Setelah hadir bergulat dengan serangkaian pilihan-pilihan nasib, maka menjadi peserta SM-3T adalah kemestian di sebuah fase kehidupan kami akhirnya. Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal adalah entitas yang sebenarnya terlalu mewah bagi kami untuk begitu saja menerimanya dengan sebuah kepercayaan diri tanpa menyertakan kesungguhan untuk lebih dari sekadar mempertanggungjawabkannya. Pada status Sarjana yang melekat pada kami adalah posisi rawan jika kandungan keilmuannya tidak selalu rajin kami munculkan. Pada etos predikatif Mendidik yang menjadi tugas mutlak kami merupakan kosakata multiinterpretasi untuk mengerahkan suprakualitatif kami, jika tidak ingin menanggung dosa sebab salah menerjemahkannya ke ranah praksis. Belum lagi, ketika keseluruhan resiko logis tersebut harus kami realitaskan pada Daerah 3T yang tidak pernah kami hadirkan dalam pembacaan dan pengalaman kami sebelumnya.
Dan perlahan demi perlahan, kami diperadakan pada sebentuk tahapan pengikisan teritori keterbatasan, melalui tempaan prakondisi; pembekalan dalam menyiapkan kualifikasi akademik, mental, fisik, dan survival (ketahanmalangan). Substansinya, kegiatan tersebut merupakan sketsa, miniatur, dan penggambaran awal tentang apa yang akan menjadi muatan proses kami selanjutnya. Pada akhirnya, pesawat yang akan memberangkatkan kami itu seakan memproklamirkan sejumlah tagihan, bahwa kumpulannya kami ini merupakan kumpulan disiplin keilmuan dan pemahaman berbagi yang cukup, bahwa interaksinya kami ini adalah interaksi keharmonisan dan jalinan kesahajaan yang lengkap, dan bahwa kontribusi kami nantinya yaitu kontribusi yang menyentuh setiap sisi komprehensif relung kemanusiaan. Aksentuatifnya pada kami sudah pasti memampukan diri kami mengartikulasikan seluruh tafsir kata “kami bisa” beserta internalisasinya pada sisi intrinsik dan ekstrinsik kata tersebut. Sekaligus untuk menguatkan masyarakat agar kelak lebih leluasa menyapa kami dengan seruan Pak dan Bu dengan konsekuensi denotasi identitas terburuk di belakangnya, jika sampai kami di mata dan hati mereka, tidak lebih dari manusia karbitan yang menjadikan kepesertaan ini sebagai “lubang tikus” pragmatisme jenjang karir.
Dan tepat ketika tekstualitas penanggalan menunjukkan nominal 17 di peng-angka-an bulan 12 pada regulasi tahun 2011, kami dalam kuantitas 60 peserta SM-3T UNM telah beralih lokasi untuk tiba di Kabupaten Sumba Timur, Bumi Matawai Amahu, Pada Njara Hamu; Mata Air Emas, Padang Kuda Terbaik. Dalam radius beberapa ratus meter saja sebelum pijakan pertama kami hentakkan, sudah menyeruaklah panorama kepunggawaan daerah ini yang menerbitkan beberapa angle kehidupan yang telah lebih awal memicu adrenalin keterlibatan kami. Kesertaan yang tidak dibolehkan mencemari sedikit pun sublimasi suci budaya daerah ini. Keberadaan kami yang bukan diharuskan untuk menyemarakkan suatu perhelatan kompetitif. Tapi persenyawaan dari determinasi unsur-unsur yang ekuivalen terhadap nilai-nilai dasar kerendahan hati keilmuan dengan kebesaran jiwa kultur kemanusiaan yang ada.
Pada proses awal dialektika dan subversi sejarah hidup kami terhadap segenap keluasan samudera ilmu yang ada di sini, justru tersirat indikasi kewalahan dalam menampung perangkat-perangkat dimensional kependidikan-apalagi pemetaan koordinat masyarakat dalam artian lebih luas- yang sungguh begitu khas dan compilcated. Kami harus kembali membuka buku di brankas keawaman kami untuk selanjutnya menyadari fungsi keberadaan ini tidak hanya sebatas mentransformasikan secercah pengetahuan tertentu, tapi lebih mengkhusus dalam meng-cover secara siklikal segmen-segmen konteks yang lebih filosofis. Bekerja, bekerja, dan bekerja demi penguatan internalisasi pendidikan di segala aktivitas masyarakat Sumba Timur, sebuah asas kontributif yang melahirkan grand identity keberadaan kami menjadi 60 Pekerja Pendidikan!
Banyak yang kami temukan di sini, anatomi panca indera kami memberlangsungkan sebuah kesepakatan dengan sebuah kosmos kultural-edukatif; mulai dari skala yang paling marginal sampai sentrum yang paling holistik sekali pun; bahwa Sumba Timur sungguh begitu perkasa dalam menyelenggarakan budayanya, sangat serius dengan ketinggian cita-cita mengejawantahkan etos kerjanya dan dengan kerendahan hatinya tulus berjuang naik ke permukaan kemaslahatan dari jurang berbagai ketidakmenentuan nasib yang selama ini membekam mereka -terkhusus untuk aspek pemenuhan hak-hak pendidikan-. Mata kami sudah terlalu terbiasa menyaksikan perih perjalanan anak-anak sekolah begitupun gurunya yang tidak disertakan kepada mereka sebuah siklus kemudahan akses. Telinga kami dengan seringnya menyimak kalimat-kalimat harapan yang dibentur-benturkan oleh ketakmencukupinya fasilitas belajar bagi mereka. Dan tak perlu untuk mengungkapkan -berkaitan dengan kondisi dasar hati kami- dalam mempubilkasikan secara eksplisit, apa hasil kontemplasi keprihatinan kami menyikapi itu semua? Karena yang harus kami utamakan adalah memprosesinya dengan kepastian akumulatif tindakan!
Sumba Timur yang mengampu icon Sirih Pinangnya; kode legitimasi perjamuan hangat saling berbagi dan memanusiakan ini merupakan mempelai elok nan subur yang selalu setia dipersunting oleh kehadiran Siri’ pertanggungjawaban kami. Siri’ yang dalam bahasa budaya masyarakat Bugis-Makassar tidak diterjemahkan hanya sebatas makna harfiah yang merujuk adanya pengkompensasian rasa malu, ketika gagal melanggengkan relevansi ucapan dengan perbuatan kami. Tapi lebih dari itu, Siri’ berarti strukturisasi perjudian harga diri, sekaligus kredibilitas Siri’ yang menjadi tolok ukur stratafikasi kualitas hidup, apakah kami bisa dikatakan manusia atau tidak?
Dari kemestian yang ada tersebut, menjadikan keseluruhan proses yang telah dan yang akan terlewati merupakan pengintegrasian komitmen, proses, dan sekelumit harapan.Dengan orientasi yang ingin selalu mengajak masyarakat sebagai warga belajar, peserta didik, sekaligus pemegang tertinggi kedaulatan negara ini untuk berpikir secara leluasa dan mandiri sehingga hak-hak yang mereka dapatkan selalu berbanding lurus dengan kewajiban yang sudah sedemikian lama mereka terapkan dengan begitu patuhnya.
Secara bersama dalam menyusun instrumen-instrumen analisis, merumuskan tawaran-tawaran solutif, sambil mengkaji gagasan-gagasan perubahan hidup yang berkesesuaian dengan cita-cita luhur daerah ini. Berbagai macam konsep, metode, dan strategi selalu hadir di lingkaran rembuk partisipatori kami dengan mereka untuk terus mencanangkan sebuah idiomatik agung bahwa Pendidikan itu merupakan sebuah Kebutuhan, dan bahwa Pemenuhan Hak-hak Pendidikan itu adalah Harga Mati bagi Tanggung Jawab Pemerintah di Negara ini!
Waingapu, 17 Juni 2012
(tepat enam bulan keberadaan kami)
Atas Nama
60 Peserta SM-3T UNM Kab. Sumba Timur







