“Kepedulianmu telah menghadirkanmu di sana, harta yang diikhlaskan itu akan menjadi tangan-tangan kebajikan yang menguatkan Saudara kita yang sedang teruji”
Rabu 21 Desember 2016, banjir bandang tiba-tiba menerjang hingga mengapungkan dataran rendah kota Bima. Tak ada yang luput dari terjangan air bah itu, mulai dari rumah warga, perkantoran, pertokoan, bangunan sekolah bahkan jalan-jalan telah menjadi sungai yang menenggelamkan tempat aktivitas masyarakat kota Bima.
Berdasarkan informasi dari Bapak Salahuddin, salah satu peserta PPG prajabatan yang juga merupakan potensi CASN GGD II, dan info dari berbagai media mengenai kondisi banjir yang melanda kota Bima, Masyarakat SM-3T Indonesia tergerak hati untuk turun tangan dalam meringankan beban warga kota Bima. Seperti biasa, sekolah menjadi titik fokus bantuan SM-3T Peduli. Tim segera membeli peralatan sekolah seperti buku, alat tulis menulis, dan kaos kaki. Semuanya dipaketkan dalam goody bag.
Dalam kurun waktu 13 hari pasca banjir bandang, pada tanggal 3 Januari 2016, Tim SM-3T Peduli bergerak menuju kota Bima melalui pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. Perjalanan ditempuh sekitar 18 jam, setiba di pelabuhan Sape kota Bima, tim disambut oleh Bapak Salahuddin dan potensi CASN GGD II lainnya. Kami menuju rumah Ibu Lis Suryani yang juga merupakan CASN GGD 2016, di sana kami telah ditunggu oleh Pak Mahir, koordinator provinsi NTB, yang sedari pagi datang dari kota Lombok. Beliau juga membawa bantuan berupa alat tulis dan pakaian.Setelah segalanya siap, tim SM-3T Peduli bersama potensi CASN GGD II domisili Nusa Tenggara Barat menuju ke Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ilmi (sekolah pertama yang kami kunjungi). Sesampai di sekolah tersebut, kami dikagetkan dengan kondisi sekolah yang tak sesuai dengan pikiran. Kondisi sekolah begitu parah, pagar sekolah telah roboh, ruang kelas dipenuh lumpur setinggi betis terlebih dengan halaman sekolah yang penuh dengan sampah dan lumpur setinggi lutut orang dewasa, bahkan untuk membersihkannya harus dibantu TNI beserta tiga kendaraan alat berat. Memasuki lingkungan sekolah pun kami harus membuka alas kaki dan menggulung celana setinggi lutut. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Wakil Kepala Madrasah dan Direktur Masyarakat SM-3T Institute. Tak lama berselang, penyerahan bantuan dilakukan. Bantuan diserahkan oleh bapak Akhiruddin (Direktur MSI), Sudarwin (Penanggung jawab SM-3T Peduli), Mahiruddin (Koordinator Provinsi NTB), Salahuddin (Koordinator kota Bima) kepada pihak sekolah yang diwakili oleh Bapak Wakil Kepala Madrasah dan beberapa siswa MI Nurul Ilmi Kota Bima NTB. Waktu telah menunjukkan tengah hari, bantuan telah tersalurkan kemudian kami kembali ke kediaman Ibu Lis Suriani untuk beristirahat sejenak sembari mempersiapkan bantuan yang akan disalurkan berikutnya.
SDN No. 54 Kota Bima menjadi sasaran berikutnya. Sekolah dengan pagar yang telah rata dengan tanah menyambut kami, tak hanya itu, tetapi juga sarana dan prasarana di sekolah ini telah rusak seperti buku pelajaran, komputer, dan barang inventaris lainnya, gedung bagian belakang sekolah yang berada di pinggiran sungai telah roboh, dinding-dinding berwarna kecoklatan. Kondisi ini menunjukkan banjir bandang kala itu memang mengalir ganas.
Serah terima bantuan dari Bapak Akhiruddin kepada Kepala Sekolah menjadi pembuka penyaluran Bantuan SM-3T Peduli yang kemudian diserahkan langsung kepada siswa-siswi SDN No. 54 Kota Bima. Meskipun sekolah masih diliburkan pasca banjir bandang, tetapi masih banyak siswa yang bertempat tinggal di sekitar sekolah datang untuk menyambut dan menerima bantuan SM-3T Peduli. Siswa pun menerima bantuan dengan riang yang mereka tunjukkan dengan mengucapkan terima kasihnya kepada Masyarakat SM-3T Indonesia.
Pada prosesi penyerahan bantuan di dua sekolah tersebut tak lupa Bapak Akhiruddin menyampaikan bahwa bantuan ini hanyalah pembuka jalan, semoga dengan hadirnya bantuan ini dapat membuka mata khalayak ramai untuk turut andil meringankan beban saudara-saudara kita yang mengalami bencana di Kota Bima saat ini. Begitupun harapan kita bersama agar bencana ini merupakan bencana terakhir.
Reportase;
Tim Publikasi SM-3T Peduli







