakan soal-soal UN dengan cara guru mendiktekan soal dan pilihan jawabannya. Itu harus dilakukan karena soal yang diantar ke sekolah hanya berupa selembar kertas berisi tulisan tangan hasil menyalin soal UN yang asli.
Setelah lebih dari setengah jalan menjalani masa pengabdian, para peserta mulai menemukan cara untuk mengatasi berbagai keterbatasan yang mereka hadapi. Mereka bahkan mulai merasakan keterbatasan tersebut sebagai kenikmatan. Selain itu, di balik keterbatasannya, Sumba Timur memang menyajikan kondisi alam yang mempesona. Alam yang masih alami dan eksotik itulah yang menjadi salah satu kenikmatan yang diperoleh para peserta di balik perjuangan bertahan hidup di lingkungan yang serba terbatas.
Dampak yang kemudian dirasakan para peserta adalah perubahan dalam menyikapi perjalanan waktu. Di saat-saat awal, mereka merasakan waktu berjalan begitu lambat. Rasanya, masa setahun itu begitu lama bagi mereka. Namun, seiring keberhasilan mereka beradaptasi dan merasakan kenikmatan di tengah keterbatasan, perasaan mereka tentang waktu berbalik 180 derajat. Mereka merasakan waktu berjalan begitu cepat. Tanpa mereka sadari, sudah tiba saat-saat mereka harus mengakhiri masa pengabdian. Tiba saatnya mereka harus meninggalkan tanah Sumba yang telah memberikan banyak pelajaran pada mereka. Meninggalkan anak-anak Sumba yang telah menorehkan cinta begitu dalam.
Ketika saat itu akhirnya datang, saat mereka harus meninggalkan tempat pengabdian, hanya keharuan yang berkembang. Perasaan berat menggelayuti mereka. Demikian juga perasaan para siswa, keluarga, dan masyarakat sekitarnya. Hari-hari terakhir mereka habiskan untuk terus bersama. Mereka enggan menghadapi hari esok yang berarti adalah perpisahan. Tidak puas mengucapkan selamat jalan di sekolah, tidak sedikit siswa atau orang tua siswa bahkan masyarakat yang mengantar para peserta sampai ke ibukota kabupaten di Waingapu. Padahal perlu waktu berjam-jam bahkan bisa berhar-hari untuk sampai ke sana.
Komunikasi pun masih terus tersambung ketika para peserta sudah kembali ke keluarga masing-masing di Jawa. Tidak sekadar bertukar kabar namun juga harapan agar mereka bisa bertemu kembali. Dari komunikasi itu makin terasakan makna ungkapan siswa-siswa di Sumba ‘’Jangan Tinggalkan Kami’’. Mereka tidak ingin peserta SM-3T Unesa yang setahun mendidik, meninggalkan mereka yang baru saja merasakan sedikit segarnya pendidikan. Rasa haus itu baru sedikit terpuaskan. Belum puas mereka mereguknya, namun harus menghadapi kenyataan sudah terpisahkan. (*)







