Setelah melaksanakan kegiatan kelas berbagi dan SM-3T Peduli bagi korban bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Gowa 9 Februari lalu, Masyarakat SM-3T Indonesia melalui Masyakarat SM-3T Institute (MSI) kali ini bekerja sama dengan Guru Garis Depan (GGD) Kabupaten Jeneponto kembali melaksanakan kegiatan “Kelas Berbagi dan SM-3T Peduli” di Kabupaten Jeneponto, Rabu (13/02/2019).
Dusun Sapiri, Desa Sapanang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan adalah daerah sasaran selanjutnya. Berjarak 97 km dari pusat kota Makassar, dengan akses jalan provinsi yang cukup lancar.
Pukul 08.25 WITA, tim MSI berangkat ke Kabupaten Jeneponto dari Basecare Edukasi Indonesia Pusat Koordinasi Makassar. Tim dipimpin langsung oleh direktur Masyarakat SM-3T Institute (MSI) Akhiruddin, S. Pd., M. Pd., Gr., menuju lokasi dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Pukul 11.30 WITA, tim MSI terlebih dahulu menyambangi kediaman salah seorang Guru Garis Depan (GGD) Jeneponto yang rumah dan keluarganya juga menjadi korban banjir bandang. Beruntung baginya, sebab pada saat kejadian, Selasa 22/01/2019 dia berada di lokasi penugasan.
“Di sini banyak mayat korban banjir yang ditemukan,” ujar Rahmah, S. Pd., Gr., sambil menunjuk sawah dekat rumahnya.
Beliau juga menyampaikan kepada tim, banjir pada saat itu setinggi 3 meter, menyapu banyak rumah. Bahkan kini sawah di belakang rumahnya, terdapat sebuah rumah yang terbawa oleh banjir tersebut.
“Kedua adik saya juga hampir menjadi korban, sebab pada saat kejadian adik saya, Misrah sedang mengendari motor dan terbawa arus. Beruntung ada warga yang melihat dan langsung menariknya, sedangkan motornya diikatkan di pohon. Berbeda lagi dengan adik saya yang laki-laki, pada saat itu dia pulang sekolah dan nekat melawan arus, dia sempat terbawa arus sebelum mampu diselamatkan oleh warga dengan tali,” ungkap Rahmah lagi sambil menatap adiknya.
“Sampai saat ini warga masih merasakan trauma mendalam, jika hujan turun maka warga akan berbondong keluar rumah dan bersiap siaga. Bahkan jika hujan mengguyur hingga malam hari, warga akan cepat mengevakuasi kendaraan mereka ke tempat yang lebih tinggi” lanjutnya.
Setelah berbincang sejenak, tim melanjutkan perjalan menuju ke lokasi “Kelas Berbagi dan SM-3T Peduli” di SD Inpres 201 Lengke-Lengkese, Desa Sapiri, Keluruhan Sapanang, Kecamatan Binamu dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan tim disuguhi dengan pemandangan sisa banjir bandang yang melanda warga.
Setibanya di sekolah, tim langsung disambut oleh pihak sekolah, sisa-sisa banjir di sekolah ini masih terlihat jelas. Bekas air dan lumpur yang hampir mencapai plafon sekolah, buku-buku basah berbalut lumpur, dan sampah yang terseret air masih berserakan di pelataran sekolah.
“Untung pada saat banjir terjadi, anak-anak sudah pulang sekolah. Jika tidak, kami tidak membayangkan berapa korban jiwa dari sekolah kami” ungkap salah seorang guru SD 201 Inpres Lengke-Lengkese.
Tim langsung melaksanakan kegiatan Kelas Berbagi yang dihadiri oleh peserta didik SD Inpres 201 Lengke-Lengkese, tim mengajarkan kepada peserta didik Mitigasi Bencana sekaligus memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengobati trauma mereka.
Tidak butuh waktuh lama, tim MSI dan GGD Jeneponto mengakrabkan diri dengan peserta didik. Berbagi cerita dengan mereka yang terdampak bencana, menumbuhkan keceriaan untuk mengurangi rasa trauma agar tetap bersemangat ke sekolah. Kegiatan Kelas Berbagi dilaksanakan dalam ruang kelas yang dihadiri 42 peserta didik.
Peserta didik terlihat begitu bersemangat mengikuti kelas berbagi, Akbar, S. Pd., Gr., alumni SM-3T menyampaikan kepada peserta didik bagaimana cara penanggulangan bencana agar mampu mengurangi resiko yang dapat terjadi disebabkan oleh bencana itu sendiri, sedangkan Akbar Hasman, S. Pd., Gr., koordinator Guru Garis Depan (GGD) Kabupaten Jeneponto memberikan motivasi kepada peserta didik, agar mereka tetap bersemangat menggapai cita-citanya meskipun pernah mengalami bencana.
Setelah kelas berbagi, kegiatan dilanjutkan dengan program SM-3T Peduli, bantuan berupa seragam sekolah untuk peserta didik SD Inpres 201 Lengke-Lengkese, diserahkan langsung secara simbolis oleh direktur Masyarakat SM-3T Institute Akhiruddin, S. Pd., M. Pd., Gr., kepada Kepala SD Inpres 201 Lengke-Lengkese dan perwakilan peserta didik.
“Tahun ini kami memiliki program Kelas berbagi dan SM-3T Peduli, Setelah sebelumnya, beberapa hari yang lalu kami menyambangi kabupaten Gowa, saat ini di Jeneponto, dan akan berlanjut ke Kabupaten Maros. Mudah-mudahan kedatangan kami ini bukan hanya sebagai simbolis namun juga sebagai inspirasi secara keseluruhan,” ungkap Akhiruddin, sebelum prosesi penyerahan seragam kepada kepala sekolah.
“Bencana Banjir yang setinggi 3 meter, mengakibatkan banyaknya fasilitas sekolah yang hancur, mulai dari pagar, ruang kelas, dan kantor. Akibat dari banjir bandang ini, tidak ada lagi barang yang tersisa karena terbawa arus, maka demi mempercepat proses belajar mengajar, saya mengharapkan bantuan dari pemerintah berupa buku-buku paket,” ungkap Syarifuddin Nurdin, S. Pd., Kepala SD Inpres 201 Lengke-Lengkese. “Tak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada Masyarakat SM-3T Institute yang telah memberikan seragam sekolah kepada peserta didik kami,” tutupnya.
Tim juga memberikan seragam sekolah kepada peserta didik SMP Negeri 8 Binamu yang terdampak bencana dengan menitipkan kepada salah seorang GGD yang mengajar di sekolah tersebut disebabkan peserta didik dari sekolah tersebut tidak dapat hadir.
Setelah melaksanakan kegiatan di SD Inpres 201 Lengke-Lengkese, tim melanjutkan perjalanan menuju SMK Negeri 1 Jeneponto. Sekolah tersebut masih di kecamatan Binamu, berjarak 5,4 KM dari SD Inpres 201 Lengke-Lengkese. Di sekolah ini ketinggian air juga mencapai 3 meter dan merobohkan pagar sekolah.
“Pada saat banjir bandang menyerang, peserta didik masih belajar seperti sedia kala, namun ketika air mulai naik, para peserta didik mulai menyelamatkan diri ke lantai dua dan adapula yang naik ke atap sekolah untuk menyelamatkan diri,” ungkap salah seorang guru.
Pada saat tim menyambangi sekolah ini, terlihat beberapa peserta didik masih membersihkan sekolahnya.
Peserta didik yang terdampak bencana banjir bandang, dikumpulkan di satu ruangan untuk diberikan materi Mitigasi dan diberikan motivasi oleh alumni SM-3T. Wajah-wajah mereka masih menampakkan kesedihan dan trauma mendalam disebabkan bencana tersebut.
Sebelum prosesi pemberian bantuan seragam kepada peserta didik, Direktur memperkenalkan kepada kepala sekolah dan peserta didik selayang pandang tentang SM-3T.
“Adik-adik semua ini ada hikmahnya, kita harus yakin itu, sepintar apapun kita, sekuat apapun kita, kita tidak bisa melawan yang namanya nasib, yang namanya takdir. Maka dari itu, selalu dekat pada sang pemilik takdir yaitu Tuhan, selalu dekat dengan yang menentukan ketentuan, karena kita tidak akan mungkin melawan takdir. Tuhan mengatakan wahai hambaku, kau memiliki kehendak, aku memiliki kehendak, tapi yang berlaku itu kehendakku. Jadi apapun peristiwa selalu disyukuri, diambil hikmahnya, dan kedepan kita mesti lebih waspada,” ujar Akhiruddin memberikan sambutan.
“Termasuk harus bersemangat karena kalau jika kita melihat siswa di Papua, kita mesti lebih bersyukur. Di sana mesti berjalan berpuluh kilometer untuk ke sekolah dan harus menyebrang pulau untuk bisa sampai ke sekolah, kita tidak boleh kalah semangat oleh mereka, jadikan persitiwa ini penyemangat bagi kita,” tutupnya.
Kepala SMK Negeri 1 Jeneponto mengucapkan terima kasih kepada Guru Garis Depan dan Alumni SM-3T yang tergabung dalam Masyarakat SM-3T Institute. “Ini adalah bantuan yang tak ternilai harganya kepada sekolah kami, dimana sekolah kami terdampak banjir bandang yang begitu dahsyat, dimana sekolah ini luluh lantak disebabkan serangan banjir tersebut dan saya sangat merasa terharu dengan adanya bantuan ini, karena disaat siswa kami membutuhkan, bantuan tersebut datang. Perlu diketahui bahwa salah seorang siswa yang ada di ruangan ini, ada yang rumahnya hanyut terbawa arus, juga beberapa hari yang lalu ada siswa yang datang tidak menggunakan seragam, melainkan menggunakan pakaian biasa, dan alhamdulillah hari ini, bantuan itu datang. Jadi saya berharap bantuan ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT membalasnya dengan amal ibadah,” tutup Abd. Karim, S. Pd., M. Pd.
Kemudian Akhiruddin menyerahkan bantuan berupa seragam secara simbolis kepada kepala SMK 1 Jeneponto dan perwakilan peserta didik.
“Terima kasih kepada MSI dan GGD atas bantuan seragam yang diberikan, saya sangat gembira bisa mendapat seragam dari MSI, dan terima kasih kepada SM-3T semoga bisa kembali mengabdi,” ungkap Muh. Ade Arfiandi Arifin, salah seorang peserta didik yang terdampak bencana banjir bandang.
Di lokasi yang sama, tim juga menyalurkan donasi kepada warga berupa handuk serta pakaian untuk anak-anak dan orang dewasa. Donasi tersebut disalurkan melalui salah satu rumah GGD yang dijadikan sebagai posko untuk keperluan koordinasi dan penyaluran bantuan.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada GGD dan Masyarakat SM-3T Institute. Semoga bantuannya bermanfaat bagi kami,” ujar Misrawati, warga Sapiri yang terdampak banjir.
Donasi yang disalurkan disesuaikan dengan hasil verifikasi data yang ditemukan oleh GGD di lapangan bahwa banyak peserta didik yang kehilangan harta benda berupa pakaian. Oleh karena itu, mereka mengusulkan untuk membawa bantuan berupa pakaian, terutama seragam sekolah.
”Kami harapkan Guru Garis Depan di seluruh Indonesia tetap menjunjung tinggi kebersamaan karena alumni SM-3T itu tidak hanya mengabdi, tetapi kita juga harus terjun ke lapangan membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah,’’ ucap Akbar, koordinator GGD Kabupaten Jeneponto.
Setelah mengunjungi Kabupaten Jeneponto, tim dari MSI akan menyambangi kabupaten selanjutnya, yaitu Kabupaten Maros.
Sebagai alumni SM-3T dan Guru Garis Depan, belum cukup rasanya jika pengabdian sebatas dedikasi dalam mengedukasi tanpa partisipasi aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, terutama kemanusiaan. Alumni PPG SM-3T dan GGD bersinergi, berdedikasi dan menebar maslahat.
Reportase: Tim reportase MSI
Editor: Tim editor MSI














